MELEPAS RINDU KAMPUNG

Saya masih ingat ketika pertama kali masuk asrama di Seminari Mataloko. Harus berjalan kaki dan semalam menginap di Nibawawo. Pagi melanjutkan perjalanan lagi baru sampai Mataloko menjelang petang.  Perjalanan paling panjang ditempuh dari Mauromba sampai Nibamawo. Di Nibamawo kami menginap di pondokan orang Mauromba yang bertani sawah di sana. Bila sore hari tiba terasa ada kerinduan luar biasa. Suasana Mataloko dengan alamnya dingin dan berkabut sangat mengundang rasa rindu kembali ke kampung. Kata bahasa Inggeris yang kami kenal waktu itu homesick. Ternyata benar ada sicknya. Ada teman-teman yang sampai tidak masuk sekolah. Orang tua terasa jauh sekali dari keseharian kami. Pengalaman  saya sendiri ternyata rindu melihat mama menjadi kerinduan abadi. Mama dipanggil Yang Maha Kuasa hanya tiga bulan setelah saya mencium bau sayur sawi dan keju Mataloko. Saya masih ingat mama dipanggil Tuhan, ada misa Requiem khusus untuk Yuliana, mamaku. Tetapi saya tidaka berdaya, saya jatuh sehari sebelumnya di lapangan basket ketika berusaha berjalan diatas derum yang sedang bergulir. Saya divonis oleh Pater Alfons Engels svd, bahwa ada keretakan di tulang belakang saya. Saya harus total beristirahat.  Banyak siswa menyalamiku sesudah misa requiem buat mama, dan saya menerima salam sambil meneteskan air mata. Aku membayangkan mama dan kuat merasa rindu dan terus merindukannya secara abadi.

Sudah puluhan tahun saya berada di luar kampung halaman. Tetapi rasa kangen saya akan kampung sederhana di pinggir pantai penuh batu tak pernah pudar. Berbagai cara saya melepas kangen akan kampung. Ketika masa-masa pertama saya memasuki Jakarta, saya memupuskan rasa kangen dengan berusaha mengingat semua orang yang ada di kampung kami. Saya membayangkan sedang memasuki kampung-kampung kecil itu, dan berjalan memasuki satu-satu dan menginat-ingat nama dan wajah orang-orang yang berada di rumah itu. Tetapi kini hal itu tidak bisa saya lakukan. Karena sudah ada perubahan jumlah dan posisi rumah serta orang-orang yang menghuni rumah.

Menelpon orang di kampung dan berbicara dalam bahasa daerah merupakan cara terakhir yang saya lakukan. Saya sering menelpon dana berbicara dengan beberapa orang yang sedang berkumpul. Berbicara dengan anak-anak juga saya lakukan. Seperti hari ini dan beberapa waktu lalu saya berbicara dengan Ambros anak dari Matias Ndiwa di Tudiwado. Saya ada pengalaman lucu dengan anak ini. Selain percakapan tak ada artinya, saya pernah titip salam. Saya minta tolong sampaikan salam saya pada seorang guru yang usianya jauh leb ih tua. Tetapi dalam budaya Keo karena kami ka’e ari, kami boleh bercanda kurang sopan.   Saya bilang tolong sampaikan salam kepada kakak tersebut. Ambros yang masih anak Sekolah Dasar di Niodede itu menyampaikan dengan sungguh salam saya, “SALAM MOSA DAKO MEDA BHALA”.  Hari ini saya mengeceknya. Ambros kena hajar setelah dia menyatakan ada salam, salam wangga ndate, SALAM MOSA DAKO MEDA BHALA.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s