JAKARTA MACET DAN MATI

Ketika saya berkunjung ke Kuching Malaysia, saya mengagumi jalan-jalanya yang mulus dan teristimewa lengang. Pada malam hari saya tidak melihat ada orang yang melintas di jalan-jalan raya. Seorang Indonesia yang saya jumpa mengatakan kalau yang ada di jalan malam hari itu pasti orang Indonesia.  Seorang sahabat saya Albert Tiong bercerita dia tidak tahan berada di Jakarta. Dia bisa mati cepat. Saya tanya apa alasannya. Macet.. saya tidak kuat menghadapinya.

Saya sering mendengar keluhan teman-teman saya orang Korea. Jakarta macet sekali. Ketika saya di Korea, saya ingat keluhan teman saya yang Korea  di Indonesia .  Di Seoul kota pusat pemerintahan Korea Selatan itu juga macet luar biasa teristimewa pada sore hari. Orang Jepang juga tahu di Tokyo ternyata ada kemacetan.  Memang kemacetan adalah tanda kemajuan besar dalam pembangunan bidang ekonomi.  Jumlah pengguna dan pemilik kendaraan bertambah banyak. Artinya ada peningkatan daya beli. Yang membedakan antara Seoul, Tokyo dan Jakarta adalah sikap orang di jalan raya. Dua kota itu orang tetap taat aturan, sementara di Jakarta setiap orang punya aturan.

Jakarta akhir-akhir ini sudah seperti sebuah gudang atau bengkel penuh kendaraan. Jalan-jalannya padat dengan kendaraan tanpa bisa bergerak.  Kemacetan itu sudah menjadi masalah tak terjawab. Kita tidak tahu lagi apa yang mau diatur. Jumlah kendaraan, luas dan ruas jalan, disiplin manusia atau apa lagi yang harus dibenahi? Kemacetan semakin menjadi-jadi sejak China menyerbu negeri ini dengan produk kendaraan roda dua murah. Pihak bank dan keuangan melihat sebagai ceruk penampung keuntungan. Prosedur pemberian kredit dipermudah dan jadilah jalan raya kita menjadi tempat tumpahan produk China di samping produk-produk yang sudah ada di negeri ini. Yang menjadi masalah adalah kehadiran kendaraan roda dua menjadi pemicu perobahan pola tingkah laku manusia Jakarta.  Pengendara sepeda motor yang dulu dibatasi usianya, kini pemerintah atau aparat sudah menyerah pada keadaan. Anak Sekolah dasar juga bisa berkendara dengan leluasa tanpa ijin. Para pengendara kendaraan roda dua meraja di jalan, kita  kenal dengan geng motor, yang tunggu saat sepi membuat sensasi untuk uji nyali melalui adu cepat.  Yang paling menyebalkan bahwa para pengendara sepeda motor sudah menjadi manusia tak ada sopan santun di jalan. Tidak ada satu aturan pun yang dipatuhi selama keamanannya dirasa (rasa-rasa) aman.  Yang penting dirinya sendiri saja.

Kota Jakarta pasti akan dikenang sebagai kota macet dan mungkin kelak dikenang sebagai kota mati. Ini yang paling kita takuti, para investor asing akan meninggalkan tempat ini. Karena segala sesuatu akan menjadi lebih rumit dan berada dalam ketidakpastian. Waktu adalah uang menjadi waktu terbuang.  Tak ada yang patut disalahkan, yang jelas ini adalah masalah dan pasti harus ada solusi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in EKONOMI, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s