ORANG NAGEKEO BERKEBUN

 

TOWA MBORU

Wajah seorang petani Mauromba

Kalau kita bertanya apa pekerjaan orang Betawi, maka jawabnya pedagang. Dan benar tertera dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP) pekerjaannya pedagang. Kerjanya ya jelas duduk, omong-omong dan kalau perlu jalan-jalan. Yang mereka dagangkan adalah buah-buahan  sekali setahun bukan dari hasil kebunnya. Kalau dari lahan sendiri itu hasil usaha leluhurnya.  Hal serupa yang kita lihat di sekitar Aegela atau Boanio. Banyak laki-laki duduk dipinggir jalan berselimut. Kalau ditanya pekerjaannya apa, maka jawabnya petani. Pekerjaan utama duduk, omong-omong dan juga jalan-jalan. Yang lebihnya orang Nagekeo adalah sibuk bila ada urusan adat. Mereka mimiliki semuanya yang dibutuhkan secara instant.

Kami punya seorang adik yang tinggal di kampung. Pekerjaan adik saya petani dengan aktivitas harian mirip orang Betawi dan pasti setali tiga uang dengan pemandangan yang kita lihat dari pantai Selatan sampai Utara Nagekeo. Anda berjalan dari Kekakodo sampai Aegela. Sepanjang jalan akan kita berjumpa dengan sekelompok orang yang mengaku petani dengan pekerjaan utama duduk dan omong-omong. Malah di banyak lokasi di pantai selatan ada orang yang main kartu sepanjang hari dengan bayaran hukum gantung. Bukan hukum gantung mematikan, tetapi menggantungkan segala benda pada kuping mereka.

Petani pasti ada kaitan dengan berkebun atau bekerja di kebun. Adik saya kemarin menelpon saya dan memberitahukan bahwa dia akan menyiangi lahan. Dia memakai tenaga 20 orang dengan bayaran Rp. 40.000, per hari dengan  makan dalam. Artinya termasuk makan. Keluarga yang punya kebun menyiapkan makan.Berita kepada saya berbuntut jelas meminta uang.  Ada kebiasaan adik saya kalau ada sejumlah orang dia pasti menyembelih babi kecil. Orang kampung kami kalau makan daging akan selalu ditambah minuman tuak dan harus dibeli. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bisnis, saya menghitung untung rugi. Mengeluarkan uang sebegitu banyak, berapa penghasilan yang diharapkan? Pada kesempatan lain, saya pernah menyaksikan kebun adik saya ditanami jagung dan dikasih pupuk. Ketika pemupukan saya hadir. Ketika saya melewati kebunnya ada beberapa orang sedang melubangi tanah dan menanam pupuk. Saya ke pondok,  adik saya sedang lelap. Waktu itu mereka  menyembelih seekor babi kecil. Karena tinggal agak lama di kampung saya masih sempat mendengar bahwa adik saya memanen jagungnya. Ternyata dia mengundang beberapa kerabat ikut memetik dan pasti mereka mendapat bagiannya, termasuk makan bersama. Adik saya tidak selayaknya petani tetapi  seperti boss saja wira wiri tidak langsung ikut bekerja.

Bertani atau berkebun di kampung-kampung Nagekeo sesungguhnya hanya sekedar menyatakan keberadaannya sebagai petani. Bertani atau berkebun hanya jadi alat bukti bahwa seorang memiliki harkat, punya uma lema (kebon) atau mbunggu dara (ternak). Bertani atau berkebun tidak menjadi sebuah mata pencaharian yang produktif menghasilkan keuntungan dan ketahanan hidup. Karena itu tak heran kaum tani Nagekeo yang selalu mampu memiliki segalanya instant itu secara ekonomis tidak memiliki ketahanan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ALBUM KENANGAN and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s