Sertifikasi Tanah

Posting saya dengan judul Dunia Tanah ternyata menarik perhatian sejumlah pembaca. Yang ditulis sebenarnya tidak berkaitan dengan masalah tanah itu sendiri. Karena saya  hanya melihat  secara subyektif dampak dari bisnis pertanahan, dimana para calo atau di Jawa Barat disebut biong mendapat kelimpahan uang. Uang kaget ini mempengaruhi pola hidup seorang. Dari blog stats (statistik pengunjung blog) saya lihat ada orang tertarik membaca tulisan yang berkaitan dengan tanah. Sebagai seroang anak Nagekeo saya teringat akan tanah di daerah ini. Sejauh mata memandang yang disaksikan adalah padang, bukit dan gunung  tak tergarap. Lahan-lahan tidur mau pun yang digarap sebahagian terbesar belum disertifikasi. Tanah adat dibiarkan terlantar tak bertuan dan pasti tak memberi nilai apa pun selama tidak diolah. Saya terinspirasi untuk menulis lagi tentang dunia tanah. Saya bukan seorang pegawai di bidang pertanahan atau seorang Notaris Pembuat Akte. Seorang pegawai kantor Notaris sekali pun saya belum pernah.  Semoga berbagai pengalaman pribadi memberi inspirasi dan referensi.

Pengalaman adalah guru. Sebuah ungkapan biasa tetapi kebenarannya luar biasa. Pengalaman memberikan kesadaran. Kesadaran bahwa kita  masih belum paham akan  suatu hal. tKesadaran  ini memacu untuk belajar. Ketika bekerja di satu perusahaan pakaian jadi (garment), perusahaan ingin membeli tanah untuk mendirikan pabrik baru di Bekasi. Pimpinan perusahaan kami memberikan saya fotocopy Sertifikat (Tanda Bukti Hak) atas sebidang tanah yang akan dibeli. Saya disuruh pergi ke kantor Pertanahan Kabupaten untuk mengecek keaslian dokumen.

Dalam setiap Sertifikat  Tanah (Tanda Bukti Hak)  yang dikeluarkan oleh Badan Pertanahan Nasional selalu mencantumkan  Nomor Hak Milik dan Nomor Surat Ukur. Salah satu  halaman dari pada Buku Tanah atau Buku Sertifikat Tanah, yang melengkapi Surat Ukur adalah gambar situasi yang menjelaskan batas tanah. Pengalaman pertama saya  di kantor Badan Pertanahan Nasional  adalah mengecek kebenaran data. Dengan membawa fotokopi sertifikat peta atau gambar situasi diletakan di bawah  transparan peta situasi berukuran besar dan dicocokkan. Sedikit uang saya berikan kepada petugas kantor atas jasa baik dan kesabarannya mencari dan membuka peta situasi yang besar itu. Dari kantor ini dapat diperoleh data catatan tentang kebenaran kepemilikan tanah tersebut sesuai dengan dokumen yang ada di tangan saya. Karena setiap Buku Sertifikat Tanah selalu ada halaman  Pendaftaran Pertama dan  halaman Pendaftaran Pengalihan Hak, Pemmbebanan dan Pencatatan Lainnya. Halaman Pendaftaran Pengalihan Hak bisa beberapa halaman  untuk menampung berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi karena jual beli atau pengalihan hak. (Dalam posting berikutnya akan kami tulis tentang berbagai kelengkapan dokumen dalam proses jual beli tanah).

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in TANAH. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s