BHANDA NGAI versus BHANDA NGAWU

Saya kadang-kadang terkagum-kagum pada kearifam kecil leluhurku. Dalam budaya masyarakat Keo mamusia dihargai lebih dari pada harta. Suatu saat saya terjebak di sebuah tmpat sepi di sekitar Bhela Bajo. Waktu itu jalan mobil jurusan Raja Maunori baru dibuka. Yang sampai kini dikenang sebagai buah karya Bapa Yacob Nuwa Wea.  Tanpa dia jalan itu mungkin tidak terbuka.  Saya mengendarai sebuah jeep sendirian dari Mauromba dengan tujuan Ende. Setelah melintasi jalan baru Maundai Tudiwado melewati Diameo, dan berusaha menanjak menuju Jawawawo yang gagal, saya meneruskan perjalanan. Di Bhela Bajo kendaran tidak bisa lagi bergerak. Kehabisan kanvas kopling (pedal). Seorang keluar dari pondokan dan berteriak dengan suara agak ketakutan. Karena saya disangka mbolonggede (penyamun).  Malam itu saya jual juga nama Bapa Yacob, yang kebetulan saya kenal baik sejak orang tua.  Lelaki itu pun mulanya ingin mendorong mobil, tapi saya katakan tidak bisa. Tidak apa, saya akan tidur di mobil. Seblumnya setelah ketahuan mobil bakal tidak bisa berjalan lagi, saya menutup pintu dengan membiarkan separuh kaca jendela terbuka, saya berdoa dan ingin tidur saja di kursi mobil. Tetapi yang terjadi Tuhan menolong dengan mengirimkan seorang. Dia mengundangku ke gubugnya.  Setelah sedikit mendengar tentang siapa saya, dia membereskan kain-kain yang tergantung pada sebatang bambu melintang diatas tempat duduk.  Saya mengatakan tidak usah repot. Saya biasa merantau dan terbiasa dengan kesulitan. “Mae  koo weki soo mere”.  Waktu  itu saya mengalah.

Menghargai weki (manusia) lebih daripada segala sesuatu. Kemudian orang yang kita jumpai dan kenal diakui sebagai weki kita (orang kita /keluarga kita) sebuah pengakuan dan penghargaan tulus pada sesama. Berbagai istilah  yang ada selalu membuat saya kagum. Weki soo mere puu ena ngawu (badan lebih berharga dari semua harta).  Dan dalam pernyataan tentang kekayaan pun orang Keo memberikan perbedaan. Bhanda (kaya) diungkapkan dengan dua cara berbeda. Bhanda ngai artinya kaya akal dan kaya pikir serta kaya hati.  Sebuah ungkapan yang membedakan dari bhanda ngawu yaitu kaya benda, kaya barang.  Sementara dalam kedudukan masyarakat orang juga memberi ruang yang lebih besar kepada orang yang bhanda ngai. Yaitu mereka yang menjadi mosa nua daki oda. Mosa wuku udu enga eko. Mosa ta nee ngai rende. Mosa mbabho mbeo. Semua ini mencerminkan pengakuan yang lebih tinggi dan tulus pada sebuah kecerdasan dan kebijakan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to BHANDA NGAI versus BHANDA NGAWU

  1. luar biasa om…kesahajaan selalu memberikan makna mendalam, keseharian selalu memberi kesan terindah….kearifan lokal yang tidak akan pernah hilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s