VIVERE PERICULOSO

Sore tadi Jumat 1 Oktober 2010 jam 15.00 WIB  saya berjanji bertemu rekan bisnis di sebuah restoran Padang di Jatinegara. Karena dia terlambat saya merobah tempat pertemuan di pusat jajan (food court) di pusat belanja batu batu mulia di seberangnnya. Lokasinya persis di depan stasiun kereta api Jatinegara.  Sambil  menunggu saya menyempatkan diri melihat berbagai batu alam baik yang masih alami maupun yang sudah tergosok. Kalau mau cari batu cincin aneka variasi datang saja ke sana. Ini memang pusat belanja bagi pencinta batu.

Pertemuan kami berlangsung  sambil menikmati kopi gingsen di tempat tersebut.  Tidak terlalu ramai tetapi sayang panasnya tak tertolong. Saya merasa gerah di sana.  Pembicaraan kami tentang business kelas tinggi. Permainan surat berharga, instrumen perbankan. Lawan bicaraku mewakili orang yang mempunyai kapasitas menerbitkan berbagai instrumen perbankan. Berdasakan surat keterangan dari bank plat merah Indonesia, mereka memiliki cash collateral yang dapat dijadikan jaminan kredit perbankan. Saya mewakili sebuah perusahaan di negara adidaya Amerika Serikat.  Pihak kami adalah yang siap untuk memanfaatkan cash collateral.  Pembicaraan kami lumayan intensif dan singkat.  Singkatnya pembicaraan kami karena saya ingin cepat menyudahinya. Alasannya ketika sedang kami berbicara, saya mendapat telepon. Mobil box perusahaan kami diderek oleh tukang derek liar dari jalan tol. Dan mereka memaksa membayar lebih dari satu juta rupiah. Mereka berlaku kasar dan keras. Kata orang kantor saya mereka orang seasal saya. Akhirnya saya datang ke sana.

Ketika saya sampai disana sopir mobil box kami langsung menyapa saya. Seorang pemuda asal Maumere segera menyapa dan berbicara dalam bahasa Sikka. Saya berusaha mengimbanginya walau terkadang tidak paham.  Mobil box akhirnya kembali ke pabrik. Tetapi permintaan uang tetap Rp. 1.000.000,- Permulaan saya sangka akan bisa dikurangi karena saya adalah orang Flores. Saya diajak minum kopi. Tanpa sadar saya berada dalam kelompok orang Flores berasal dari Maumere. Mereka terus bertambah banyak dan dalam keadaan yang sangat tegang. Mereka sedang berkumpul dan siap untuk menghadapi musuh mereka. Katanya mereka sedang terancam akan dihadang kelompok dari Ambon. Msalahnya adalah urusan penguasaan lahan. Saya sempat mengusulkan cara persuasif dan pasifistis.

Hari  semakin gelap. Ada hujan rintik-rintik. Kami berteduh dibawah tenda beratap terpal.  Ketika orang semakin banyak, dan saya merasa mereka adalah saudara saya, saya mulai memotret. Permulaan saya mengambil foto tidak ada yang keberatan. Saya tertarik karena ada banyak orang Flores begitu ramai berkumpul di satu tempat umum. Ketika saya berdiri di pinggir jalan, datang seorang menghampiri saya. Dia sangat keberatan karena difoto. Dia mengaku orang Flores berdarah Jawa. Dia mengancam akan menghabisi saya. Dia menarik tangan saya untuk menyentuh pinggangnya yang berasa keras. “Saya  punya senjata”, katanya.  Sikapnya tiba-tiba berubah buas dan saya akhirnya menghapus semua gambar orang-orang Sikka yang terekam kamera.

Seorang dari kantor saya datang dengan sebuah mobil sedan. Dia membawa uang Rp. 1000.000,- Saya berusaha menawar tetapi mereka berkeras membayar sesuai dengan tuntutan. Saya akhirnya meminta tanda terima sesuai uang yang saya berikan. Malu juga mukaku. Aku tidak dapat menaklukan orangku. Harga sebuah derek liar diluar kendali petugas.  Dan lebih dari itu keberadaan saya ditengah saudara sedaerahku sendiri, nyawaku juga terancam. Ada yang bersenapan dan siap meledakkan kepalaku kalau perlu.  Hidup ini memang berbahaya.

Benarkah orang Flores seperti itu?  Saya teringat ketika saya berkunjung ke Jepang. Saya berada di Sinjuku. Tokyo. Kami menonton lifeshow di pusat kota bersama rombongan pengusaha Indonesia yang disponsor KADIN.  Ketika mengikuti ibadah hari minggu di sebuah gereja Katolik di Nagoya saya bertemu dengan seorang pastor Amerika. Kami berceritera. Saya lalu bercerita tentang pengalaman luarbiasa menonton striptease. Waktu itu saya beri kesan negatif tentang Jepang. Lalu sang pastor bilang tergantung kamu jatuh di mana. Kalau kamu jatuh di lumpur, maka kamu akan bilang daerah itu dikenang sebagai daerah becek. Tetapi ternyata itu hanya sepenggal kecil dari suatu wilayah yang sangat luas.  Jepang tentu tidak sejelek itu. Kali ini saya sendiri berada ditengah orang daerah saya sendiri. Ada pemerasan derek liar, ada kekerasan fisik kalau perlu menyabut nyawa orang lain. Nyawa saya sendiri nyaris melayang. Saya sedang jatuh di kelompok yang salah. Masih banyak orang Flores yang baik dan benar. Namun seperti manusia normal lainnya saya tidak ingin lagi masuk dalam lingkaran penuh bahaya. Hidup tenang dan damai dengan sesama adalah yang paling menyenangkan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s