OTAK GURITA DI NAGEKEO

Gurita, binatang yang satu ini di Eropa begitu tersohor karena  kemampuan luar biasa untuk meramal. Berita keistimewaan binatang laut  tanpa tulang ini mengisi media dunia terutama pada perhelatan bola sepak paling akbar di Afrika. Gurita yang menghuni sebuah wadah air sempit dengan dua tempat makan menyedot perhatian. Pilihan tempat makan menunjukkan pilihan sang juara. Dan “kebetulan” semuanya benar.  Kehadiran Paul, si gurita ajaib ini melampaui akal sehat. Siapa bisa memprediksi sesuatu yang belum terjadi? Tetapi makhluk lemah ini dalam diam menunjukkan kebolehannya.  Sayang seribu sayang,  nasib Paul berujung dalam lemari pendingin. Dia ditemukan mati dalam wadah tempat tinggalnya. Dan ada kabar bahwa Paul akan dimakamkan dan diberi penghargaan melalui bangunan khusus.

Beda dengan orang Eropa, orang Nagekeo menyebut gurita atau kubi dalam bahasa setempat adalah makhluk dengan tingkat kecerdasan paling terbatas. Karena itu sering di dengar:” ote kubi, kumu tuu mbee (otak gurita, sangat bodoh).  Kubi atau gurita merupakan simbol kebodohan. Keterbatasan kecerdesan gurita nampak ketika ada orang ingin menangkapnya.

Perlengkapan penangkap gurita sangat sederhana. Yang pertama kacamata selam. Orang kampung saya membuat sendiri rangka kacamata berbentuk seperti mangkuk lalu ditempel kaca bening. Kaca bening ditempel dan dilem dengan menggunakan  semacam perekat berwarna hitam berasal dari kotoran atau ludah serangga  seperti lalat hitam yang menempel pada pohon. Sisa kotoran atau ludah lebah berwarna hitam disebut tai su’a.  Selama mangkuk kacamata menempel pas pada lingkaran mata maka aman, karena tidak ada peluang air memasuki mata. Tai su’a mantap untuk itu.  Selain kaca mata penyelam melengkapi diri dengan rami ( berupa besi behel sepanjang 50 cm yang dipancangkan pada hulu dari kayu. Ujung besi sedikit lengkung.

Mencari  gurita  (nira kubi) dilakukan sambil berenang dengan separuh muka tertutup air. Air laut di kampung kami sangat jernih, sehingga dengan mudah pergerakan gurita bisa dipantau. Bila sudah melihat gurita, maka pencari gurita akan menyelam (sobhe). Terkadang mereka menyelam sambil mengejar gurita yang terus menyirami tinta hitam sambil lari ke sarangnya (ro’e kubi). Pencari gurita yang pengalaman sudah tahu persis dimana ro’e kubi. Tempatnya biasa di lubang batu atau di sela tumpukan batu koral.  Penyelam dengan sangat mudah menangkap kubi. Hanya dengan menyorongkan ujung besi, gurita bereaksi meraih kawat besi itu. Penyelam kemudian menyorongkan ujung besi dan mengaitkan pada kantong tinta gurita.  Gurita memilik kantong berisi zat berwarna hitam (la kubi). Ini dimanfaatkan sewaktu-waktu untuk mengelabui musuh. Aktivitas gurita menyorongkan tentackle (jari-jari) pada besi dari penyerangnya ini dianggap sebagai kebodohan. Dari sini muncul istilah ote kubi (otak gurita), super tolol. Sesuatu yang sungguh berbeda dengan Paul gurita peramal nasib klub sepak bola. Lain padang lain pula belalangnya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to OTAK GURITA DI NAGEKEO

  1. Mosadaki says:

    ote kubi… terkadang sterotype yg sdh membumi di selatan nagekeo… tapi belum tentu benar… krn berdasarkan pengalaman.. guriota lbh cerdas.. dy bisa menyemprotkn tinta hitamnya utk melindungi diri.. atau melilit msuh2nya dengan menggunakan kaki2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s