Sahabatku Akrab dengan Minuman

Hari Sabtu ini 27 Februari 2010. Pagi jam 04.02 WIB  telepon genggam saya berdering lemah kedengaran di kupingku. Saya bangun dan ada suara memanggilku. Dalam bahasa Inggeris dia minta maaf mengganggu lagi dini hari.  Banar ini kali ketiga saya dibangunkan dini hari. Teman saya berkebangsaan Korea mengalami kecelakaan lalu lintas berat. Suatu saat dia  persis dini hari ketika orang mulai keluar rumah, teman saya menabarak sebuah pickup yang sedang parkir. Mobilnya penyok dan dilempari batu oleh orang yang marah. Dia diselamatkan patroli polisi pagi.  Teman saya baru pulang dari rumah sahabat di daerah Kalimalang, Bekasi. Makan malam dan ngobrol sambil minum bir atau soju. Pada kesempatan yang lain temanku pulang dari Tangerang. Ketika di dekat pintu tol Kebun Jeruk dia menabrak mobil sedan seorang dokter muda.  Ketika teman saya menunduk untuk mengambil sesuatu mobilnya melaju dan menabrak. Urusannya dengan polisi.  Kejadian terakhir hari ini dia pulang dari Bekasi menuju Kelapa Gading mendapat kecelakaan tunggal setelah disalib sebuah sedan secara tiba-tiba. Maut menyapa dia lebih dekat. Tetapi Tuhan baik untuknya dan tentu bagi saya sebagai sahabat bisnis. Dia selamat. Mobilnya hancur.  Mulutnya menguapkan bau minuman. Pada setiap kejadian dia selalu menghubungi saya dan memberikan telepon kepada polisi. Saya mengambil alih tanggungjawab. Karena hanya urusan dengan polisi , persoalannya dapat diselesaikan. Halnya dengan dokter muda agak beda. Teman saya pintar mengajak polisi bersahabat dengan memberi minum sambil menunggu saya datang. Persoalan menjadi rasis ketika sang dokter mengatakan kamu orang asing harus tahu diri. Dan sang Korea balik nyala. Kaca dong. Lihat wajahmu. Apakah kamu Indonesia asli? Sang dokter yang keturunan Tionghoa jadi bisu dan dendam. Dan saya jadi garda depan menyelesaikan masalah. Sang dokter merasa akrab denganku gara-gara pernah merasakan keramahan orang  daerahku ketika tugas praktek. Kami berbicara sebentar dan saya minta dia memahami, urusan kendaraannya saya selesaikan terpisah.

Lama bersahabat dengan orang Korea, membuat saya memahami kebiasaannya. Ketika saya sendiri tinggal di Korea beberapa bulan setelah beberapa kali kunjungan usaha setiap dini hari saya selalu menyaksikan ada yang mabuk. Suatu saat saya lihat seorang bapa berumur paruh baya duduk di pojok jam enam pagi mengeluarkan minuman dan dalam keadaan sayu meneguk minuman. Pada ksempatan lain ada yang berjalan sempoyongan sambil mengucapkan kata-kata tak jelas dibimbing sahabat ke kendaraan. Sekali waktu saya saksikan ada satu wanita menangis sambil bergelantungan ditangan seorang laki dalam keadaan mabuk berat. Opa….opa… we…we.. wegre. (kakak…kakak…mengapa) Minuman adalah pelarian dari masalah dan obat penenang. Orang Korea terbiasa minum setelah makan. Minum bisa di restauran, kafe atau karaoke juga di rumah-rumah. Bergadang dan minum sampai jam 02 pagi hari kemudian berpisah, mengendarai mobil ini yang menjadi masalah. Tiga kali kejadian  yang dialami teman saya, dia menyetir sendiri pagi hari setelah minum. Ada keterkaitan antara minum, mabuk dan ngantuk. Sampai saya menulis catatan ini teman saya mendapat cedera di lutut  dan mungkin ada perdarahan dalam daging. Saya menghantar kerumahnya dan bilang take care….Bye…

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s