Theresia Ude Di Ujung Satuan Waktu Tadi Kamba

Kemarin pagi saya mendapat berita bahwa ema ka’o Theresia Ude dalam keadaan kritis. Saya kemudian meminta saudaraku Anton  untuk menyambangi Bartholomeus Uma. Tak berapa lama saya mendapat panggilan. Dan saya pun menelpon dan telepon diberikan pada ka’e Bart. Bart adalah putera tunggal seorang tanta saya Theresia, yang sedang kritis. Ema ka’o Ude (Theresia) adalah sisa terakhir dalam generasi orang tua keluarga besar ibuku. Dia orang sederhana. Biasa-biasa saja, seperti umumnya wanita kampung tak ada sikap unjuk pamer. Tetapi dalam kebiasaan orang desa umumnya, bila masih ada yang perlu di temukan, bagaikan menemukan emas ditengah pasir berlumpur. Ketika saya mencoba menemukan keunggulan dalam kesahajaan itu aku menulis beberapa kata dalam pesan singkat:” Ema ka’o, kau ta juru pisa mbasa, kemo lo ghako ka’o…..Semuanya membangkitkan sebuah kedekatan kasih yang terjalin dalam keluarga besar. Saya lalu teringat dia senantiasa mendampingi mamaku ketika saat sulit melahirkan kami delapan bersaudara.

Lame ae ana artinya memasak bubur untuk seorang ibu yang baru melahirkan. Orang desa Keo bubur ae lame bagi ibu yang baru melahirkan terdiri dari nasi dan uwi. Bubur ini berwarna putih seperti susu setelah diberi santan kelapa. Sedikit garam ditambahkan. Pada saat-saat sulit ketika mamaku baru melahirkan anak-anaknya, ema ka’o siap menyiapkan masakan dan merebus air hangat untuk mandi mama. Dia sigap termasuk di malam gulita untuk mendatangi rumah panggung kami, yang biasanya tidak pernah terkunci bila diperlukan. Tugas lame ae ana dilakukan sampai “dhodho ana’ (turun tanah).  Bantuan tetangga seperti yang dilakukan ema ka’o tidak berhenti disitu. Seorang anak pada masa itu menjadi perhatian semua orang. Anak-anak menikmati kehangatan kasih luar biasa. Para ibu akan dengan rela mengendong dan menjaganya.  Saya dan adik-adikku menikmati sangat kehangatan kasih dari ema ka’o Theresia Ude. Aku dan saudaraku Bart bersuara tersendat berbicara melalui telepon genggam. “Ide emba ema ka’o..!!! ” Bart menjawab Ema ena dera tadi kamba. Satuan waktunya begitu pendek sepanjang tali kerbau (tadi kamba) menuju akhir perjalanan surya ke peraduannya. Ema ka’o….Tali wado tado.

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s