SUDU DHU REPA NGGENA

Ada cerita dari teman orang Batak. Kalau tamu datang malam hari, bila tidak ada pilihan, tangkap saja ayam tetangga buat menjamu. Belakang baru bilang sama yang punya.  Membayar atau memberikan gantinya adalah urusan kemudian. Semuanya dapat memaklumi.  Saya tidak tahu apa masih berlaku sampai sekarang.

Dalam budaya orang Negekeo ada istilah sudu dhu repa nggena (memenuhi ukuran jengkal dan depa yang diperlukan) hampir mirip dengan budaya Batak. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat yang masih kuat mematuhi hukum adat. Sebagai masyarakat adat, orang Nagekeo merasa terikat dengan keluarga besar (kae ari sao tenda) dan kelompok masyarakat luas (nua oda ne’e udu eko). Dalam kehidupan harian  masing-masing mengurus diri dan keluarga kecil sendiri. Tetapi dalam berbagai urusan masing-masing merasa terikat satu sama lain. Ada ikatan kekeluargaan yang sangat solid.

 Sudu dhu repa nggena adalah perwujudan sikap hidup masyarakat komunal. Rasa kekeluargaan yang mengarah pada rasa memiliki bersama. Apa yang dimaksudkan dengan sudu dhu repa nggena? Sudu dhu repa nggena berarti ukuran sesuai dengan yang dinginkan. Budaya sudu dhu repa nggena biasa dikaitan dengan keperluan membangun rumah.

 Rumah adat orang Nagekeo, teristimewa di wilayah pesisir selatan terbuat dari pohon kelapa. Tiang-tiang rumah terbuat dari batang pohon kelapa, yang hanya dikupas kulitnya dan dirapihkan seadanya. Pengikat antar tiang adalah balok-balok, kuda-kuda dan ring-ring atap semuanya terbuat dari pohon kelapa. Pohon kelapa di belah dan dibersihkan dengan menggunakan kapak atau parang. Untuk membangun sebuah rumah membutuhkan banyak pohon kelapa, yang sudah berusia tinggi. Hasil kebun sendiri sering tidak mencukupi kebutuhan pembangunan sebuah rumah.

“Sai ta ponggo ?” (siapa yang menebang pohon). Sebuah pertanyaan bernada kesal. Pemilik lahan sering dibuat kesal ketika menyaksikan ada pohon kelapa atau bamboo yang sudah ditebang tanpa ijin. Kemudian baru tahu dari orang lain bahwa yang menebang seorang dalam kekerabatan keluarga besar. Pohon kelapa dan pohon bamboo sering diambil seperlunya tanpa ijin. Pohon-pohon itu ditebang karena ada kebutuhan. Orang bisa memotong atau mengambil apabila menemukan sesuatu sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan (sudu dhu repa nggena) untuk pembangunan.

Sudu dhu repa nggena sebuah kebiasaan adat yang sudah mulai ditinggalkan sejalan perkembangan kesadaran hidup ekonomis.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

3 Responses to SUDU DHU REPA NGGENA

  1. yulius says:

    wahhhhh om,,,,filosofi bangattt,,, !!! aku suka dengan penjelasan ini,,,,,, !!!!

  2. Kris Bheda Somerpes says:

    om, tulis mogha tentang tula jaji…kami generasi sekarang masih belum utuh memahaminya…

  3. tanagekeo says:

    @ Kris Bheda: Modo napa jao tulis mengenai Tula jaji. Niat jao sebenarnya mengangkat kembali kebiasaan masyarakat Keo. Karena itu tidak heran kuwu si’e, mbeli, uta wona menjadi topik nostalgia. Jao minimal seminggu sekali berkomunikasi dengan sira reta nua termasuk pak Paskalis, khusus dalam kaitan dengan pembangunan kapela ST. Raphael Watunggegha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s