DUA GEMBOK PENGAMAN PAGAR RUMAH

Pada mulanya saya ingin merahasiakan. Rumah saya di masuki maling. Semua isi lemari ditumpahkan diatas tempat tidur dan lantai. Lemari pakaian dan semua rak-rak plastik diobrak abrik tuntas. Papan pada rak tingkat paling bawah lemari dicungkil. Sebuah laci dari lemari plastik dari salah satu kamar rumah kami digelandang dan ditaruh di lantai ruang keluarga dekat televisi. Sebuah prahara besar. Satu pasangan baru nikah yang bersama kami keluar rumah mengikuti pertemuan doa diminta datang. Dua pasangan keluarga saya diminta datang. Seorang adik saya yang sedang santai bersama keluarga di Anyer diberitahukan. Saya minta kepada keluarga muda itu untuk tutup mulut. Jangan dihembus berita ini.

Sepanjang malam setelah kejadian itu saya sulit tidur. Saya pikir nyawa saya yang dicari. Dengan melihat orang membongkar pintu rumah kami dan mencungkil dasar lemari, pikir sang penjang tangan, masih ada harta berharga yang diraih.  Kami bukan orang yang punya harta. Jadi sang maling hanya mengambil Rp. 200.000 uang yang disiapkan untuk suatu keperluan.  Muingkin karena buru-buru dia hanya sempat membongkar satu ruang tidur, walaupun lebih luas tetapi ini ruang tidur anak kami, yang kadang-kadang jadi ruang tidur tamu.

Saya akhirnya membongkar rahasia.  Saya pikir ini pasti ulah maling kampung warga tetangga. Pada saat arisan bapa-bapa saya angkat bicara. Saya menghimbau agar semua warga waspada. Maling ternyata sangat dekat dengan kita semua. Maling sudah pasti adalah warga Rukun Tetangga kita.  Buktinya dia mengambil waktu sangat pendek untuk mengobrak abrik rumah.  Saya lalu memuntahkan semua kisah prahara di rumah kediaman kami. Waspada kataku. Keesokan harinya berita meluas dalam Rukun Tetangga kami bahkan sampai ke wilayah sebelahnya.  Isteri saya menjadi lebih takut meninggalkan rumah sendiri. Pagar rumah kami mulai digembok. Anjing kami yang biasa selalu menggonggong dari balik jeruji sekarang dilepaskan tidur diatas bangku teras. Rumah-rumah tetangga semakin diperketat keamanannya. Rumah keluarga tetangga saya, pagar rumahnya diamankan dengan dua gembok.  Saya juga mulai lebih waspada. Tidak lagi santai gaya ata Lomba ta ngawu mona (orang Romba tak punya harta), yang rumahnya tak pernah dikunci sepanjang waktu.  Ketika kami kecil rumah kami tak pernah dikunci. Dasar orang kampung, kata si maling.  Saya hanya pindah tempat ke kota, tetapi masih tak rubah kebiasaan kampungnya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to DUA GEMBOK PENGAMAN PAGAR RUMAH

  1. Lukisan says:

    bagus juga tuh ide nya?tapi awas maling pintar,
    kalo bisa memelihara hewan buas biar maling tak berani masuk,hehehehe:D

  2. Tanagekeo says:

    @ Lukisan: Urusan dengan binatang kita nonton di televisi ” When the Pet goes wild” ternyata tuannya bisa jadi koraban binatang peliharaan yang jinak.
    Itu saja sudah berabe, bagaimana kalau si buas. Syukur jadi senjata pelindung, tapi bagaimana kalau dia makan tuannya. Ini benar senjata makan tuan… Ya udah jangan yang buas-buas dah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s