SAJIAN MAKAN DAN HUBUNGAN INE WETA AME NALA

Membunuh babi dan menyiapkan daging untuk makan dalam kebudayaan orang Nagekeo  tidak sembarang dilakukan bagi tamu. Pada kunjungan terakhir saya ke Flores, ketika saya akan kembali ke Jakarta, keponakan saya Ine Goo Nanga dari Wajo datang khusus ke Mauromba .  Mereka  membawa seekor anjing masih hidup dengan menumpang ojek sepeda motor. Malamnya  mereka  menyembelih si guguk dan menjadikan  teman makan nasi malam itu. Kepada saya disajikan daging anjing.  Seperti biasa saya mendapat bagian terbaik, kepala dan hati.  Karena saya divoinis dokter tekanan darah tinggi, maka saya berusaha keras mengendalikan diri untuk tidak banyak mengkonsumsi. Dan ini kesempatan terbaik bagi saudara saya Anton menikmati sepuasnya.  Memuaskan foko cewo (tenggorokan bulukan) kata orang Nagekeo.

Menyajikan kepala dan hati mengadung dua pengertian. Kepala selalu disajikan sebagai tanda hormat. Kepala dan hati selalu disertai dengan darah  yang telah diolah  menjadi seperti bumbu kecap itu memberikan tanda bahwa  daging yang disajikan adalah dari hewan yang masih hidup. Bukan hewan yang mati atau penyakitan.  Kebiasaan orang Nagekeo menyembeli hewan untuk dijadikan daging yang disajikan bagi tamu selalu dilakukan setelah tamu tiba di rumah.  Tanda hormat dan kerelaan member dari yang terbaik.

Pilihan jenis hewan yang akan disembelih tergantung  hubungan tamu yang datang.  Untuk tamu paling sedikit orang m,enyembelih  ayam.  Pertalian saudara  ada   nala (saudara laki) dan  weta (saudari) dan  setelah  mereka berkeluarga dan punya anak maka amen ala menjadi embu mame (om) dan ine weta . Pihak embu mame sebagai penyedia anak laki dan ine weta sebagai penyedia anak perempuan untuk dinikahkan.

Sajian daging babi atau anjing  punya keterkaitan dengan hubungan pertalian keluarga ini. Pemberian babi dan kain adalah kewajiban amen ala kepada ine weta. Dan Kewajiban ini weta memberikan anjing atau kambing  kepada pihak amen ala.

Urusan bunuh babi dan dagingnya jadi sajian ketika saya di kampung  sekali membuat saya marah dan pada kali yang lain membuat saya  merasa tak nyaman . Satu kali kami  berlibaru di kampung. Sebagai anak asrama di Mataloko, kami hanya berlibur paling banyak dua kali dalam setahun.  Karena  sebagai yang tertua dari anak-anak asrama paroki saya maka adik adik saya Piet Wani, Philipus Tule , Cyrillus adik kandung saya kami menghabiskan malam di rumah saya. Pada malam hari kami diundang om saya Nuwa Oka. Saya senang. Karena ke rumah omo (embu mame) saya adalah anak ine weta atau ane ane, pasti seekor babi akan disembelih. Ternyata malam itu mengecewakan saya. Saya malu dihadapan adik-adik kelas saya Peto dan Lipus.  Mereka menyajikan kerang-kerangan (kima). Ini urutan terendah setelah ikan.  Saya memendam kekesalan yang mendalam. Pada waktu akan makan, tanta saya  (ema kao)  bilang ada anak babi di kolong  tolong bawa nanti sembelih di rumah. Maksudnya biar bapa saya juga bisa ikut menikmati. Dalam kekecewaan kami kembali ke rumah sambil seorang membawa seekor babi ke rumah. Sambil meluapkan rasa kesal, saya katakana pada bapa bahwa kami tak layak makan daging babi karena pasti tidak bisa membalasnya.  Bapa saya sambil senyum bilang itu om dan tante kamu (ke embu mame miu).

Menikmati daging babi dalam rasa tidak nyaman saya pernah alami. Saya pulang dari Bengga. Bapa Yohanes Eo mengundang saya singgah malam itu. Saya menolak tetapi akhirnya mengalah. Dan malam itu seekor anak babi disembelih.  Ketika tahu ada babi disembelih timbuil rasa tidak enak. Rasanya pingin lari. Rumah kami kurang dari satu kilo meter.  Pada waktu makan tuan rumah mengatakan bahwa karena terlalu malam kita sulit menangkap ayam. Artinya babi dianggap sebagai ayam. Saya punya alasan untuk merasa tak nyaman. Soalnya saya punya hubungan pertemanan dengan anak perempuannya. Kami teman kelas  SD. Guru dan teman selalu memasangkan saya dengan anak perempuan ini dan selalu bilang Tali nasa nee Mina. Kalau membunuh babi berarti ada pengakuana bahwa saya dalam posisi ine weta dan bapa Yan Eo dalam posisi embu mame. Itu berarti mengakui hubungan pertemanan saya dengan anak gadisnya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s