Uta Wona Lame Bubur bergizi orang Keo

 Ada seorang anak muda dari kampung, Ance Siu begitu sering mengirim SMS ke Handphone saya. Dia selalu bertanya tentang keadaan saya, sedang apa dan sebagainya. Kemarin ketika dia mengirim SMS saya mengatakan bahwa saya baru saja makan uta wona lame. Uta wona lame yang saya makan adalah bubur uta wona yang kental tidak seperti uta wona lame di kampung. Begitu mendengar saya makan uta wona lame, Ance bilang bahwa tidak sangka orang kota masih makan uta wona lame.

Uta wona (daun kelor) begitu banyak tumbuh di lahan kritis. Saya masih ingat ketika melintasi wilayah Sumbawa, banyak pohon kelor dijadikan pagar kebun. Jadi begitu berlimpah daun kelor disana. Ketika melintasi daerah itu saya teringat sebuah tulisan tentang pemanfaatan buah daun kelor. Biji daun kelor menghasilkan minyak. Dikampung Mauromba pernah dipelihara dua batang tanaman wona (kelor) dimuka rumah kami. Dua pohon berdiameter lebih dari 30 cm begitu berjasa menjadi sumber gizi bagi keluarga terutama disaat saat sulit. Semakin dipangkas semakin banyak cabang berdaun lebat.

Di wilayah lain di Flores utawona dijadikan sayur teman makan nasi. Tetapi di desa kami uta wona di olah menjadi uta wona lame. Jenis masakan ini mungkin hanya berada di daerah pesisir selatan Nagekeo. Uta wona lame sebagaimana aelame pada umumnya masakan dengan banyak air. Potongan ubi-ubian, jagung atau beras dan diberi santan kelapa serta sedikit garam. Masakan itu begitu sederhana. Tetapi begitu umum teristimewa pada masa sulit. “Yolo ha opo ae ha lowo” (jagung setongkol dan air sekali) kata seorang ibu muda dari Mauponggo yang menikah dengan orang Romba. Ibu ini heran menyaksikan masakan yang begitu banyak air. Pada masa sulit air ditambah sesuai dengan jumlah orang. Kandungan isi terkadang sangat terbatas. Utawona lame pada masa itu penampilannya lebih sebagai sup berisi daun wona daripada disebut bubur. Pasti beda dengan utawona lame yang kami makan, benar mengental menjadi bubur. Isinya bubur nasi, utawona terrkadang ditambah daging sosis. Tidak kalah sedap dengan bubur direstoran berkelas di Jakarta.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in DAPUR KAMPUNG. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s