MAKAM ORANG NAGEKEO

Ketika ayah kami sakit semua kami lima bersaudara dari enam anaknya yang berada di Jakarta kembali ke kampung. Walau orang tua kami masih hidup, kami memikirkan dimana letak makamnya. Seorang adik saya  Anton, yang tinggal di kampung menginginkan makam dibuat di depan rumahnya di sebuah lahan kami  di luar kampung. Dia tidak ingin bapa sendirian.  Saya dengan salah satu adik saya Hubert yang sudah mulai tambun berjalan sambil ngos-ngosan kehabisan napas ketika kami menapak menuju tempat yang ditunjuk Anton. Kami tidak setuju. Lalu kami memeriksa tempat di kebun kami di belakang gua Maria. Itu tempat yang diminta bapa sejak dia masih sehat ketika berkunjung ke Jakarta. Dan ketika bapa meninggal kami harus melewati kebun jagung, di sana bapa di makamkan. Begitu pacul menancap tanah (neka tanah) di tempat yang ditunjuk saya, aba-aba diberikan ke kampung dan seekor kerbau segera  disembelih.  Bapa mungkin orang pertama yang dikuburkan di luar kampung.

 Berjalan di tengah kampung orang Nagekeo bagaikan berziarah ke pekuburan. Mengapa tidak? Setiap keluarga memakamkan anggota keluarga, teristimewa orang tua di halaman rumah. Ini merupakana tanda penghormatan. Selainya itu ada kepercayaan kematian badani tidak memisahkan anggota keluarga dengan arwah yang sudah meninggal. Seperti kata adik kami Anton:” Saya tidak mau bapa sendirian.” Memasuki kampung-kampung di Nagekeo benar mengunjungi kuburan. Kini makam-makam diberi keramik bahkan ada yang buat bangunan rumah kecil. Pada malam hari orang kampung kami sering membakar lilin di makam anggota keluarga setiap kali ingin mohon restu. Pada saat itu kita bisa menyakiskan lilin-lilin bernyala, bagi yang tak punya nyali bisa terbangun bulu kuduk melintasi kampung di malam hari.

 Suatu saat ketika di kampung saya diundang untuk mendoakan seorang yang telah meninggal. Seorang wanita, ternyata itu kakak kandung ibu saya, yang telah meninggal lebih dari 60 tahun lalu. Acaranya adalah “langga late”. Langga artinya menggiring atau memindahkan. Late artinya kubur. Memindahkan kubur seorang yang telah meninggal. Tanta meninggal dan dimakamkan di luar kampung di salah satu lahan keluarga. Pada saat itu tanta belum masuk orang yang dituakan. Tetapi setelah enam puluh tahun lebih anaknya Raphael Siga ingin menyatukan makan. Dan secara simbolis mengambil tanah galian dari makam dan dibangun sebuah makam baru di depan rumah tinggal. Dan kini makam tanta dibangun berdampingan dengan makam suaminya.

 Kemajuan telah merobah bentuk bangunan makam. Kalau jaman dulu hanya ditempatkan sebuah batu oval sebagai tempat persembahan, kini makam dengan salib dan berbagai ornament bagi yang Kristen, sementara bagi yang Muslim diberi tiang kecil menjulang keatas. Ketika makam masih hanya diletakkan sebuah batu di atasnya, atau terkadang batu pipih lebar ditunjang kaki dari batu  pekarangan rumah terasa luas. Tetapi ketika dibangun dari semen, makam menjadi sangat menonjol dan menyita ruang terbuka.  Ada kesan semerawut dan angker.Liang lahat kini sudah berubah. Kalau dulu orang hanya sekedar menggali makam dan jenazah dimakamkan di tanah, kini jenazah dimakamkan dalam lubang yang telah dipasang bata dan di beri semen halus.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

2 Responses to MAKAM ORANG NAGEKEO

  1. Rahma says:

    Ka’e apa kabar? walaupun sudah berapa bulan yang lalu meninggalnya orgtuanya ka’e jao ucapkan turut berdukacita atas meninggalnya om Nodus Rangga,semoga amal ibadahnya diterima Tuhan yg maha kuasa dan keluarga yg ditinggalkan diberi kesabaran dan ketabahan.

  2. kristin bany says:

    duh…..ku juga turut berduka cita…..
    lam bwt orng bajawa…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s