Gereja Santo Raphael Watunggegha

Gereja Santo Raphael Watunggegha sesungguhnya sebuah kapela. Sebuah stasi kecil dari Paroki Hati Kudus Yesus Maunori. Lokasinya sekitar 3 km dari gereja paroki. Untuk ikut beribadah di gereja paroki umat berjalan kaki. Bagi orang kota suatu rentang jarak yang terlalu jauh. Tetapi bagi masyarakat desa kami berjalan sejauh itu hal biasa. Agar dapat mengikuti ibadah tepat waktu kami harus bangun sangat pagi dan meninggalkan rumah minimal satu setengah jam sebelum kebaktian. Gereja paroki Maunori terletak diatas sebuah bukit. Menaiki tanjakan bukit itu sungguh sangat melelahkan.

Bulan Agustus tahun 1950 sebuah Sekolah Rakyat didirikan di Romba.Tempat sekolah itu disebut Kubaku. Ku berasal dari kata k lema (lahan) dan kata baku berasal dari kata bangku (bangku sekolah).  Kubaku berarti lahan dimana ada banyak bangku sekolah. Tetapi sebagian orang menyebutnya ku tonda (tempat orang menyimpan sampan kecil ana tonda).  Sejak itu mulai ada kunjungan pastor ke wilayah ini. Karena kesulitan pastor, kunjungan paling banyak tiga kali dalam setahun.  Kebaktian dilakukan di dalam ruang kelas. Setahun kemudian masyarakat membangun sebuah kapela beratapkan alang-alang dan berdinding pelepah kelapa (kobha tende). Kobha tende adalah pelepah kelapa yang disayat dengan ketebalan sekitar tiga sentimeter kemudian disatukan dengan menancapkan pada tiga atau empat bilah bambu. Baru pada tahun 1964 dirintis pembangunan sebuah kapela yang lebih baik di Watunggegha.

Sejak tahun 1980 stasi gereja/kapela St. Raphael menjadi wilayah stasi mandiri. Pada hari-hari raya Natal dan Paskah ada upacara misa kudus di tempat ini. Umat menyambut gembira, karena dengan demikian banyak orang tua yang sudah tak kuat berjalan kaki ke gereja paroki  bisa mengikuti kebaktian. Jumlah umat terus bertambah. Ruang gereja menjadi tidak memadai untuk menampungnya. Bila hari raya sebahagian umat mengikuti ibadah dari luar gedung.  Saat ini di halaman depan dan samping gereja selalu dipasang atap terpal  untuk melindungi umat yang beribadah dari terpaan terik matahari atau pun hujan.

Muncul gagasan mendirikan sebuah gedung gereja yang lebih luas dan memadai. Panitia telah terbentuk diketuai oleh guru Paskalis So’o. Apabila gereja/kapela Santo Raphael ini terealisasi maka umat yang diperkirakan mendapat pelayanan: Umat wilayah Desa Wituromba Ua, umat wilayah Desa Koto Dirumali, umat desa Pautola (Dirumali), umat desa Worowatu (Maunday dan Kodiinggi), dan umat paroki Riti di wilayah Maunura dan Ipimbu’u.

Membangun sebuah gereja bagi masyarakat miskin Flores, khusus di wilayah Keo Tengah bagaikan membangun sebuah mercu suar. Ada rentang jarak yang jauh antara cita-cita dan kemampuan. Bagai pungguk merindukan bulan. Terlalu muluk untuk dicapai. Panitia Pembangunan menyadari tugas dan tanggungjawab yang tidak ringan. Tekad dan niat memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan kepercayaan bahwa Tuhan sendiri ikut serta dalam karya besar ini.  Panitia Pembangunan gereja/kapela Santo Raphael Watunggegha yakin semuanya dapat terwujud. Semoga.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s