Berguru Demokrasi Pada Orang Kampung Nagekeo

Begitu banyak orang menyayangkan keributan terjadi antar anggota dewan dalam sidang yang ditonton masyarakat luas pada Selasa tanggal 2 Maret 2010. .Anggota dewan termasuk ketuanya adalah pilihan rakyat. Karena itu mereka wakil rakyat. Wakil dari rakyat yang terhormat.Dan karena itu pula mereka patut dihargai sebagai yang terhormat. Sesungguhnya derajat kehormatan perlu dipertanyakan. Rakyat atau anggota dewan sebagai wakilnya. Masih pantaskah mereka menerima penghargaan itu? Perilaku dan tutur kata mereka akhir-akhir ini beda tipis dengan ulah para preman. Para politisi dan preman beda dalam banyak hal. Tetapi sama dalam satu hal yaitu tujuan menghalalkan cara. Tujuan mendapatkan jatah. Seperti preman mereka tidak pernah peduli dengan perasaan rakyat. Mereka hanya memperjuangkan kepentingan diri dan partainya tetapi mengabaikan kepentingan rakyat yang diwakilinya. Rasa hormat kita pada para anggota dewan yang politisi itu mungkin tak lebih dari yang kita berikan pada premanisme. Tidak pantas menyandang kehormatan sebesar itu. Lihat jelas di layar kaca ada yang berteriak huuuu… ada yang bertepuk tangan dan mengacungkan kepalan dan kemudian mengarah pada baku hantam di atas podium pimpinan rapat dewan.  Sebuah rapat dewan perwakilan rakyat yang sangat memalukan.

Setelah lama bertualang di kota Metropolitan, beberapa kali saya ikut dalam pertemuan adat di kampung Mauromba, Keo Tengah, kabupaten Nagekeo di pulau Flores. Setiap pertemuan ada yang dituakan sebagai moderator dan yang menjadi moderator adalah mosadaki. Mosadaki selalu orang yang mempunyai kecerdasan dan wibawa. Para mosadaki punya karisma sehingga disebut mosa wuku udu daki enga eko. Artinya memiliki .karisma untuk memerintah seluruh masyarakat kampung (nua) dari ujung ke ujung (udu eko).Mosadaki sendiri tidak serta merta didapatkan karena kepandaian. Tetapi yang pantas menyandang mosadaki harus punya asal-usul keturunan mosadaki. Karena itu sering terdengar  dia memang ana ko’o mosadaki (Putera dari seorang mosadaki). Kebijakan, kesantuan yang dibangun dari pendidikan keluarga. Mereka disebut juga mosa nua daki oda ( menjadi pemuka kampung). Bagi yang punya kepentingan tidak serta merta berbicara mewakili diri sendiri. Selalu ada seorang dari kerabat “kae ari sa’o tenda (keluarga besar) untuk juru bicara. Juru bicara harus dalam posisi kepala soma (kepala suku). Setiap orang harus memulai bicara dengan menyinggung apa yang dikatakan sipembicara terdahulu. Semua harus mengihindari lompatan ide. Dengan demikian seluruh pembicaraan terfokus untuk mencapai sebuah penyelesaian berupa keputusan bersama. Mosadaki sebagai moderator dan pengambil keputusan akhir harus bijaksana dan netral. ITidak semua orang yang bisa bicara disebut mosadaki. Kepintaran ilmu dari dunia pendidikan tidak serta merta menghantar seorang menjadi mosdaki. Seorang mosadaki memiliki tanggungjawab social. Masyarakat Nagekeo memberi julukan pada mosadaki yang hanya tahu bicara tanpa tanggungjawab disebut mosa ka daki pesa (mosadaki yang hanya datang untuk menikmati makan dan minum saja). Perbedaan pendapat sering terjadi. Tetapi semua dikemukakan kepada moderator. Moderator akan mengkomunikasikan kepada yang berkepentingan. Pihak-pihak yang berkepntingan hanya bisa bicara setelah ada tanggapan dari moderator dan dipersilahkan untuk mengemukakan pendapat. Sangat teratur dan santun. Kesimpulan sementara diambil oleh moderator kemudian dilempar kembali ke forum untuk mendapat tanggapan balik sebelum kesimpulan akhir yang dapat diterima semua pihak. Semua keputusan dalam pertemuan adat adalah hasil musyawarah. Semua keputusan diambil sangat hati-hati. Karena semua keputusan akan dijadikan peraturan tidak tertulis dan yang secara adat mempunyai kekuatan hukum serta dipatuhi.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

One Response to Berguru Demokrasi Pada Orang Kampung Nagekeo

  1. tuu mbee om kita membutuhkan mosa koo udu mbuju daki koo ekolomba yang bisa merangkul dan mempersatukan kita semua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s