Ngga’e Ndewa Ghewo

Setiap orang ingin hidup sehat dan berumur panjang.  Saya pernah bertemu dua orang  nenek. Mereka berdua adalah tanta dari ibu saya, yaitu Ito Gudhu dan Tuku Gudhu. Keduanya hidup sampai usia sangat lanjut. Sudah sangat keriput, tetapi masih bisa melihat dengan baik dan berbicara lantang. Berarti alat pendengaran masih prima. Karena usia sudah sangat tua keduanya sampai dibuat kurungan khusus dalam kamar. Mereka tidak boleh keluar. Beruntung bangunan rumah desa di Mauromba dan Ipi Mbu’u berbentuk rumah panggung.  Dari segi kesehatan udara dibilang baik. Angin segar bisa adari mana-mana termasuk dari klong rumah. Dan karena rumah panggung, urusan buang air langsung di tempat. Segala bisa dilakukan dengan sedikit melebarkan celah bilah-bilah bambu yang dijadikan lantai rumah.

Usia lanjut pada mulanya sebuah kerinduan. Tetapi berkali-kali ketika kami mengunjungi nenek-nenek ini, yang kami denganr. Sang nenek selalu mengeluh pelayanan yang diterima dari ibu-ibu di rumah yang menjadi isteri anak dan cucu mereka. Mereka dianggap kurang memperhatikan dan tidak memberikan makan cukup. Keluhan yang terkadang di dengar , tetapi itu keluhan utama dan paling benar serta terpercaya.  Ngae’e Ndewa Ghewo artinya Tuhan Allah sudah meluapakan mereka. Allah lupa memanggil pulang mereka. (Ngga’e Ndewa Niu). Pengalaman serupa saya jumpai ketika ayah hidup pada usia tua dan meratapi matanya yang tidak memerikan kesempatan dia menikmati dunia. Dia meratapi nasibnya. Dia meminta Tuhan segera memanggilnya.  Waktu hidupnya adalah saat menunggu. Dia menunggu saat dipanggil Tuhan. Waktu terasaa berjalan sangat lambat Dan saat itu dirasa sangat lama. Ayah juga mengeluh pada Tuhan, mengapa Tuhan melupakannya (NGGAE NDEWA GHEWO).  Saaat menjelang ayah meninggal ada tiga kali gelegar guntur, kemudian ayah muntah dan kemudian tersenyum meninggalkan bumi. Itu saat yang diharapkannya menghadap yang Ilahi. Tuhan memanggilnya kembali ke rumah-Nya.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s