ATA LOMBA dan MA’U LOMBA

Ata Lomba adalah kelompok masyarakat adat di pulau Flores, yang berada di wilayah kecamatan Keo Tengah, Kabupaten Nagekeo. Nama Lomba kemudian oleh orang Ende menyebutnya Romba yang berarti insang. Apakah ini berkaitan dengan insang ikan? Yang jelas wilayah ini berada  persis di bibir pantai selatan, yang tekenal dengan garangnya hempasan ombak laut Sawu. Mauromba artinya pantai (ma’u) yang penuh dengan tebaran insang ikan (lomba).

Pantai ini dulu menjadi singgahan nelayan dari Bugis.  Para nelayan Bugis yang tangguh dan terkenal dengan perahu phinisi berukuran kecil. Mereka melayari pesisir-pesisir pulau sambil menangkap ikan dan mengeringkannya. Menghindari ikan dari pembusukan, insang biasanya dikeluarkan dan dibuang saja di atas batu-batu di pinggir pantai. Ada kemungkinan nama kampung ini diberikan oleh para pelaut pendatang baru yang melihat  tumpukan insang ikan (lomba) yang berserakan di pantai. Pelaut-pelaut  pendatang baru lalu mengenang tempat itu dan member nama pantai insang (mau’lomba).

Dibibir pantai pada saat pasang surut ada banyak aliran air gunung yang nampak di pasir atau disela batu. Dengan sedikit mengangkat batu-batu kecil sampai menemukan pasir akan keluar semburan air tawar, yang mengalir dari gunung.Dalam bahasa setempat disebut ae kongga. Penduduk lokal biasanya mandi air laut setelah itu badannya dibilas dengan ae kongga untuk menghilangkan lengketan garam pada tubuh.  Air ini biasa dipakai untuk mandi  tapi  dalam keadaan terdesak pelaut memanfaatkan sebagai air minum.

 

WARGA BUGIS PENDATANG

Ada satu keluarga Bugis yang berdiam di tanah Romba. Rogo Rabi bersama isteri dan beberapa pelaut. Rogo membawa serta saudarinya Ito Rabi dan  Boti Bartaso. Rogo Rabi tinggal di Mauromba (Romba wena).  Banyak orang bercerita bahwa ada tempat mandi Rogo Rabi di pinggir pantai, dimana ada sebuah sumur yang dangkal. Lokasi sumur tersebut ada tidak jauh dari pantai batu persis di sebelah bawah jalan umum antara Dokamboa dan Mauromba.  Disamping sumur itu terdapat sebuah batu lonjong sebesar seekor kuda. Sayang batu itu telah pecah.

Kehidupan Rogo Rabi terancam setelah Rogo Rabi dan keluarganya melecehkan seorang warga asli Mauromba bernama Ejo Keo. Ejo Keo ditertawai karena berpakaian kotor dan sangat sederhana. Setiap Ejo Keo bertamu dan meninggalkan tempat duduk, mereka segera mencuci tendanya dengan air karena dianggap sebagai tuma ma (kuman penyakit). Ejo Keo merasa dipermalukan dan kemudian Ejo Keo  menyampaikan kepada kerabatnya di Udi.

Ejo Keo akhirnya mengadakan rapat dan kesepakatan  di Udi. Setelah pertemuan itu  Todi Wawi dan keponakannya Rangga Ame Ari menghadapi Rogo Rabi dan ingin mengusir dia keluar dari Mauromba. Rogo Rabi kemudian mencari cara damai  dengan warga setempat. Rogo Rabi menyerahkan saudarinya Ito Rabi menjadi isteri  Todiwawi  dan Boti Bartaso menjadi isteri dari Rangga Ame Ari.

Walaupun telah diadakan perdamaian dan kedua wanita Bugis dinikahi Rangga Ame Ari dan keponakannya Todiwawi, dendam untuk mengusir bahkan membunuh Rogo Rabi terus membara. Kebencian ini tidak saja karena telah menghina Rogo Rabi. Rogo Rabi adalah seorang lelaki petualang. Dia juga menjalin hubungan gelap (ana mbue) dengan orang di Kedi Diru.

Maka dirancanglah sebuah usaha untuk membunuh Rogo Rabi. Pertama mereka berusaha membunuh Rogo Rabi di Kedi Diru. Ada usaha untuk menemui Rogo Rabi di Kedi Diru. Pembunuhan  dirancang.  Mereka berusaha membuat minuman beracun. Akar pohon pinang dicampur dengan arak, yang membuat orang yang minum menjadi mabuk. Kampung Kedi Diru akhirnya dibakar, tetapi usaha membunuh Rogo Rabi belum sampai terlaksana. Rogo Rabi selamat.

Rogo Rabi terus dicari (ata nepi) Rogo Rabi bersembunyi di Mbeku di rumah Meo Sia. Dari sana Rogo Rabi menuju Pei Poo. Melalui saudarinya diketahu rahasianya untuk membunuh Rogo Rabi yang memegang ilmu. Ternyata dengan sebuah batu kecil saja dia bisa dihabisi nyawanya. Rogo Rabi akhirnya dibunuh kemudian  dimakamkan di Pei Poo tidak jauh dari rumah saudarinya sendiri.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ALBUM KENANGAN. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s