Nunu Lomba Tinggal Cerita

Suatu pagi yang cerah saya berjalan di bibir pantai berbatu setelah menerobos pohon-pohon pandan berduri(peja ma’u). Mengirup hawa laut yang segar tanpa polusi. Banyak batu-batu berbagai bentuk dan warna. saya  memilih beberapa buah. Kenangan masa lalu kembali seketika. Pikiranku memutar balik kenangan masa silam. Sebuah nostalgia  ketika aku jadi anak desa tanpa baju hanya dengan sebuah celana pendek kumal tanpa alas di badan.

Saya masih ingat di sepanjang pantai sebelah timur kampung kami Mauromba ada sebatang pohon beringin besar. Batangnya sangat besar dikeliling akar gantung yang menunjang tanah dan terus membesar rapat menempel  pada dinding batang pohon.  Ada akar-akar gantung yang terkadang kami jangkau sambil lompat  dan bermain ayunan sebelum pergi mandi di air tawar yang mengalir bila pasang surut tiba. Air tawar di bibir pantai itu kami sebut “ae kongga”.

Dibibir pantai yang berada pada bagian sesudah batu-batu laut sejajar dengan pohon beringin itu dari timur ke barat terdapat  beberapa pondokan. Didalam pondokan ini orang kampung kami memproduksi garam. Garam putih halus itu diperoleh dengan memasak air laut, yang selalu ditambahkan airnya bila sudah berkurang pada saat direbus dan menguap. Proses merebus dan menambah air laut dilakukan sepanjang hari. Garam dihasilkan setelah semua air menguap dan menyisakan  endapan garam putih. Ketika endapan akan mengering  terlihat gelembung-gelembung berair seperti bubur magma gunung berapi memutih dan pekerja akan selalu mengaduknya agar tidak berkerak. Hasilnya garam berupa pasir-pasir halus berwarna putih dikumpulkan dalam wadah terbuat dari upih pinang (mba’o).

Pohon beringin besar itu telah tidak ada lagi. Beringin itu terbakar oleh ulah orang iseng yang kurang waras. Ketika pohon itu terbakar banyak orang berduka. Keanehan terjadi. Dari lokasi pohon yang terbakar itu bila malam tiba terdengar suara ratap tangis memilukan. Cerita ini masih terus beredar bila mengenang pohon beringin besar itu. Ada perubahan setelah pohon itu tumbang. Tidak ada lagi pemandangan indah burung-burung beterbangan menikmati buah beringin. Itulah Nunu Lomba (pohon beringin orang Romba), sebuah penanda lokasi bagi pelaut yang berlayar malam hari. Dari kejauhan dalam keremangan malam orang akan tahu mengatur arah  kemana merapat kedarat. Perahu-perahu akan dilabuhkan di sebelah barat dari pohon beringin.

Pondok-pondokan garam telah tidak ada lagi. Dan hempasan ombak pantai semakin jauh ke darat. Batu-batu besar tempat kami bermain tange potu di laut memperebutkan posisi diatas batu dan menendang teman yang akan menaiki puncak batu pun telah tenggelam semakin jauh. Dan anak-anak kampung kini tidak lagi mandi di ae kongga, mereka menikmati air tawar dari pipa. Nunu Lomba, peneduh bagi pejalan kaki yang kembali dari pasar di Maunori pada hari Sabtu  dan penanda lokasi. Nunu Lomba  tempat bersarang  aneka burung liar telah hilang justeru pada saat dunia mencanangkan  program hijau.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s