Penerimaan PNS Nagekeo

Hari panas terik. Matahari menerpa ubun-ubun. Hampir tak kelihatan ada orang yang mengembangkan payung  melindungi kepala dari terik sinar surya. Ada yang berkeringat. Banyak wajah berminyak campur keringat. Berpakaian seadanya. Hampir tidak ada yang berpakaian sangat rapih atau trendy. Mereka datang dengan kendaraan umum. Ada yang naik truck kayu. Itu adalah bis bagi orang Nagekeo. Bis kayu sebuah pemandangan biasa di sana. Ada yang mengeluarkan uang transport mahal naik ojek sepeda motor dari desa puluhan kilo meter dengan biaya minimal Rp. 100.000,- perjalanan pp.  Mereka menunggu berjam-jam. Sang penguji belum juga datang. Ada yang bersungut-sungut. Banyak orang yang kelaparan. Sementara Mbay belum punya banyak warung sederhana. Peluang bisnis tidak dibaca oleh banyak orang disana. Andaikan saja pada perhelatan semacam itu ada seorang yang menyiapkan nasi bngkus murah, pasti akan laku keras. Jamin pasti ludes. Patut disayangkan peluang hilang sia-sia. Ini sebuah pemandangan yang terjadi pada saat test penerimaan pegawai negeri sipil di ibu kota  kabupaten baru Nagekeo.

Peluang mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai negeri sipil diperebutkan oleh banyak orang. Para calon tenaga kerja ini tamatan dari berbagai perguruan tinggi di negeri ini. Yang ikut berjejal di Mbay tidak hanya putera/puteri daerah Nagekeo. Tetapi banyak juga berasa dari kabupaten lain di Flores.  Ada yang mengeluh mengapa begitu banyak calon dari daerah lain. Informasi ternyata datang dari para pegawai di ibukota yang memang berasal dari kabupaten lain. Mereka menyebarkan informasi bagi anggota keluarga dan kerabat  dekat mereka. Primordialisme masih kental di negeri ini. KKN masih jadi noda hitam tak tercucikan.  Prioritas putera daerah terkadang dipinggirkan.

Lulus test suatu berita menggembirakan. Peserta yang lulus masih dihadapkan pada beberapa persyaratan. Seorang calon yang lulus pernah mengeluh. Karena  selain ijazah perlu tanda lulus. Dan yang lebih memusingkannya adalah dia diminta membawa fotokopi akte pendirian perguruan tingginya. Persyaratan terakhir ini yang dirasa paling berat baginya. Perguruan tinggi di pulau Jawa tidak akan begitu mudah memberikan aktenya kepada siapa saja. Salah seorang bingung dan mengeluh sambil mengatakan:” Bisa nggak gue dapat ini.” Ada-ada saja.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s