MEDO JADI SANKSI DAN DOA PENOLAK BALA

Tuhan selalu dilihat dalam perspektif postif.  Tuhan pencipta. Ini dikenal dengan istilah  welo koo Nggae, oda fonga Nggae (Allah pencipta), yang selalu berkaitan dengan yang baik.  Hidup manusia seperti dalam semua budaya dan kepercayaan berasal dari Tuhan, demikian juga orang Nagekeo.  Dalam menyelenggarakan kehidupan manusia dan alam ini Tuhan diyakini memberikan pelajaran.  Tuhan dalam budaya orang Nagekeo bisa marah. Murka Tuhan terungkap dari percakapan harian. Ada yang tidak setuju dengan sikap negatif seorang akan  mengatakan Nggae teki weli kau (Tuhan akan angkat dagumu). Seorang bisa kehabisan napas lehernya tercekik dan dagunya terangkat.

Kemarau panjang atau kematian yang berurutan dalam keluarga besar dianggap sebagai isyarat murka Tuhan. Menghadapi semuanya orang dipaksa untuk merefleksikan semua tindak tanduk dan tutur kata dalam kehidupan bersama. Ada yang berusaha mencari sebab musabab musibah.  Musim hujan dan kemarau adalah dua musim di negara tropis. Harusnya sudah lumrah saja. Tetapi bila hujan yang berkepanjangan dan membawa petaka atau kemarau melebih batas sampai tak tahu kapan musim tanam, warga masyarakat secara kolektif akan bertanya. Ada apa? Ini dianggap tidak wajar. Ini pasti ada sebab. Orang mulai mempergunjingkannya di tenda-tenda sambil merokok dan minum kopi. Keka tua atau tempat penyulingan tuak adalah tempat orang omong-omong sambil mencicipi tuak  yang baru disuling.  Orang mulai ramai mengaudit perbuatan dan tingkah laku warga.

Peda pani adalah sebuah perbuatan yang terlarang. Peda pani adalah hubungan seks antara anggota keluarga dekat, yang masih bertalian saudara dan terlarang. Hubungan incest dalam garis terlarang.  Misalnya wanita dengan keponakannya atau seorang lelaki dengan wanita dari saudara ibu. Seorang lelaki boleh menikahi wanita anak dari saudara laki ibunya (paman).  Hubungan ana weta dan ana nala. Ana nala penyedia anak perempuan dan ana weta penyedia anak laki. Tidak sebaliknya.  Dalam kaitan dengan hubungan seks terlarang adalah peda pani fai ata (berhubungan dengan isteri orang). Hal-hal semacam ini akan muncul kepermukaan dan jadi topik lebih hangat apabila ada perubahaan dalam pola siklus alam. Musim kemarau berkepanjangan. Masyarakat gelisah karena tidak bisa menanam benih.  Panas yang berlebihan juga akan membuat mayang pohon lontar penghasil tuak mengering. Sebahagian orng kehilangan mata pencaharian sebagai penyuling arak. Pesta adat kehilangan kesemrakan tanpa tuak. Dan tuak menjadi sangat mahal.

Suatu saat pada malam hari, bulan memancarkan sinar lembut dan remang-remang menembusu daun pohon kelapa disekeliling kampung. Sejumlah orang ramai menabuh berbagai bambu atau kaleng di depan sebuah pondok. Sebetulnya itu sebuah rumah. Tetapai di desa kami rumah sekecil apa pun diakui sebagai sao (rumah) bila dibangun didalam kampung. Bila dibangun di kebun akan disebut keka donggo ( pondok di luar atau di belakang). Malam itu ramai ada keramaian di sebuah rumah di luar kampung. Pertanda ada hubungan yang tidak dibenarkan adat. Kali ini adalah hubungan perselingkungan dengan isteri orang. Ini yang disebut peda pani. Orang lalu mengaitkan dengan kemarau panjang.

Tidak semua peristiwa akan diangkat ke tengah masyarakat sampai ada perubahan alam sebagai pertanda amarah Allah.  Ada yang segera diangkat kepermukaan untuk menghindari murka Tuhan dan pemulihan hubungan keluarga. Seorang keponakan berhubungan dengn isteri paman. Masyarakat tahu dan keluarga menjadi malu. Ini juga disebut peda pani. Ana peda ine (hubungan anak dan ibu).

Pemulihan harus dilakukan bila ada peda pani jenis terlarang ini. Medo adalah sebuah upacara pemulihan. Masyarakat diundang untuk berkumpul di tempat kejadian perkara.  Keluarga di tempat kejadian akan menyelenggarakan makan bersama dengan menyembelih babi besar.  Darah babi akan direcikan di tempat orang melakukan hubungan atau peda pani, dan kedua orang  pelaku juga direciki darah  (mbasa la). Mbasa la artinya dibasahi dengan darah. Dan masyarakat yang diundang akan makan bersama. Dalam pertemuan sebelum acara diadakan upacara dan sesudah selesai makan bersama (nado) orang melakukan pembicaraan resmi. Pembicaraan akan dimulai dengan ai ade (bertanya), tamu melalui seorang wakil akan bertanya tentang tujuan pertemuan. Pada saat itu orang minum kopi dan merokok.  Dan pihak keluarga melalui wakil akan menjelaskan.  Pertemuan diskors. Makanan disiapkan, babi  disembelih dan dimasak. Pelaku dan dan tempat kejadian perkara dibasahi darah dengan doa tau roka re’e (menolak bala). Pada saat hidangan telah siap  orang berkumpul untuk makan sambil minum tuak. Setelah makan kaum lelaki diberi kopi, sesudah itu disuguhi tuak. Pembicaraan akan dilakukan lagi. Wakil masyarakat ai ade kembali. Tetapi kali ini menanyakan apakah masih ada yang perlu dibicarakan (taku datu pata pede).  Wakil keluarga akan memberikan jawaban dan sering dalam pembicaraan ini orang menyinggung tentang tata nilai dan mulai mengingatkan masyarakat tentang hal-hal yang perlu dijauhkan. Seluruh kegiatan ini disebut MEDO. Medo menjadi upacara adat penolak bala dan juga pemulihan nama baik keluarga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s