Pelayanan Diutamakan

Sore itu saya dan ketiga orang  adik  baru mengadakan perjalanan dari kampung di Mauromba dengan mengendarai sebuah mobil Avanza hitam berplat Jakarta. Kami berada di kampung karena ayah dan guru pertama kami dipanggil Tuhan pulang ke pangkuan dan kerahimanNya. Seorang adik yang lain masih ingin lebih lama berada di kampung melepas kangen bersama keluarga dan ingin bernostalgia di kebun-kebun kelapa tempat dia menghabiskan masa remaja sambil bekerja keras. Dia pernah menjadi andalan memanjat kelapa. Lebih dari 100 pohon kelapa yang sudah berbuah pernah dipanjatnya sendiri. Dia mengenal ciri buah setiap pohon kelapa kami dari ukuran serta warna kulit sabut kelapa kami, bah kan dari bentuk  batok buah yang sudah dikupas.  Ketiga adik saya yang lain ingin segera ke Jakarta karena tuntutan pekerjaan. Kami mampir di salah satu agen penerbangan di Ende. Hari baru pukul 15.00 WIT. Ada empat wanita berpakaian seragam di counter. Tidak ada satu pun yang bersikap ramah menyapa. Tidak ada yang peduli sampai kami menanyakan sesuatu. Tempat penuh! Jawab tanpa basa-basi. Suasana sangat kaku membuat kami segera meninggalkan tempat itu. Setelah menikmati makan malam di rumah keluarga kami meninggalkan Ende dan meneruskan perjalanan pada malam hari ke Maumere,  sambil dalam perjalanan memastikan kami bisa dapat ticket pesawat melalui saudari kami Ndese di Maumere. Adik-adik saya mendapat ticket untuk penerbangan jam 06.00 WIT ke Kupang dan selanjutnya melakukan penerbangan ke Jakarta.

Suasana pelayanan  yang kami alami sama seperti yang ada di kantor penerbangan Merpati di Ende. Pelayanan di kantor perwakilan di Ende mungkin ranking paling bawah di negeri ini. Ada seorang lelaki dan seorang wanita berpakaian seadanya sangat tidak rapih. Pada kesempatan lain saya ke kantor pos di Danga, Mbay. Waktu itu saya ingin membeli meterai. Satu kantor pos hanya ada satu orang pegawai. Tidak bisa diharapkan keramahan pelayanan di sana. Di Mbay saya pernah makan di rumah makan milik pak Hasan. Ternyata banyak pegawai pemda Nagekeo yang mengunjungi tempat ini. Ada halaman parkir cukup luas. Mengapa banyak pegawai pemda di sana? Pak Hasan mengingatkan saya akan restoran-restoran orang Korea. Pemilik datang menyambut, menyapa tamunya. Restoran Korea sekarang makin banyak di Jakarta. Ada ikatan antara pemilik dan tamu karena pelayanan. Ketika saya bertualang berbulan-bulan di negeri ginseng saya menyaksikan sendiri bagaimana para tamu dilayani di restoran orang Korea. Pemilik selalu menyapa tamunya. Restoran berjejer dengan jenis menu sama. Tetapi semuanya ramai dikunjungi. Para tamu tahu dimana berlabuh, karena pelayanan.

Tadi malam setelah makan malam bersama rekan-rekan bisnis dan menghantar teman Nyoman dan Poliin ke hotel saya kembali ke rumah. Di jalan Taman Mini ada sebuah pompa bensin. Saya menyodorkan uang seratus ribu untuk beli bensin. Penjaga pompa bensin seorang lelaki muda berseragam menerima dan langsung menekan tombol angka kemudian mengisi. Semuanya dilakukan dalam keadaan bisu. Dia menutup tangki, saya meninggalkan pompa bensin.  Dalam perjalanan menuju rumah saya teringat akan perjalanan saya dari Jakarta ke Flores atau perjalanan Surabaya Jakarta dan beberapa kota lainnya. Semua ini adalan perjalanan solo. Sendirian dalam kendaraan. Banyak pompa bensin yang saya singgah. Masuk dalam ingatan saya dua pompa bensin Turekisa (gambar atas)di kabupaten Ngada dan  pompa bensin Boawae dikabupaten Nagekeo . Kedua pompa bensin ini milik Serikat Kalam Allah. Dua tempat ini pompa bensin masih baru.  Kamar kecil sangat bersih. Ada komunikasi yang baik pengemudi dengan petugas pompa yang berpakaian seragam.

Sekarang pompa bensin telah dibangun di mana-mana dengan jarak yang tidak terlalu jauh satu sama lain. Selain Pertamina ada Shell dan Petronas hadir memperebutkan pangsa pasar bahan bakar. Petronas hadir dengan sebuah penampilan berbeda. Ada tempat belanja  dan resrtoran 24 jam dan ATM dan tempat isi angin gratis. Parkir luas bagi yang ingin menikamti makanan seperti di Jalan Alternatif Cibubur. Shell juga dengan warna kuning jingga tampil beda juga dalam pelayanan sejak di pintu masuk pompa bensin.  Dan akhir ini Pertamina mengekor. Ada wanita cantik menjaga pompa bensin. Di berbagai tempat ada sapaan manis dari petugas pompa. Setelah menerima uang, penjaga pompa mengulangi menyebut jumlah dan setelah menekan tombol mengingatkan pengemudi bahwa stand hitungan dari nol. Setelah tangki ditutup terdengar ucapan terima kasih, selamat jalan atau hati-hati di jalan. Kemudian mengarahkan untuk boleh mengisi angin gratis. Keramahan menjadi ekspresi kesiapan hati untuk melayani. Menyenangkan. Hanya itu yang menjadi daya tarik. Lihat saja pelayanan di bank sejak masuk pintu. Sekarang jaman sudah berubah. Kebutuhan menciptakan peluang. Semua orang memperebutkan peluang itu. Tetapi setelah orang memanfaatkan peluang menjadi sebuah bisnis, yang sisa adalah bagaimana bersikap pada kliennya. Ramah dan melayani. Pembeli adalah raja, sebuah ungkapan kuno yang masih terus bertaring.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s