Flores Sebuah Nama Tak Sengaja

Fajar tiba. Bayang-bayang darat semakin  jelas. Gratias… syukur itu sebuah pulau . Ada kehidupan dan pasti ada air. Semua awak kapal berkulit putih, gagah. Pipi-pipi mereka ditumbuhi rambut tak terurus. Jambang dan kumis bahkan janggut mereka bertumbuh liar. Tetapi semuanya tidak mengurangi ketampanan pemuda-pemuda itu. Dada mereka bertumbuh rambut mempertegas kejantanannya. Laki-laki maco.  Mereka pelaut handal asal Portugal. Dominggo… ayo kamu ikut ke darat. Kita butuh air tawar perintah seorang pelaut yang lebih tua. Vasco dan Dominggo membawa  Jeriken air dan berenang  ke darat.

Pagi itu pasang surut. Pelaut-pelaut Porto berpangalaman, mereka anak-anak pantai yang tahu kalau pasang surut pasti ada air tawar di bibir pantai. Orang pantai tahu membedakan mana air tawar dan air laut. Ketika pasang surut, laut menjauhi bibir pantai. Mereka biasa menyaksikan ada garis-garis di pasir, beralur-alur  mengalirkan air gunung  lepas ke laut, membentuk anak sungai kecil. Orang pantai akan mengggali menggunakan alat seadanya. Membuat sebuah cekungan. Maka dalam sekejap ada air tampungan berasa tawar dan sedikit anyar karena terpolusi rasa asin garam laut dalam pasir. Ini ae kongga kata orang Mauromba di Keo, Flores.  Air ini dapat dimanfaatkan untuk air mandi. Dalam keadaan paling darurat dapat dijadikan air minum.

Pelaut-pelaut  muda gagah asal Portugis dengan jeriken berusaha mencari sumur kampung. Mereka menoleh ke sana ke mari. Ternyata di balik batu-batu karang  banyak orang membuat cekungan dengan mengorek pasir dan tertampung air tawar untuk dijadikan tempat mandi. Hari itu ternyata banyak wanita usia belia sedang mandi di ae kongga.  Mereka tak siap untuk segera mengambil kain sarung yang  mereka taruh seadanya  diatas batu. Pelaut pencari air spontan berteriak wou…flores….flores…flores…  Wanita disebut kembang (flores).  Pelaut Porto pulang ke kapal setelah mengisi air di sumur kampung. Banyak orang menonton pelaut gagah.Semua komunikasi pakai bahasa tubuh.  Yang berada di sumur semuanya kaum wanita (flores). Karena urusan mengambil air sumur adalah urusan orang perempuan (flores), sebuah kebiasaan dan hukum tak tertulis dalam tradisi setempat.  Ketika sampai di kapal kedua pemuda pengelana merasa terpuaskan telah menikmati pemandangan indah…Flores-flores mandi bugil di bibir pantai. Dominggo dan Vasco selama berlayar menyusur pantai itu teringat akan flores-flores polos. Dan sejak itu menjadi cerita tak pernah putus mereka berkisah tentang pantai penuh flores… Dan kalau pelaut Porto bilang mari kita melihat flores.. tidak berarti berkunjung ke sebuah daratan tetapi ini ungkapan hasrat laki-laki pelaut haus pelukan kasih dari flores di tanah asal mereka.  Dan pulau tempat mereka menimba air sumur itu mereka kenang sebagai sebuah taman pantai, lokasi dimana mereka menikmati  pemandangan flores-flores polos. Itulah pulau Flores…..pulau bunga…pulau kembang sedang mekar…kembang (flores) polos, pulau gersang penuh harapan dan kasih yang berbunga-bunga. Disana dahaga pelaut Porto terpuaskan karena ada air dan bunga asli dan polos pula, wou flores…..

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s