Seni Tari Nagekeo Statis

Ada dua macam tarian yang paling dikenal di Nagekeo.  Satu tarian masal berbentuk lingkar ndera (tandak). Para penari bergandengan tangan dan bergerak ke kanan membentuk lingkaran. Pada masa dahulu tarian ndera dilakukan pada larut malam. Biasanya pada bulan purnama. Bila agak terlalu gelap para penari melingkari api unggun. Gerakan kaki maju mundur sangat sederhana. Keistimewaan pada tarian ini ialah pada syair jenaka yang dilagukan oleh solisnya kemudian disusul dengan ulangan (refrein) yang tetap gore ine oe aa ee aa oo…Hentakan kaki  bersemangat sambil membungkuk pada saat melagukan refrainnya.

Pada acara-acara adat tarian ini dilakukan sampai pagi. Dan pada saat matahari terbit orang menutupnya dengan tarian dengan gong gendang. Tarian disebut bebi. Bebi sara fai (tarian untuk kaum wanita) dan bebi sara jara (tarian untuk lelaki). Tarian dengan gong gendang sebenarnya masih sangat sederhana. Yang menentukan gerak tari adalah gendang. Gendang ditabuh menggunakan dua tongkat kayu kecil. Gong yang digunakan hanya lima buah.  Irama gong tunggal yang di pukul pertama menentukan perbedaan tarian untuk perempuan atau lelaki. Irama untuk tarian perempuan lebih lambat sedang untuk tarian kaum lelaki lebih cepat.

 Saat ini tarian ndera sudah sangat jarang diadakan. Orang Nagekeo pada masa lalu kegiatan tari tidak selalu pada acara tertentu. Semuanya dilakukan secara spontan. Karena semuanya dilakukan spontanitas, tidak pernah disiapkan dan ditata. Seni tari sangat statis, tidak muncul ide kreatif yang inovatif.  Tidak pernah ada orang yang sungguh mendalami dan mengaturnya sebagai satu pertunjukkan. Ketika saya berada di Mauromba  ada kegiatan seni budaya para pelajar di kota Kecamatan Keo Tengah. Semuanya berjalan sangat sederhana, tidak muncul kreatifitas baru yang inovatif sehingga seni tari menjadi sebuah pertunjukkan (show).Jarangnya kegiatan seni mengakibatkan semakin langka kita temukan orang yang bisa memukul gendang. Beruntung di Mauromba ada seorang guru yang terus berkreasi menciptakan lagu-lagu daerah dan juga menekuni bidang seni tari. Barth Soo, seorang pensiunan guru telah mencipatakan begitu banyak lagu ibadah bernuansa daerah. Patut diacungkan jempol karena dia berusaha menghidupkan seni budaya daerah. Dia mengajarkan bagaimana menabuh gendang pengiring tarian. Dia sudah menotasikan irama pukulan gendang.

     Latihan Tari                                                    

 

Pak Barth Menabuh gendang  mengikuti notasi

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

3 Responses to Seni Tari Nagekeo Statis

  1. kris bheda says:

    satu hal yang menurut saya tidak dioptimalkan adalah pendidikan kreativitas. Seni seolah-olah bukan prioritas, jika ada pendidikan seni, justru yang diajarkan adalah supaya anak-anak bisa menggambar bebek atau kambing..bah..jadi apa itu!! seni benar-benar di anaktirikan

  2. tanagekeo says:

    @Kris : Saya sependapat…

  3. rafael siga says:

    om saya anak dari bapak gaspar waja ngula di romba wawo, sempat mengahadiri pemakaman nenek Arnodus di belakang lordes romba, dan pada waktu masa begitu banyak dalam menghadiri pemekaman nenek nodus,

    saya sangat senang sekali dapat menemukan blognya om walau nggaa tau sapa nama sebenarnya om,,,,,,,,,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s