Jiplak Menjiplak Guru Kencing Berdiri Murid Kencingi Guru

Heboh jiplak menjiplak atau bahasa langitan plagiarisme begitu menarik sampai diangkat dalam  harian terkemuka di negeri ini, Kompas. Tidak tanggung-tanggung  selain ada artikel utama Epidemi Plagiarisme dan Kompas angkat sebagai Tajuk Rencana. Kompas membidik sebagai suatu masalah besar dan penting dibicarakan. Saya masih ingat anak saya ketika kelas dua esde. Anak saya bukan anak sangat cerdas. Tetapi tidak dibilang bodoh. Dia banyak bermain tetapi hasilnya baik-baik saja. Saya tanya ini apakah benar hasilnya sendiri. Saya katakan papa ragu. Kamu nyontek? Kata nyontek belum pernah tersangkut di bawah sadarnya. Setelah dijelaskan dia paham. Katanya dia tidak nyontek, tetapi teman memperlihatkan pekerjaannya.  Saya bilang kalau kamu ambil buah di kebun orang baik apa buruk. Kamu tidak menanam di kebun sendiri. Tetapi kamu petik seenaknya. Itu artinya curi. Mencuri itu dosa. Dan sejak itu anak saya sadar. Ketika hasil pelajaran rada menurun, saya bertanya mengapa hanya pas-pasan saja. Dia menjawab yang penting hasil sendiri dan tidak nyontek.

Ternyata urusan menyontek atau jiplak-jiplakan bukan urusan anak TK. Ternyata siswa dan mahasiswa bahkan kini heboh mahaguru juga ikutan nyontek. Menjiplak karya orang lain sama seperti mengambil mangga dari kebun orang tanpa ijin. Curi namanya. Dan bagaimana mahasiswa tidak nyontek. Nyontek itu biasa sejak ujian Sekolah Menengah. Sontek itu terjadi dalam pengawasan pantia ujian. Para dosen dan mahaguru tidak bisa melarang mahasiswa menjiplak. Karena mereka lebih dahulu melakukan itu. Murid tahu sang guru menjiplak . Lalu bagaimana bisa menegur atau melarang apa yang sendiri dilakukannya. Guru menyuluh benderang di depan. Dan sang murid mengekor.

Suatu saat saya ditawari kesempatan untuk mendapatkan Ijazah S2 oleh seorang dosen dari perguruan terkemuka. Dia memberi alasan agar saya bisa melanjutkan setudi di ke tingkat yang lebih tinggi. Kalau nyontek masih berurusan dengan usaha. Bekerja. Lalu bagaimana dengan mereka yang menyandang Dr atau MA. Saya berjumpa dengan beberapa pensiunan jenderal yang mempunyai gelar Dr. dan MA. Dalam pembicaraannya tidak menampilkan bobot keilmuan apa pun. Maklum setingkat itu ijazah dibeli, bah kan dianugerahkan secara pro deo. Masih ingat para pejabat dan pesohor negeri ini ditelanjangi karena mendapat ijazah tanpa belajar.

Kata Kompas dalam tajuknya”habis sudah kebanggaan dan harkat akademik. Memang habis semuanya. Guru kencing berdiri dan murid marah mengencingi guru. Sang guru pun diam seribu kebasahan kencing. Malu kita semua. Selamat belajar dan berjuang untuk para mahasiswa. Dan hormat besar pada para guru, dosen dan mahaguru yang memberi teladan baik teristimewa guru kesayangan saya Bendediktus Geju di Keo Tengah.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to Jiplak Menjiplak Guru Kencing Berdiri Murid Kencingi Guru

  1. kristin bany says:

    lucuuuuuuu…….^_^

  2. tanagekeo says:

    Menjiplak tidak lucu, tetapi malu karena guru yang tidak atau kurang ajar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s