MBAH MARIJAN MASIH HIDUP SETELAH LETUSAN

Siapa tidak mengenal tokoh Marijan. Dalam iklan minum penambah tenaga, Marijan disandingkan dengan Petinju dunia  dan tokoh binaragawan top Indonesia.  Mbah Marijan tahu gunung Merapi bukan sekedar gundukan bukit batu dan pasir biasa. Ini adalah gunung suci yang punya singgungan dengan Keraton dan pantai atau laut selatan. Laut juga bukan sekedar air di sebuah cekungan tanah tetapi punya roh dan kekuatan luar biasa. Tidak ada orang yang punya kuasa memegang kunci laut. Tetapi yang jelas Mbah Marijan diangkat sebagai juru kunci gunung Merapi. Sebagai orang luar Jawa, apa lagi yang tidak masuk kelompok pencinta alam, saya tidak mengenal tokoh ini. Tetapi tokoh ini menjadi sangat terangkat ketika dia berkali-kali  berseberangan pendapat dengan para ahli gunung berapi.  Mbah Marijan benar.

Rabu Sore 27 Oktober 2010, saya ditelepon oleh seorang teman orang Jawa. Dari percakapan kami mengarahkan saya pada sebuah kesimpulan, percaya saja Tuhan masih ada dan berkuasa. Kami juga akhirnya menyinggung Mbah Marijan, dia terlalu percaya diri. Semua omongan para ahli gunung berapi dianggap angin yang sebentar berhembus lalu mati. Mbah Marijan seolah peramal handal tentang gunung Merapi. Bisa saja masuk akal. Kebersamaan dan kesatuan diri Mbah Marijan dengan alam, membuat dia lebih peka membaca dan merasakan semua aktivitas lingkungannya. Mbah Marijan telah menjadi satu dengan alam. Dia adalah bagian dari alamnya.

Saya pernah berkunjung dan bermalam di tengah masyarakat Badui di Banten.  Saya pernah menikmati keheningan malam di sana. Sebuah malam tanpa cahaya dan bunyi. Mereka sangat yakin bahwa Kenekes menjadi pusat jagat raya.  Karena itu segala tradisi dan keaslian; untuk tidak mengatakan kekunoannya  harus dijaga.  Mbah Marijan sebagai juru kunci Merapi, yakin sekali bahwa Merapi adalah pusat jagad di tanah Jawa.  Dia adalah penjaga kunci Merapi. Akal sehat mengisyaratkan  kita  untuk bertanya apakah gunung sebesar itu masih perlu ada penjaganya?  Apa yang mau dijaga? Sri Sultan HB X mengatakan Mbah Marijan bukan juru kunci Merapi menyiratkan bahwa memang Merapi tidak memerlukan tukang jaga dan pemegang kunci.  Karena menurut Sri Sultan Mbah Marijan adalah juru kunci Keraton untuk upacara di gunung Merapi. Merujuk pada upacara Kraton di gunung, dapat kita pahami keteguhan Mbah Marijan betapa secara rohaniah ia bersatu dengan Merapi.

Keyakinan yang begitu luar biasa membuat Mbah Marijan berkaca mata kuda untuk berteguh pada pendiriannya. Mbah Marijan enggan turun dari tempat  yang begitu berbahaya, karena  merasa ada tanggungjawab atas Merapi.  Jika meninggalkan Merapi berarti dia meninggalkan tanggungjawab.  Mbah Marijan sendiri mengungkapkan melalui sebuah stasiun televisi swasta  bahwa  dia dan merapi ibarat jiwa dan raga. Jiwa harus bersatu dengan raga. Pertanyaan kita mana yang raga dan mana yang jiwa? Kalau Mbah Marijan adalah raga, maka Merapi adalah rohnya.  Mbah Marijan telah pergi, Merapi tetap tegak, roh dan raga telah berpisah. Kalau Merapi tetap ada berarti Marijan hanyalah raga. Raga boleh lenyap, tetapi rohnya tetap ada dan berkuasa.  Merapi masih saja menampilkan roh amarahnya. Wedhus gembel ibarat dengus napas murka dari pengembaraan roh yang telah terpisah dari raga  dan terus bergetayangan mencari raganya, sebuah wadah baru. Siapa pengganti Mbah Marijan, yang siap menjaga kedamaian roh Merapi?

Sikap Mbah Marijan telah menegasi akal sehat kita. Dalam beberapa hal beliau benar. Tetapi kali ini dia seperti Paul si Gurita peramal sepak bola yang mati dalam  kesempitan kolamnya, demikian Mbah Marijan menerima nasib serupa. Paul sang gurita yang sekarang masih dalam lemari beku akan dimakamkan secara istimewa. Mbah Marijan saya yakin akan terus hidup dalam ambigu sikap modern dan mistis orang Indonesia. MBAH MARIJAN masih terus  hidup  untuk mengingatkan kita semua bahwa tak ada yang bisa lawan bila murka Allah itu datang.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in PERJALANAN HIDUP, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s