TUTU MBOTU PENU MBORA PENGAKUAN KEBERADAAN KAUM PENDATANG

Ikatan keluarga dalam masyarakat adat di Nagekeo  sangat dijaga. Dalam adat Nagekeo  ada  beberapa bentuk ikatan hidup bersama. Ada dalam bentuk kae ari sao tenda. Ada dalam udu eko (teritori), dan dalam hal ini ada udu goo eko bhoko(teritori sempit dalam satu kampung)  dan secara lebih luas ada ikatan kaum sebagai udu mere eko dewa. Kekerabatan kae ari adalah kekerabatan yang terjadi karena pertalian darah. Kakak dan adik (kae ari) dan semua turunannya menjadi satu. Kekerabatan kae ari tidak selalu berada dalam satu kampung.Dalam perjalanan waktu keluarga kae ari terus bertambah banyak.  Semua orang  dalam kelompok harus tetap diakui dan ditampung.  Kebersamaan dan kerukunan kelompok ini disebut pula kebersamaan dalam sao mere tenda dewa. Kebersamaan dalam sebuah rumah besar yang luas.  Kekerabatan yang lebih luas adalah kekerabatan yang melingkupi satu kampung kecil (udu goo eko bhoko) sedangkan kekerabatan yang lebih luas adalah kekerabatan dalam beberapa kampung adat. Karena luasnya maka disebut udu mere eko dewa ( wilayah yang besar).

Kekerabatan kae ari sao sao tenda adalah kelompok keluarga besar sedarah yang selalu saling membantu dan mendukung. Kekerabatan kae ari sao tenda tidak selama dari satu turunan. Sering ada orang-orang luar yang karena jasa bagi keluarga besar dan lama menetap di wilayah itu diakui sebagai kae ari.  Sikap bijak dan murah hati dari kepala soma (kepala keuarga besar kae ari) yang bersikap merangkul ini disebut keu mere kambe dewa (membuka lebar rangkulan). Orang-orang yang diterima ini diberi peluang untuk berpartisipasi dalam urusan adat. Mereka ikut membantu mengumpulkan beras atau hewan pada upacara adat. Dari mereka tidak dituntut sesuatu yang besar, tetapi  sekadar bukti partisipasi dan pengakuan keberadaannya. Bagi orang Nagekeo, berpartisipasi adalah kehormatan. Karena itu ada orang yang merasa tersinggung dan hina bila tidak diminta berpartisipasi. Rasanya seperti tidak diakui keberadaan atau dalam bahasa Jawa tidak diwongkan. Bantuan dari kaum pendatang dikenal dengan istilah tutu mbotu penu mbora ( membuat rata yang sudah menumpuk dan membuat penuh yang masih kurang).

Kebaikan dan kebijakan kepala soma keluarga terhadap kaum pendatang yang diakui sebagai kae ari dengan memberi lahan untuk membangun rumah dan kalau perlu  diberikan bidang tanah untuk menanam kelapa untuk sayur (nio tau ae uta). Atau juga diberi lahan untuk berkebun tetapi tidak memiliki.  Ini yang sering dikenal kemba mbue kaju. SEbidang tanah yang digunakan untuk menanam kacang hijau. Kemba artinya menutupi hamparan tanah dengan daun-daun kelapa kering. Setelah seluruh lahan ditutupi dengan daun kelapa kemudian dibakar. Setelah rumput-rumput dibakar bersama nyala daun kelapa, lahan ditanami bibit kacang hijau.  Kepemilikan lahan dengan cara seperti ini kemudian timbul masalah di dalam masyarakat adat setelah beberapa generasi. Hal ini akan dibahas nanti berkaitan dengan apa yang disebut ” nio tiko eu tako”.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s