SINGAPURA OMONGAN ORANG DAN YANG KULIHAT

Sudah lama saya ingin sekali berkunjung ke Singapura. Orang Indonesia selalu omong kota ini bersih.  Pada tahun 70an Singapura seperti kampungnya orang Indonesia. Waktu itu uang panas uapnya minyak bumi Indonesia membuat orang Indonesia yang kepercikan merasa gerah di negeri sendiri. Singapura tidak bedanya dengan kampung Sunda bagi para jebolan ITB Bandung yang selalu kembali ke Bandung hanya untuk makan tempe goreng atau tahu Sumedang.  Bandung kini jadi kota macet karena ulah mereka yang suka pulang kampung hanya untuk melepas rindu. Perusahaan besar Pardede kalau akhir tahun membawa seluruh keluarga besar berakhir tahun di Singapore. Hotel-hotel sudah dibooking untuk keluarga besar orang Medan yang satu ini.  Waktu itu Pardedetex namanya moncreng ditambah dengan klub sepok bola anak Medan yang dibiayainya. Hotel Tiara dan hotel Pardede adalah sedikit jejak betapa Opa Pardede pernah berdiri gagah dan bersuara lantang.

Tentang Singapura seorang alumni ITB yang pernah kerja sama, waktu itu saya bekerja di salah satu perusahaan tekstil interior, bilang dengan bangganya kalau dia jahit jas di Singapura. Saya juga ingat sayaa jahit jas nikah di Pasar Baru. Dan ketika saya harus bepergian ke Jepang bos saya meminta saya jahit jas di Sarinah. Semua yang berbau Singapura menjadi harum di Indonesia. Sampai sekarang Singapura betul jadi singa jinak yang terus menjilat bulu anak-anaknya dari Indonesia. Kita juga ingat Gayus yang ganas melahap uang hasil penggelapan pajak, dia luluh dipeluk induk berhati lembut Singapura.

Hari Sabtu pagi tanggal 13 November 2010 saya bangun pagi sekali. Kali ini saya mantapkan hati untuk pergi ke Singapura. Dengan bekal ticket pesawat sekali jalan saya pergi ke Singapura. Saya berusaha berpakaian rapih dengan baju lengan panjang dan sepatu mengkilat, siap bertemu seorang di salah satu bank di Singapura. Pesawat yang saya tumpangi penuh penumpang. Kecuali dua seat kosong untuk awak pada saat mendarat, semua kursi terisi habis. Di samping kiri saya dekat jendela ada sepasang anak muda asal Purwokerto. Lelaki di samping saya mengatakan keduanya untuk pertama kali ke Singapura. Ada kegelisahan bagaimana nanti mereka turun dan mencari hotel. Saya meyakinkan tidak ada masalah.  Pedagang handphone genggam yang ngaku sebulan paling banter laku 15 handphone itu bisa pergi plesir di Singapura.  Ketika saya hitung kalau marginya 15 -20%  dikurangi uang makan harian, kenapa anak muda ini mau libur di sana. Tetapi dia bilang masih ada keuntungan dari jual beli accessories.

Hampir semua penumpang pesawat yang saya tumpangi berpakaian ala kadar seperti pengunjung Taman Mini Indonesia Indah. Singapura masih menawan. Dari pesawat saya sempat melihat sekelompok bangunan bertingkat, apartment dan perkantoran. Kota dan negara itu masih sisakan ruang hijau disana-sini nampak dari udara. Sedikit pasir putih di bibir pantai, membuat saya ingat sejumlah pasir hitam sedotannya dari tanah negeriku yang berair banyak. Bibir pantai negeri ini terus tambah menjorok sementara zona halaman ibu pertiwiku semakin menyurut. Saya akhirnya mendarat di Singapura. Saya mulanya ingin memberi petunjuk pada dua anak muda itu.  Di pintu imigrasi yang saya lalui dilayani seorang perempuan muda agak tambun dan bermuka bulat berkulit gelap. Tak bedanya seperti weta-weta (saudari ) saya di Flores sana. Lalu saya bilang:” Hi you look like my sister”, kami bercanda sedikit. Saling memandang. Dan saya bilang saya punya grand-grand ancestor orang India. Segera dia menancap cap dan kami berpisah sambil senyum.

