MONA GHEWO PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN

Ketika liburan sekolah, saya berkunjung ke Mundemi dan menginap di rumah teman Ludovikus Aja Fernandes. Keluarga biasa menyapanya Sinyo. Ketika di Mundemi saya untuk pertama kali menikmati pora eti(daging biawak). Biawak dikuliti, dipotong dan dibersihkan dan direndam  bumbu, dimasak dalam santan sampai santan kering. Waduh masih ingat rasanya sampai hari ini.  Orang Mundemi juga berburu tokek dan tikus di pohon kelapa. Tetapi waktu itu saya  belum sempat  menikmati daging tikus. Soal daging tikus saya masih ingat Pak Siprianus Taa (almarhum) kalau cerita berapi-api. Daging tikus sawah atau pohon diburu kemudian dimasak bersama pisang muda. Uta muku loto (sayur pisang muda). Tikus satu atau dua ekor dicincang dan direbus bersama buah pisang muda. Bagi lidah orang Keo Tengah uta muku loto punya cita rasa khusus.

Saya juga punya pengalaman pertama makan sayur nangka dimasak dengan daging ayam di Wolowea. Waktu itu anak-anak sekolah dasar dari Mauromba berdarmawisata ke Raja. Guru Frans Mere membawa kami ke Raja, karena isterinya berasal dari Raja. Dan kami menginap di kampung Wolowea. Saat itu belum ada listrik. Kami ditumpangkan di beberapa rumah. Rasa sayur nangka dengan daging ayam di Wolowea menjadi rasa sedap tak terlupakan, teristimewa sambal tomat yang diisi dalam bambu (ko payo), nikmat sekali.

Uta nggako (kangkung sawah) untuk orang Romba, yang gersang pasti tidak ada. Kangkung memang di sawah-sawah. Walau di Boamau ada banyak sawah dan kangkung, saya sendiri tidak sempat menikmati. Kangkung pertama kali saya makan di Oka dekat Dowo Noli. Ketika hidup diasrama Ledalero, ternyata di buat bak besar untuk pelihara kangkung. Dan begitu sering anak-anak asrama berjuba itu mendapat hidangan kangung. Sayang orang Flores memasak kangung selalu bersama santan. pada hal kangung enak kala ditumis tanpa banyak air. Ketika di Jakarta cah kangkung adalah cara masak yang paling mudah. Beberapa kali saya masak di kantor untuk makan bersama teman saya aorang Korea.

Ikan paus bagi orang Nagekeo sesuatu yang langkah dijumpa. Kami pernah kebagian makan daging ikan paus. Seekor ikan paus besar pernah terdampar di pantai Mauromba. Seperti ikan umumnya masyarakat menganggapnya sebagai rejeki dari laut. Semua rumah Romba Wena dan Wawo kebagian daging ikan besar itu. Yang teringat sampai sekarang adalah bau amis minyak ikan paus. Setiap melihat gambar ikan paus, saya masih ingat bau amis minyak ikannya. Saya tidak tahu orang Lamalera mengolahnya sampai menikmati daging dan minyak ikan paus.

Kedidewa satu gunung  masuk dalam wilayah Keo Tengah. Yang punya cerita adalah bapa saya. Bapa saya pernah berkunjung ke Kedidewa. Disana masih ada beberapa kerabat yang berkebun dan tinggal di dataran tinggi. Keluarga menyiapkan makan siang khusus. Kebiasaan orang Keo nasi dan sayur disajikan dalam piring terpisah. Nasi disajikan. Kemudian menyusul satu piring daging berkuah santan. Bagi orang Nagekeo, kepala adalah bagian terhormat.  Kepala babi, ayam atau kambing selalu dihidangkan untuk tamu terhormat atau pemuka adat. Bapa saya hari itu menjadi tamu istimewa. Dan untuk menghormatinya bapa mendapat sajian kepala. Kali ini yang disajikan adalah kepala monyet, masih punya telinga dan moncong monyet.  Wiki…wiki… mendi ena….(Ambil…ambil bawa kesana). Kepala kera betapapun dimasak dalam bumbu sedap masih menakutkan karena wajahnya mirip wajah manusia.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

4 Responses to MONA GHEWO PENGALAMAN TAK TERLUPAKAN

  1. Fr. Bony says:

    jadi teringat kembali ke masa kecil di Flores-Mauponggo na………asyik2 ata kita klo masak daging na……….

  2. Prudensius Yoseph Bhia Wea says:

    sy asli nagekeo-boawae, hnya lhir & brdomisili d mbay1, KM-1.sy mkan dging tokek smpe muntah, mklum bru coba. campar one

  3. Luther Math Science '09 UNC says:

    ank c-1 mncing ikan d pel marpkot pke speda,saat plg spdax ban pcah. smuax bgung???? perut ksong+jln kaki smpe KM1.nasib

  4. Tanagekeo says:

    Nenek kami Wea Munde selalu rapih (dhiga dina). Satu kali ada acara di rumah saudara. Orang Nagekeo kalau ada pesta syukuran kecil-kecil selalu malam hari. Kecuali acara dhodho ana biasa siang atau pagi hari.
    Seekor babi sedang (teki ndate) disembelih. Malam gelap. Usus (tuka wawi) harus dibersihkan (loti) yang biasa dengan penerangan soa (nyala api dari daun kelapa). Kebersihan tuka wawi pasti tidak terjamin. Ada bagian tidak dibersihkan dan masih ada sisa sampah (tai wawi). Dan bagian yang istimewa itu masuk bhaso dari nenek saya. Nenek yang selalu hati-hati itu kali ini mengangkat tanpa mengamati dan ternyata usus masih ada isi sempat mendarat di mulut nenek. Muntah..muntah.. dan semuanya keluar bersama caci maki.. ine ame habis-habisan. Bapa saya yang tahu kebiasaan nenek (ine fai nggae) mengatakan ke ata ta mbai dhiga dina…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s