Hari-Hari Suci di Desa

 

Pesona Wodowata dari halaman gereja Maunori

Setiap kali merayakan hari besar agama, saya teringat akan pengalaman unik masa lalu di kampung.  Minggu Palma, kami biasa menyebutnya Minggu Daun-Daun. Ada perarakan daun palma mulai dari halaman depan gereja. Misa jam 8.00 pagi WIT di gereja paroki Hati Kudus Yesus Maunori. Tempatnya persis di atas bukit. Orang dari tempat yang jauh sudah meninggalkan rumah sejak dini hari sekitar jam 05.30. Orang dari Ngera, Dewa Wajo, Mabhambawa dari bagian utara dan kami dari Timur Ipi Mbuu Keka Kodo, Bengga ,Daja, Mauromba  harus bangun sangat pagi. Segala persiapan sudah sejak hari Sabtu. Hari Sabtu itu hari pasar di Maunori. Kalau mau beli pakaian baru harus hari Sabtu, kalau lewat pasti akan tidak punya pakaian baru. Tetapi orang kampung kami tidak terlalu peduli dengan pakaian baru, karena memang miskin. Pada perayaan Minggu Daun-Daun yang paling berkesan adalah ketika kotbah. Biasanya agak lama. Kami anak-anak ramai menganyam daun palma menjadi kipas. Ada kegaduhan karena sebagai anak desa kami kurang disiplin dan banyak ngobrol dan saling sikut. Upacara penerimaan komuni sangat lama. Hanya ada pastor satu orang dan melayani ribuan umat. Karena umat sangat banyak maka pada saat komuni ada beberapa koor bergantian menyannyi. Pada saat komuni seperti layaknya lomba paduan suara.  masing-masing kelompok menampilkan yang terbaik. Saya selalu ingat kami orang Romba dalam anggota koor kami  ada orang Muslim masuk gereja dan bernyanyi. Apalagi bila musik suling disertakan, pasti ada anak sekolah beragama Islam ikut meniup suling atau bombardom. Saya pernah meniup  bombardom besar. Hanya ada tiga nada  bas yaitu C, F dan G (Do, Fa, Sol). Dirigen akan menunjuk tangan ke atas untuk Do dan ke sampaing untuk Fa serta ke bawah untuk Sol.

Pada hari Kamis Putih ada misa malam hari. Menunggu misa malam kami berkumpul di ruang kelas SD Maunori. Orang Wajo atau Negera mereka suka membuat api unggun sekedar memberi penerangan dan penghangat malam hari. Saya masih ingat ketika saya petama kami berkenalan dengan cahaya listrik pada usia 5 tahun. Bapa saya menjelaskan bahwa listrik itu berbahaya. kalau lagi nyala dan bila dipegang tangan atau badan kita akan lengket. Ketika saya lihat satu tongkat kayu, gagang tempat kolekte menyentuh lampu, lampu bergoyang, saya bertanya mengapa tidak lengket. Waktu itu saya lihat listrik sebagai sesuatu yang luar biasa.  Perarakan Sakaramen termasuk salah satu upacara yang berkesan. Imam membawa monstrans di bawah tenda kain yang diusung oleh 4 orang. Sementara umat bernyanyi Tantum Ergo Sacramentum….Setelah setiap ayat ada bunyi dari kayu-kayu sebagai aba-aba memberi pengormatan. Umat berlutut menyembah. Semua khusuk dan hormat.  Hari Kamis Putih selalu pada hari bulan purnama. Dan setahu saya tidak pernah ada hujan. Karena itu saya agak heran hujan pada hari kamis Putih kali ini. Hari Jumat Agung biasa ada lagu ratap. Semua orang Maunori pasti ingat lagu Ame.ee..E ame paawe ngao ee…Tuhan Yesus ee… Menyusul malam paska ada upacara agung menyalakan lilin paska. Lilin dinyalakan dari api alam. Orang kampung membuat api darimematuk sepotong besi pada batu merah. Percikan api menyambar rabuk (serbuk dari pohon enau). Api dari rabuk kemudian ditiup-tiup pada cabikan sabut kelapa. Di muka gereja ada satu api unggun yang dipersiapkan untuk menyalakan lilin paska. Umat mengelilingi tempat itu. Setelah lilin besar di nyalakan umat perarakan masuk gereja. Dan terdengar suara lantang pastor menyanyikan lagu TERANG KRISTUS…… umat menjawab SYUKUR KEPADA ALLAH…..semua berlutut.  Selama tiga hari berturut-turut orang seperti tidak merasa lelah mendaki bukit ke gereja. Iman mengalahkan segalanya. SELAMAT PASKA….

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hari-Hari Suci di Desa

  1. Hironimus E. Mbeko says:

    oe om, melihat foto dan membaca ceritanya, terbayang untuk wado rade nua. Teringat juga saat masih kecil, saat umat sedang misa, kami main perosotan di saluran air samping kiri gereja, yang sekarang sudah dibuat jalan menuju nuamuri

  2. tanagekeo says:

    Kami ata Lomba Daja ngara wado pu’u rade gereja ena dera mere. Tuka ele re’e-re’e. Mbepu taha tado. Kami nai nio ari mena ngadu Ndai. Dau tanjo. Nambu ke ata mona todo mengga. Asa ma’e mendi. Nambu ke sao dae woso bhide nambu te. Nua tungga reta Kodiinggi nee Pe’ipo’o. Maundai tungga sa’o esa rua tedu wi’e.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s