Nua Lomba Kampung Halaman Sebuah Potret Diri

Pagi ini saya mendapat miscall. Sekali bunyi berhenti. Ini pasti dari kampung. Saudara saya Anton menelpon. Bagaimana keadaan di kampung? Katanya sekarang musim kemarau panjang. Kekeringan melanda daerah minus ini. Sampai singkong saja tak kuat menahan terik matahari berkepanjangan. Saya masih ingat ketika masih kecil. Wuda mbepu (bulan lapar) adalah ungkapan mengatakan bahwa masyarakat berada dalam masa peceklik. Pada masa sulit itu sayur yang ada cuma daun singkong. Saya masih ingat juga di halaman rumah kami ada dua batang pohon kelor (uta wona). Dengan sedikit beras atau jagung serta ubi dijadikan bubur dengan banyak air. Itu yang membuat kami bertahan.

Hujan batu di negeri sendiri, hujan emas di negeri orang, lebih baik di negeri sendiri. Rindu akan kampung halaman sama seperti melihat potret wajah sendiri. Potret wajah sendiri seperti memiliki multi warna yang selalu menarik untuk dilihat lagi. Demikian betapa pun kondisi kampung halaman, dia adalah tanah tempat tumpah darah selalu menarik rindu luar biasa untuk kembali. Kampung halaman bagaikan sebuah magnit yang selalu menarik seorang kembali. Kembali ke kampung halaman bukan sekedar nostalgia. Rindu kampung halaman bagaikan sebuah daya gravitasi. Setinggi mana pun kita membubung di angkasa selalu ada tarikan untuk jatuh ke tanah. Karena itu tidak heran menyaksikan acara mudik lebaran. Begitu banyak masalah dihadapi, mudik lebaran adalah bentuk dari pelampiasan rindu itu. Enak makan dan tidur bergelimang uang di kota, sekali mudik lebih menyenangkan dari seribu hari di kota. Transmigrasi lokal dengan bedol desa tetap tidak kuat menahan rindu pulang ke desa asal. Nasi liwet dan sambal cobek lebih sedap karena disantap dalam semangat kekeluargaan. Apakah itu mistik? Kampung halaman adalah tempat pertama kita melihat matahari. Kampung halaman tempat ari-ari dikuburkan. Orang Keo tidak menanam ari-ari di dalam tanah. Ari-ari kami ditaruh dalam periuk bocor atau anyaman kemudian digantung disebuah pohon. Tumpahan darah dan ari-ari itulah yang mungkin menjadi gaya gravitasi magnetis menarik untuk selalu kembali ingat kampung halaman. Saya pikir mungkin bukan itu. Yang membuat saya selalu ingat kampung adalah masa kecilku. Aku selalu merasa sebagai anak dari orang sekampung. Setiap ibu selalu saya panggil ema ka’o (mama gendong). Setiap orang dengan penuh kasih sayang mengendong kami. Teristimewa pada saat kami mengalami kesulitan. Terimakasih dan hormatku pada ema ka’o. Kini tinggal sedikit orang yang sisa, selebihnya mereka telah berpindah ke rumah di perkampungan abadi di surga. Baru-baru ini seorang ema ka’o saya meninggal, Thresia Ude.  Requiscat in Pace (RIP). Semoga Tuhan memberikan istirahat dalam kedamaian abadi buat para ema ka’o.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s