Jawa Pena Mapi Hidangan Jagung Nagekeo

Suatu saat  setelah turun dari pesawat terbang di Ende, mobil yang saya tumpangi singgah di rumah pak Yoseph orang tua kerabat saya Valens di Nagaroro. Karena waktu makan siang tiba kami turut menikmati santap siang. Yang disajikan adalah uta mbue loto (sayur daun kacang muda) dan gorengan ikan asin berbumbu asam blimbing wulu sebagai teman makan nasi. Saya sempat ingin tambah tetapi banyak tamu dan etik tamu menyurutkan niat saya.

Uta loto khas masih bisa kita dapatkan dengan mudah. Tetapi yang sudah hilang adalah jawa pena (jagung  digilas atau ditumbuk batu). Jawa pena adalah biji-biji jagung yang dititi (ditumbuk pakai batu). Setelah jagung dititi kemudian ditampi dan dipisahkan sampai tiga tingkat sesuai dengan besar butir hasil gilasan. Ta pu’u (butiran kasar sebagai pokok), ta ora (butiran lebih halus  tengah) dan ta weni (butiran paling kecil).

Pada waktu menanak dimasak secara berurut. Butiran kasar dimasak lebih dahulu sampai setengah matang kemudian disusul butiran lebih kecil  sampai hampir tanak dan pada akhir dimasukkan butiran paling kecil (ta weni). Bila makanan pokok jagung ingin dicampur dengan beras, maka yang pertama dimasak adalah jagung, ketika jagung hampir tanak dimasukkan beras. Cara masak jagung atau nasi dalam budaya Keo selalu diisi air banyak. Ketika hampir tanak, air tajin diambil atau ditiriskan. Periuk nasi akan ditaruh diatas bara api kemudian diputar-putar (sene)  untuk mendapatkan pemanasan yang teratur hingga nasi menjadi kering dan tanak. Kalau nasi untuk beras yang dimasak, maka jawa mapi adalah masakan jagung (nasi jagung). . Ada cita rasa  istimewa menikmati nasi(pale mapi) dan jawa mapi tanakan periuk tanah ini. Kematangan yang sangat terkontrol dengan menempatkan periuk diatas bara tanpa tunggu, periuk diputar secara teratur untuk mendapatkan sumber panas dari tungku.

Di tengah gencarnya promosi pemanfaatan aneka jenis pangan  jawa pena terlupakan dan dianggap makanan jelata identik dengan kemiskinan. Berkali-kali saya ungkapkan pada para sahabat, kalau saja saya lahir di Belanda mungkin roti jadi makanan pokok saya. Tetapi karena saya lahir di Mauromba, Nagekeo,  maka jagunglah makanan saya. Karena menikmati adalah  sebuah selera, tak ada yang bisa memperdebatkan dan menilai sebagai gambaran dikotomi kaya miskin.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in DAPUR KAMPUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s