GULITA MALAM DI BANYAK DESA NAGEKEO

Berkali-kali saya membaca di media massa ibukota yang menulis tentang tenaga surya dan angin.   Omong tentang angin dan matahari, sesungguhnya tidak ada daya tarik. Hampir sepanjang tahun kita selalu diterpa sinar panas tanpa hambat dari sumber tenaga paling dahsyat yang diciptakan Tuhan. Dan kalau mau bicara tentang angin, tidak ada yang sangkal, Indonesia adalah negara kepulauan, yang berarti juga negara penuh pantai. Angin selalu berhembus kencang di daerah-daerah pesisir. Saya jadi ingat kalau berjalan kaki di Wodowata atau Kekakodo atau Wesa Wala di dekat Ketakeo. Hembusan angin sangat kencang menembus pori tubuh kalau perlu menerbangkan benda-benda berat disekitarnya.

Kalau memang benar ada manfaat matahari dan angin, saya sering berangan kapan matahari dan angin menjadi tenaga terbarukan itu dapat memberi sumbangsih bagi manusia, khususnya orang orang kampung di Keo Tengah. Saya bayangkan kalau saja ongkos jalan-jalan santai para anggota dewan yang ingin setudi banding itu dialihkan untuk membangun pusat tenaga listrik dari matahari dan angin. Skalanya sesuaikan saja dengan dana yang ada.  Pasti tidak ada angin sakal umpatan yang melayang kehadapan para anggota dewan. Mereka bahkan bisa jadi dewa penyelemat yang selalu diekori  dan didukung. Tetapi itu hanya angan-angan saja. Anggota dewan akan pilih jalan-jalan. Mumpung ada kesempatan dan anggaran. Buat apa sok suci dan pikirkan orang banyak. Kapan pikir diri sendiri.  Jalan-jalan itu membahagiakan. Setudi sambil jalan dan membanding-bandingkan saja. Apa susahnya. Kalau negara lain makmur, dan tertib kita hanya pulang lapor warga Indonesia tidak tertib. Karena itu tidak pernah makmur. Pasti kita akan omong tentang sepeda motor yang semakin memenuhi jalan raya kita. Banyaknya sepeda motor seharus disyukuri. Karena itu ada tanda kemajuan. Namun yang membuat siapa saja mengakui bahwa sepeda motor menjadi gambaran paling buruk dan promosi bangsa paling tepat tentang budaya tertib bangsa ini.

Malam terlampau gulita di desaku. Ada rumah-rumah di pesisir yang sudah menikmati penerangan listrik selama 12 jam per hari. Tetapi sebahagian terbesar hanya bersuara dalam kelam.  Orang terus tidur lebih awal setelah lelah bekerja. Sorotan lampu pelita dari botol tinta atau kaleng susu tidak bisa menghalau beratnya mata.  Jangan disandingkan bandingan dengan Para anggota dewan.  Mereka bergelimpang fasilitas.  Mereka pantas mendapatkannya. Mereka orang credas pilihan bangsa.  Mereka sedikit orang terpilih. Maka pantas disebut elite.  Mereka bukan orang tersakiti karena dieliminasi dan terus memikul beban utang tak tertanggungkan. Mereka bukan orang yang sakit jiwa karena merasa kalah dan gila. Mereka orang baik-baik.  Mereka tahu belajar pramuka dari Afrika itu akalan untuk pesiar.  Saya yakin kalau para anggota dewan jalan-jalan saja ke Nagekeo, mereka disuruh tidur di rumah penduduk ibukota kabupaten yang masih penuh alang-alang. Mereka akan tahu rasanya jadi rakyat dan merakyatkan pemahaman dewan. Mereka kita ajak saja melihat dari dekat apa yang telah dibuat dengan program KAPET MBAY.  Biar mereka tahu semua program hanya macan kertas tak bertaring dan berkuku yang mencengkeram menjadi program yang dapat direalisasikan.  Karena itu tidak heran Nagekeo dengan irigasi Mbay yang menjadi salah satu  lumbung beras NTT hanya menjadi perkampungan kaum tani dan nelayan terpinggirkan  dan terus tinggal dalam kelam.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s