Minu Ae Petu Cara Orang Nagekeo Menggalang Dana

Senin 1 Maret 2010 sore seorang menelpon saya. Kami saling menyapa dan sedikit bercerita. Ceritanya dia baru saja keluar dari rumah sakit. Dia sudah pulih dari sebuah kondisi yang sangat memprihatinkan. Biaya rumah sakit telah dibayar, tetapi bebannya terlampau berat untuk dipikul sendiri. Uang yang sangat besar itu merupakan pinjaman. Perlu ada solusi. Dia mengajak para kerabat dan kenalanan dekat untuk membantu. Saya salah satu dari anggota kerabat yang diundang untuk menghadiri acara “minu ae petu.’

Dalam budaya orang Nagekeo  ada dua cara untuk mengumpulkan dana. Cara pertama adalah bou joi.Bou joi artinya mengumpulkan uang, yang dilakukan secara terprogram sama persis seperti arisan. Bou tidak selalu mengumpulkan uang. Bou yang berarti mengumpulkan bisa dalam bentuk barang yang dibutuhkan. Misalnya bisa saja bou semen artinya mereka bisa secara mengumpulkan semen untuk program pembangunan rumah. Kini sudah berkembang kepada jenis barang atau bahan bangunan lainnya. Di desa Wituromba saya lihat ada bou bhaki nio (mengumpulkan balok kelapa).  Membangun rumah tidak sekedar memiliki semua bahan bangunan. Karena biaya pembangunan merupakan beban yang tidak ringan bagi orang desa. Selain biaya tukang, dalam budaya orang Nagekeo membangun rumah menjadi kegiatan adat. Apabila seorang belum siap membangun, teman yang sudah menerima hasil bou akan memilki kewajiban yang tertunda untuk membayar kelak pada saat temannya membangun rumah.

Minu ae petu arti harafiahnya minum air panas untuk menyebut minum kopi hangat. Undangan minu ae petu dilakukan pada pertemuan adat untuk mengumpulkan keluarga besat. Biasanya pada saat membicarakan perkawinan. Semua keluarga besar berkumpul dan bicarakan tentang rencana mengumpulkan mas kawin (belis). Pada saat itu anggota keluarga mendapat tugas untuk memberikan kontribusi sesuai dengan tuntutan adat yang pantas. Karena itu pernikahan adat orang Flores, khususnya Nagekeo tidak menjadi urusan sendiri. Kuda kerbau dan emas berasal dari anggota keluarga besar.  Minu ae petu juga akhir-akhir ini diadakan dalam menggalang dana untuk membiayai uang kuliah anak.

Pada masa lalu seorang anak pergi kuliah atau sekolah menengah harus keluar dari kampung ke kota atau antar pulau yang sangat jauh. Biaya untuk perjalanannya saja sudah jadi beban. Biaya lain , pakaian baru dan uang sekolah awal sebagai biaya utama  pasti lebih besar dari itu. Melalui acara minu ae petu orang berkumpul dan menyumbang. Acara minu ae petu di kampung biasa diadakan malam hari. Acara semacam ini disertai makan malam besar. Pasti ada babi atau kambing yang disembelih. Sebelum makan malam orang tidak bicarakan tentang permintaan mengumpulkan dana. Karena dalam adat ketika orang datang disajikan rokok dan minum kopi sambil bercanda. Setelah minum ada seorang tamu yang dituakan akan menanyakan tujuan acara. Biasanya berusaha pura-pura tidaak tahu dan basa basi menanyakan. Karena setiap orang diundang tidak melalui surat tetapi didatangi langsung melalui utusan, yang mengatakan bahwa dia diutus untuk mengundang. Pada saat itu ada bocoran tentang tujuan undangan.  Wakil keluarga akan memberikan penjelasan tentang  tujuan pertemuan. Setelah minum-minum dan rokok, ada acara sembelih hewan untuk nado ka (makan malam). Karena acara nado ka masih agak lama kadang-kadang ada yang kembali ke rumah atau bertetangga. Pada saat akan nado ka  orang akan datang dan berusaha mengundang untuk acara makan malam. Acara makan malam pasti disuguhi minuman tuak.  Setelah makan malam masing-masing diberi satu cangkir kosong dan dituangkan tuak. Mereka minum kemudian disusul minum kopi. Acara seolah akan bubar. Tetapi tidak pernah ada orang yang meninggalkan begitu saja. Dari para tamu akan melontarkan pertanyaan ‘ai kita te taku ne’e pata pede sada” (apakah masih ada yang perlu dibicarakan). Pada saat itu sang tuan rumah melalui juru bicara mengatakan bahwa niat mengumpulkan saudara-saudara untuk keu kambe oa kesa daka (merangkul dan meminta dukungan). Orang lalu mengedarkan daftar. Nama didaftar dan masing-masing menyebut angka kesanggupannya. Uang tidak segera diserahkan tetapi bisa disusulkan. Maklum tidak semua orang punya uang pada saat itu. Tetapi biasanya jumlahnya fantastis, karena masing-masing menyumbang bukan berdasarkan kemampuan saat itu tetapi demi harga dirinya sendiri. Ae petu sungguh hangat dan kuat merangkul persaudaraan sekaligus menggalang dukungan menghadapi masalah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s