Nagekeo Tanah Tak Bertuan

 

Pernah terbersit keinginan untuk memiliki sebidang lahan di wilayah kabupaten Nagekeo. Sebagai seorang anak lelaki tertua saya memiliki hak atas beberapa bidang tanah di Mauromba, Kecamatan Keo Tengah. Semua tahu apa artinya memiliki harta semacam itu. Orang tua menanam banyak pohon kelapa. Kalau saja saya tidak pergi merantau, maka penghasilan saya adalah dari hasil buah kelapa. Apakah itu cukup? Pasti tidak akan cukup. Karena semua orang desa yang punya kepatuhan penuh pada hukum adat menanggung kewajiban-kewajiban adat yang melampaui hasil bumi yang dipetik dari lahan warisan itu. Apalagi kalau semua saudara berkumpul di satu tempat. Bayangkan saja kalau semua anak laki-laki bapak sebanyak 6 orang tinggal di kampung. Semua orang merasa ikut memiliki. Hak seorang anak sulung hanyalah tanggungjawab menjaga harta dan memikul kewajiban adat. Tanah warisan di kampung adalah hak adat dan merupakan hak milik kolektif.

 Membeli sebidang tanah di tempat lain merupakan suatu kesempatan mendapat pengakuan hak pribadi atas tanah. Saya pernah berkeliling di kota Mbay, ibukota kabupaten Nagekeo. Sempat melihat beberapa lokasi disana. Niat itu diurungkan setelah keinginan mendapatkan kesempatan kerja di sana tidak kesampaian. Seorang sahabat mengusulkan membeli tanah miliknya di wilayah Ndora, persisnya berlokasi di sekitar Roe. Setelah meneguk moke putih sebagai sajian selmat datang, kami berkeliling. Moke puith adalah nira dari mayang buah pohon enau. Nira berwarna putih susu, beraroma ragi basih, rasa manis dan pahit bercampur. Di sebelah kebunnya yang ditanam padi dan berbagai pohon terhampar pada berbukit-bukit. Beli tanah saya, katanya. Yang di maksudkan dengana tanah saya adalah pengakuan milik atas tanah yang pernah dia pagari. Hamparan tanah luas puluhan hektar adalah milik sukunya. Sekuat dia memagari dan mengolahnya tanah itu diakui sebagai milik pribadi. Tidak ada orang dalam keluarga besar yang berkeberatan, selama semua dilakukan oleh seorang dalam keluarga besar sukunya. Pengalihan hak tanah dari seorang pengolah tanah kepada orang di luar kelompoknya seolah tidak memiliki kekuata hukum sama sekali. Karena memang sebahagian terbesar tanah di Nagekeo belum disertifikasi. Ini yang kelak akan menyulitkan transaksi pengalihan hak atau proses jual beli legal. Ada hamparan tanah luas dibiarkan jadi lahan tidur, tidak bertuan dan tidak produktif. Tanah tidak bertuan itu ada di Nagekeo.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in TANAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s