Lalu apa yang saya ingat dan catat tentang Singapura. Saya mau hemat. Seorang teman memberikan saya alamat One Raffles Quay lengkap. Saya satu kali perlihatkan alamat di HP. Saya segera paham untuk mendapatkan kendaraan umum paling murah. Dengan tiga dollar Singapura, saya bisa sampai ke tempat tujuan.  Sebagian waktu saya hanya berada dalam lorong. Ketika saya mau beli ticket, orang yang ditanya hanya berikan saya tukaran uang kecil. Saya lalu ke mesin beli tikcet. Ada seorang Indonesia, seorang ibu dia juga membeli. Melihat peta dan menyentuh lokasi memasukkan uang ke dalam mesin, keluar karcisnya serta uang kembali. Waktu mau masuk kereta, saya tanya mana. Ternyata saya sudah berhadapan dengan kereta yang nampak seperti tembok bangunan saja.  Di pintu dinding kereta di atas kepala ada peta route perjalanan. Setiap stasiun kerteta berhenti lampu menyala dan ada pemberitahuan nama stasiun. Ketika pintu akan ditutup ada pemberitahuan sekali lagi.

Ketika saya sampai tempat tujuan dan menyelesaikan urusan yang tak tuntas, saya kembali naik kereta yang sama kembali ke Changi untuk balik ke Jakarta. Saya lihat di semua toko-toko di lorong tempat lalunya kereta tak ada yang menarik. Semua sudah ada di Jakarta. Saya sempat masuk ke toko alat elktronik, lomputer, kamera dan sebagainya. Karena akan datang lagi, tidak ada satu yang saya beli. Sampai saya ingat bahwa saya harus beli sesuatu untuk kenangan dari Singapura.  Saya beli  Collins English Dictionary & Thesaurus, kamus bahasa Inggeris   seharga SGD $37.34 atau setara Rp. 244.000,- mungkin ini bakal buku yang paling mahal saya beli sepanjang hidup.  Itu oleh-oleh satu-satunya saya beli dan bawa dari Singapura. Disana saya juga tidak beli minuman dan makanan. Saya bawa roti dan dua kotak minuman dari Indonesia, saya makan di ruang tunggu bandara.  Sore hari  setelah kembali ke jakarta,  ada pertemuan dengan teman, maka kami duduk makan di Lapo. Selera dan kantongnnya  pas cocok di Lapo. Dan melanjutkan pertemuan di KFC duduk dan omong tentang bisnis di halaman UKI, Cawang sambil minum jus.

Saya sempat melihat dari kereta bangunan apartmen dengan penuh gantungan cucian bagaikan gantungan jemuran kerang di Lewoleba atau  ikan asin di Maundai dan Daja Puu Kungu. Banyak cucian dihampar begitu saja pada tembok teras apartmen. Jorok juga Singapura pikirku. Kereta juga melewati aliran sungai, sedikit beda saya tidak lihat busa dan sampah disana. Ada satu bangunan dekat lokasi EXPO, masih berupa rangka dasar.  Catatan lain adalah Singapura memang perkampungan China. Dalam kereta suara didominasi logat China.  Banyak pos dikerjakan oleh orang India, yang berkulit lebih gelap seperti wanita di loket yang saya sapa. Kesan multi ras di negeri ini ada. Bahasa Melayu dapat dilihat dari kata-kata aneh bagi gendang kuping Indonesia: Ketibaan (Kedatangan), Pintu Keluar Kecemasan di Kedua Hujung Keretaapi (Pintu darurat) , Butang Perhubungan Kecemasan ( Tombol alarm/Emergency Communication button) dan masih sejumlah kosakata Melayu lainnya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s