TUHAN PASTI ADA

Tadi pagi saya ke Gereja pagi. Kulakukan ini tidak sebagai rutinitas. Sedikit terkandung niat untuk mempersiapkan diri menuju pesta raya kedatangan Tuhan Yesus ke dunia. Sebuah kerangka kandang Natal yang bagus dari bambu beratap daun, gambaran kehidupan papa terasa megah di mataku.  Semuanya belum rampung, tetapi bagiku semua sudah cukup lengkap memberikan gambaran tempat kelahiran Yesus.  Terasa Natal sudah dekat. Jujur dalam hatiku aku bertanya dimana Tuhan  yang menghibur dan menenangkan itu ada. Hati terasa sesak dengan berbagai masalah. Tidak jelas apa masalahnya. Ternyata memang   sejak Adam dan Hawa makan buah terlarang manusia harus hidup berdampingan dengan masalah. Itu adalah tantangan yang membuat makhluk istimewa ini berusaha menyempurnakan diri melalui pemecahan masalahnya sendiri. Maanusia harus berdampingan dan damai dengan masalah.

Tahun 2009 saya menyaksikan 4 kematian orang terdekatku. Ayahku Arnoldus, keponakanku Jeremias (Jemi), kakak sepupuku Nikodemus Muta dan terakhir beberapa hari lalu seorang pengasuh, tanta ta kemo lo, pisa mbasa, Ema ka’o Theressia Ude  membantu ibuku,  mereka semua diambil dari kehidupan keseharian kami. Beberapa rencana kerja yang  belum terampungkan membuat dada terasa sesak dan berat rasa kepala. Hari-hari dipenuhi dengan berbagai pertemuan yang menghabiskan energi dan menguras isi kantong. Penipisan isi kantong untuk sebuah harapan.  Tidak ada yang diragukan kalau Tuhan Ada. Tetapi sering ada sebercik tanya apakah Tuhan ssungguh ada untuk menyelesaikan masalah ini. Tuhan terasa berjarak dengan masalah anak manusia. Ini hanya sebuah perasaan. Perasaan yang sangat tidak rasional.

Perasaan yang diolah akal menggugah batin saya. Bayangkan saja kalau gubuk orang tua saya di Mauromba tiba-tiba dikunjungi seorang Bambang Yudoyono, yang presiden Indonesia. Orang nomor satu di negeri kaya raya ini. Bagi sang tamu luarbiasa ini pertemuan dengan orang di gubuk reot ini tidak mempunyai makna. Yang ada hanya rasa iba bahwa masih sekian jauh kehidupan anak-anak bangsa ini. Sebaliknya bagi mamaku dan adik-adik kami yang masih tinggal di gubuk reot ini merasa sangat dihargai. Tiba-tiba menjadi berita sukacita. Tanpa menerima pemberian apa pun  seluruh keluarga pasti sangat bahagia. Presiden Indonesia duduk di balai bambu dan mencicipi kopi hidangan keluarga, yang mungkin harus turun dari rumah panggung dan meminjam kopi bubuk tetangga.  Seperti penerima rejeki nomplok pada acara reality show minta tolong, keluarga merasa haru dan meneteskan air mata. Sebuah air mata sukacita bercampur rasa, sadar diri dalam kekurangannya.  Dan kini Natal akan segera tiba. Yesus ternyata sungguh datang dalam kehidupan sederhana manusia. Yesus Allah lebih besar dari seorang pejabat negara. Dia sunguh datang ditengah kemiskinan yang diwakli oleh para gembala.  Yakin Tuhan pasti ada. Tuhan yang sama itu datang ditengah kekumuhan dan gundagulana duka dan masalah serta kelemahan umatNya. Patut dan sepantasnya hati ikut bermadah dalam suka dan keharuan GLORIA ……. Tuhan Ada… Tuhan telah datang….

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s