Pili Dimara Memperoleh Tanpa Kerja Keras

Suatu pagi, kira-kira jam 6.30 WIT ada bunyi ledakan di tanjung sebelah barat kampung kami. Orang-orang pantai seperti kami segera berlari menuju sumber ledakan. Dari jauh kelihatan sebuah perahu tanpa layar sedang mengapung disana. Orang segera mencebur dan berenang ke dekat perahu. Saya yang masih kelas 4 SD juga ikut berenang. Kami semua memperebutkan ikan-ikan korban ledakan bom. Saya kembali ke darat dengan dua ekor ikan lumayan besar. Begitu saya sampai ke darat dua orang polisi pamong praja dari Kecamatan berdiri dekat kami. Perahu sudah menghilang dikayuh menjauhi lokasi. Mereka takut ditangkap. Polisi menanyakan saya dengan keras: “Siapa yang bom? Cepat jawab”, saya katakan tidak tahu. Waktu itu ada bapak Yoakim Pita Mbeu, kepala desa kami berdiri tak jauh dari situ. Saya ketakutan sambil menjawab tidak tahu, kedua tangan saya menyorongkan dua ekor ikan ke arah polisi. Polisi tidak mengambil ikan, dan saya membawa ke rumah lalu ke sekolah. Ini pengalaman traumatis saya di hadapan polisi. Polisi memang selalu memburu para pembom. Tetapi tetap saja masih ada yang melakukan itu di wilayah pantai kami.

Ketakutan menghadapi polisi setelah ada bom meledak di laut tidak hanya menjadi pengalaman saya sendiri. Saudara saya Cyrillus bercerita sambil tersenyum dan menahan tawa. Seorang bapa,orang kampung dari Maunori dibuat ketakutan. Dia sedang memegang beberapa ekor ikan di pantai Dowo Noli.. Polisi membentak menanyakan siapa pelaku ledakan. Sang bapa gelagapan dan langsung bilang dalam bahasa gado-gado: “Tidak pak, ini saya pili dimara.” (Tidak pak ini saya pungut di bibir pantai). Beberapa orang menyaksikan situasi ini. Cerita pili di mara menjadi buah bibir orang Maunori. Suatu saat ada darma wisata siswa Sekolah Guru (SPG) Boawae ke Maunori. Mereka menginap di salah satu rumah warga. Dalam bicara santai ada seorang siswa mengungkapkan kegembiraan sambil bilang ini pili dimara ko. Bapa Ndode hadir juga. Bapa Ndode muka merah. Dia langsung angkat bicara dengan nada marah agak membentak:” ngedo, pata puki ta ine te simba mona pota”. -terjemahannya bisa tanya pada  Ine Ema, orang Worowatu yang tinggal di Mauromba. Suasana sempat hening, tapi tak lama kemudian larut kembali dalam sukacita gaya anak sekolahan. Ungkapan pili dimara sampai kini masuk dalam kosa kata harian berarti mendapatkan sesuatu tanpa kerja keras, gratis atau pro deo. Terima kasih pada bapa Ndode.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Pili Dimara Memperoleh Tanpa Kerja Keras

  1. hahahahahahaha…om t cerita lucu tuu mbee, jao de mbeo me te ngara asal muasal frasa ‘pili dimara’ puu ena bapa ndode…hahahaeee…cerita unik, menyentuh, inspiratif….stress jao pota mbeja

  2. dr. Reza says:

    Yoakim Pita Mbeu itu kakek buyut saya…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s