Ala Bisa Karena Biasa

Ini pengalaman pribadi dimana suatu yang sangat sederhana tidak bisa dikerjakan karena tidak biasa. Saya diminta memasang kaus lampu petromax atau orang Flores menyebutnya lampu gas. Angin yang dimpompakan disebut gas. Gas ini yang mendorong minyak naik melalui tiang dan terpancar  melalui sebuah lobang kecil menyirami kaus lampu yang telah panas dan menyala. Saya diminta tolong memasang kaus lampu. Saya menghindari karena tidak tahu. Waktu itu di Mauromba tidak sampai 5 lampu petromax (lampu gas)ada di sana. Sebahagian besar orang desa masih menggunakan lampu templok, bahkan masih ada juga yang menggunakan botol tinta sebagai wadah lampu pelita. Ketika saya di Mataloko sudah ada penerangan listrik yang dihasilkan dari sebuah generator besar untuk semua asrama dan gereja serta rumah pegawai disana. Selain Mataloko dan Bajawa semua kampung masih dalam gulita. Ketika masih SMP kelas satu, saya dan teman-teman melakukan permainan berbahaya. Sambil memegang senduk menyentuh kabel yang sedang telanjang. Sampai sekarang saya masih ingat kejutan mematikan itu. Senduk terlempar, tangan saya bergetar dan sengatan arus listrik terasa di ketiak saya. Luar biasa mengagetkan dan menakutkan. Ketawa para orang dungu kedengaran ramai.

Banyak iklan lowongan pekerjaan menekankan  pengalaman selain pendidikan dan usia sebagai syarat penerimaan. Ketika saya mendapat posisi menerima karyawan saya berpikir terbalik. Kapan seorang baru sekolah mendapat pengalaman. Beri dia kesempatan mendapatkan pengalaman itu. Saya lebih banyak menerima orang yang berpotensi dan baru lulus. Berbagai klub sepakbola dunia mempunyai sekolah sepak bola sendiri. Di tempat ini para anak ingusan berbakat besar dididik dan diberikan kesempatan bermain bola. Dan hasilnya berbeda seperti di negeri kita. Yang ada hanya pengamat dan orang yang bersuara besar tentang permainan bola. Pengalaman sekali lagi menentukan.

Banyak orang sampai takut mengurus sendiri KTP atau passport. Pada hal urusan ini begitu sederhananya. Mereka menyuruh orang lain mengisi formulir, yang semua informasinya datang dari mereka sendiri.  Seorang lelaki ingin membeli sepatu. Ketika sampai di toko ditanya sama penjaga toko. Nomor berapa kakinya?  Sang pembeli merogoh kantong baju dan celananya. Kemudian dia berkata sebentar saya kembali ke rumah dulu. Saya lupa lidi ukuran kaki saya. Rupanya ketika di rumah kakinya diukur dengan sepotong lidi. Lidi lupa dibawa. Sang penjaga tertawa dan mengatakan mengapa ambil lidi. Kakinya sendiri ada.  Seperti KTP dan Pasport informasinya datang dari diri sendiri.  Memiliki informasi berarti memiliki pengetahuan paling sedikit tentang diri sendiri. Tetapi karena tidak pernah melakukannya sendiri atau mengalami sendiri maka sekedar menjelaskan tentang diri sendri butuh orang lain. Supaya tidak sekedar bersuara lantang sebagai pengamat, kita harus siap melakukan sesuatu. Berbuat dan mengalaminya sendiri. Pengalaman adalah guru.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s