Kemarau Nagekeo Petaka Dan Hikmah Rakyat Kecil

Saudaraku Anton menelpon mengatakan: ” Ngedo kami ndia dera mere’, tu’u ngae, dhapi uwi kaju tu’u mbeja. Bhide emba te..? ” Bhide emba te…sebuah ungkapan ketidak berdayaan. Tidak tahu lagi jalan keluarnya.  Pada hari raya paska, adik-adik saya bersama keluarga berkunjung ke rumah. Sudah biasa, Natal dan Paska atau Tahun Baru kami berkumpul. Dan rumah saya sebagai tempat berkumpul. Tidak selalu ada makanan istimewa. Seperti kali ini kami bakar ikan di depan rumah.  Tungkunya menggunakan veleg (roda) mobil yang sudah dibuang dan dijadikan anglo. Di depan rumahku ada munde uta, ikan dibakar sambil dioles mentega, dan disrimi air jeruk mengeluarkan asap  wangi ae munde  menggugah selera makan. sambal kecap menanti di meja. Sedap…

Bhide emba te (Bagaimana ini…) Dalam posting-posting terdahulu saya pernah menulis bahwa ata Ma’u Ghoe wodo wata papa mena mulai menampakkan mbo’o mbu. Muku poke dhoa. Uwi kaju ti’i wawi. Sekarang jangankan jagung, batang ubi kayu saja tidak bisa bertahan hidup. Musim kemarau panjang.  Sambil ngobrol di depan rumah kami bakar ikan. Seorang saudara saya Albert sambil senyum berkomentar. “Ini kutukan atas kesombongan ata Lomba ta negha bhia ka uwi kaju.”  Katanya biar orang Romba belajar lagi menghargai semuanya dan berusaha mengolah dan mengawetkan. Saya jadi ingat masa kecil, kami makan gaplek (uwi kaju tu’u). Pengolahan sederhana. Umbi singkong dikupas, dibelah dan di jemur. Uwi kaju tu’u kose ne’e ndoke nio sudah jadi pilihan terakhir. Uwi kaju tu’u bisa direbus saja, atau direndam dulu semalam kemudian direbus. Uwi kaju sedikit mbaru, lagu dhapo atau uwi kaju rumu berwarna agak hitam kemudian direbus, ka ne’e nio regu sedap juga. Tetapi  sekarang tidak banyak yang melakukan itu lagi. Kehadiran beras raskin mengalihkan pola makan orang kampung.   Kemarau panjang sebuah petaka. Tetapi pengalaman selalu memberikan pelajaran berharga. Orang Mauromba harus bisa menghargai lagi uwi kaju,  jawa  ne’e muku (singkong, jagung dan pisang), itu hikmah yang dipetik.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s