Tula Jaji Sebuah Kontrak Tabu Menyakiti

Mata hari bersinar lemah. Angin bertiup agak kencang. Ada tanda-tanda akan hujan sore itu. Sebuah perahu dikayuh merapat ke pantai. Seorang melempar jangkar dan tak seberapa lama tiga laki-laki menceburkan diri ke laut. Mereka berenang menuju pantai.  Ibu-ibu dengan segera mengejar ayam mereka menjauh dari rumah dan ayam-ayam beterbangan menuju kebun pisang di samping kampung. Ketiga orang bercelana basah yang baru turun dari perahu leluasa berlari mengejar ayam dan berusaha menangkapnya. Ibu-ibu ramai berteriak memaki dan menyiapkan air untuk disiramkan pada lelaki yang sedang mengejar ayam. Ada ibu-ibu berusaha memegang sapu mengejar lelaki yang terus memburu ayam.  Sementara kaum laki-laki berdiam saja di rumah sambil merokok atau terus bekerja tak peduli. Ketiga orang asing itu  sempat menangkap beberapa ayam. Mereka kembali berenang menuju perahu dan segera menarik jangkar dan melanjutkan perjalanan kearah Timur. Mereka adalah orang-orang dari Boba yang sedang melakukan perjalanan menuju Ende.  Perbuatan menangkap ayam atau memanjat kelapa seperti yang dilakukan di pantai sebelah timur Maundai  ketika kami  pulang dari Gereja Maunori tanpa dimarahi atau ditindak balas dengan kekerasan.

Suatu malam gelap. Piet Mbawo dari Mauromba melintas di tengah kampung Wodowatu. Kakinya tersandung batu dalam kegelapan malam. Piet segera menyanyi dengan kata kata magis,  pu.i ata udi, da.u ata wodowatu, d.t. ata tonggo. Puki dasumiu ta udi bedo wodo watu eeee….. Kedua tangannya segera mengangkat ujung kain sarungnya untuk memudahkannya menapak dan berlangkah cepat. Semua orang sekampung sudah tahu itu Piet Mbawo. Dia tidak peduli di dalam kampung itu ada mertuanya. Karena memaki adalah ulah menggoda dan terkdang menyakitkan tetapi tidak boleh dibalas dengan kekerasan. Orang akan maklum itu adalah tula jaji.

Tula jaji ada kaitan dengan perjanjian (tase dare) atau sumpah adat, yang dilakukan oleh para leluhur dari kedua kampung adat. Isi perjanjian adalah warga kedua kampung harus tidak boleh saling menyakiti (ma’e papa kebha ede weki mae papa nggena). Warga kedua suku adat boleh saling mengambil hasil kebun sebanyak kebutuhan dalam perjalanan bila sangat membutuhkan. Selama itu untuk mengatasi kebutuhan mendesak dalam perjalanan boleh saja mengambil hasil kebun atau ternak (khusus ayam).  Pelaku karena tahu tidak bakal disakiti, mereka sering melakukan sambil mengejek dan mengundang amarah. Masing-masing tahu bahwa mereka tidak boleh saling memukul (dhepa dhunda weki apa wadi papa kebha toa). Aktivitas mengambil hasil kebun dan ternak ayam disebut tula jaji (mengambil berdasarkan perjanjian).

Mengapa perjanjian (tase dare) yang menghasilkan keputusan tula jaji terjadi. Saya sudah menanyakan sejumlah orang yang lebih tua di kampung Mauromba.  Sejak kapan perjanjian tula jaji itu ada, dan mengapa. Katanya pernjanjian ini sudah beberapa generasi dilakukan ketika penduduk masih sedikit. Ada hubungan kekerabatan dan saling mengasihi. Tula jaji diawali oleh hubungan persaudaraan dan saling mengasihi. Untuk melanggengkan tali kasih persaudaraan kedua kampung mengadakan perjanjian (tase dare). Tujuannya adalah  agar anak cucu kelak terus menjaga hubungan baik ini.  Perjanjian diadakan didalam kampung dengan disaksikan udu eko (warga kampung) ude mere eko dewa (seluruh masyarakat luas).

Sekarang kita saksikan ada tula jaji antara Udi Bedo Worowatu dengan Mauromba dan Mauromba dengan Boba. Sampai sekarang masyarakat terus menjalankan kebiasaan itu sampai kini.  Perjanjian (tase dare) dilakukan antara dua kelompok adat. Isi perjanjian adalah menetapkan bahwa dua kelompok warga tidak boleh saling menyakiti ( dima ma’e papa dhepa apa wadi papa kebha toa). Dasar perjanjian ada rasa saling mengasihi dan mengharapkan bahwa kerukunan dan tali kasih ini berlanjut hingga turun temurun. Perbuatan tula jaji sendiri kini lebih bersifat kelakar menguji kesabaran. Dicaci -maki tapi tidak bolehdibalas dengan a marah. Diburu ayamnya dan diambil kelapanya oleh orang asing dibiarkan sambil memendam perasaan. Sabar kita tula jaji…..

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Tula Jaji Sebuah Kontrak Tabu Menyakiti

  1. albert jata says:

    kae talli, terimakasih jao jadi mengerti soal yang satu ini….Tula Jaji ………..

  2. Om…terima kasih woso, tula jaji akhirnya dapat saya baca juga….saya jadi terkagum-kagum dengan kehebatan nenek moyang kita zaman dulu…mengapa tidak? sebuah tali silaturahmi dan persaudaraan dikemas dengan cara yang unik, khas yang tidak saya temukan di daerah mana pun di Indonesia.

    Pantas saja, dulu ketika masih Sekolah Dasar, orang Boba sering sekali mengambil ayam seenaknya di kampung Romba, tapi orang-orang tua tidak bisa marah, apalagi menyebut mreka sebagai pencuri…

    Luar biasa, brilliant, dan mengagumkan nenek moyang kita zaman dulu…

  3. Tanus Feto says:

    Terima kasih.Baru tau apa itu tula jaji atau orang kotakeo bilang tua jaji.Kotakeo tua jaji dengan Ute Toto.

  4. Delvis says:

    Terima kasih woso ame………tula jaji (sara mau), tapi kami ta ghoe rale sodho tuya jaji………saya bangga dengan uraian ini dan berharap kita belajar banyak dari nenek moyang kita yang mengasihi dengan cara yang unik…………….Kami di Mauponggo ada juga tuya jaji yaitu antara kampung Luy di Wolotelu dengan kampung Sawu di Sawu sejak jaman nenek moyang juga…………..”lima mae papa dhepa ele emu mae papa kebha”……… sungguh luar biasa bahkan walaupun ada nyamuk gigit temanmu yang tuya jaji tidak boleh sembarangan kita memukulnya………..
    Tetapi sayangnya tuya itu jaji sepertinya hanya orang-orang tertentu saja yang tahu dan ingin meneruskannya. sebagian besar orang Sawu dan Luy tidak tahu kalau mereka itu tuya jaji.
    Sangat menyedihkan……………………….
    Saya juga berharap ada orang Luy atau Sawu di Mauponggo yang membaca komentar ini sehingga mereka dapat mencari tahu apakah benar antara Luy dan Sawu itu ada tuya jaji, mengapa dan sejak kapan ?
    kalau mungkin ada yang tahu tentang tuya jaji ini bisa kirimkan ceritanya buat kami generasi yang sudah kurang tahu tentang itu semua……
    terima kasih ame atas tulisannya………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s