Mama Kami Pertama Kali di Udara

Saya bertanya kepada mama apakah dia senang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang pada tanggal 3 Juli 2010.  Dingin (kete)  dan bergetar (rudhu edha) kata mama. Maklum  ada tubrukan awan (turbulensi) , kedinginan karena hanya mengenakan dawo dan dambu ende. Saya juga bayangkan mama harus sedikit bersusah mengenakan sandal, karena di kampung sangat jarang pakai sandal. Lebih nyaman dengan kaki tanpa alas ke kebun. Mama dan adik perempuan kami yang bungsu Margo kali ini ke Jakarta. Mereka tidak pernah secara resmi mengabarkan kepada saya tentang kedatangan mereka ke Jakarta. Tetapi ketika saya menelpon ke Flores, mereka sedang berkumpul di  rumah adik kami Anton di Pu’u Ta’u (Uma Mere). Malam itu mereka sedang asyik menyiapkan perbekalan perjalanan ke Jakarta. Kalau ada keluarga yang ke Jakarta kami selalu pesan ikan asin (ika tu’u) dan pora wawi (daging babi). Ikan asin dari pantai di Nagekeo sangat enak. Ikan asin di garami dalam air laut yang dilarutkan garam. Keasinanannya merata dan tidak bertumpuk. Cara menjemur  digantung ataupun dihamparkan di atas batu yang panas beralaskan tikar atau plastik menjamin ikan itu bersih. Semua tetangga kami di Jakarta sangat menyukai harum gorengan ikan asin Nagekeo. Dan so pasti enak punya. Dan pagi ini isteri saya membuat bubur utawona dengan teman gorengan sedap ikan asin sebagai sarapan. Tak kalah dari bubur ayam paling sedap di kota Metropolitan yang pernah saya cicipi. Ternyata banyak ikan asin yang beredar di restoran Warung Sunda yang mahal berasal dari Aemere, yang dibawa ke jakarta oleh anak-anak dari Ma’unori.

Mama kami sekarang sudah di Jakarta. Ikan dan pora wawi (sei babi) khas ata Ma’u sudah sampai di rumah. Tetapi mama belum juga sampai di rumah saya sebagai putera sulung. Mama dijemput adik-adik yang lain.  Dan mereka merasa berhak untuk menahan mama di rumah mereka. Maklum kami enam bersaudara menetap di Jakarta. Adik-adik saya tidak segera menghantarkan mama ke rumah saya, karena saat ini saya mempunyai dua orang tamu dari Timor Leste, Bruno Do Rosario Da Costa Magalhaes dan Juliaun saudaranya.  Mama belum kebagian kamar di rumah saya. Ketika dijemput dari bandara dan singgah di rumah adik saya Albert, puterinya berusia 4 tahun mengatakan kepada mama, “jangan tidur itu kamar aku”! Mama memang tidak bisa menginap di rumah itu karena bila siang semua anggota keluarga pergi ke tempat kerja. Dan mereka menuju rumah adik saya Yasin di Bekasi karena isterinya tidak bekerja. Dan saya pikir pasti mama harus menghadapi sikap aneh dari cucu-cucunya yang lain seperti Dito dengan berbagai kelakuan aneh diluar dugaan. Kalau hanya mengharapkan kehadiran anak sopan dan tenang pasti mama akan kecewa. Tetapi mama sudah siap untuk menghadapi semuanya. Mereka cucu-cucunya. Mama sudah berhubungan dengan saya melalui telepon dan menanyakan keadaaan buyutnya di rumah yang lain lagi. Mama boleh bertamasya dari rumah ke rumah, itulah kebahagiaan dan menjadi kado istimewa buat dikisahkan bila nanti kembali ke kampung.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ALBUM KENANGAN. Bookmark the permalink.

One Response to Mama Kami Pertama Kali di Udara

  1. AYAM KOKOK DARI TIMOR….HABIS GELAP TERBITLAH TERANG……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s