Mbabho Ngasi Perundingan Adat Melelahkan

Undangan pertemuan atau kenduri selalu didahului dengan pertemuan   kelompok keluarga dekat (ka’e ari sa’o tenda). Satu atau dua orang diutus ke rumah-rumah warga untuk menyampaikan undangan lisan. Dalam penyampaian undangan biasanya tidak dijelaskan secara lengkap tema undangan. Pesan disampaikan dengan cara: saya(kami) diutus (sira roka)  untuk menyampaikan  serta meminta bapak kerumah (nuka rede sa’o), berkumpul bersama warga sekampung ( sira ta nua oda)…. Semua ungkapan penuh basa-basi dan tersamar. Yang jelas adalah mengatakan siapa yang mengundang. Bagi orang Nagekeo yang menentukan adalah siapa yang mengundang. Soal kejelasan tema akan dibicarakan pada pertemuan bersama.

Dalam pertemuan baik kenduri kecil atau pesta adat semua acara berjalan sebagai berikut. Pertama adalah menyalami tamu dengan menyajikan rokok dan minum kopi. Setelah minum kopi ada penyampaian tema acara. Tema acara tidak serta merta disampaikan oleh tuan rumah. Dalam budaya Keo, tamu undangan berpura-pura tidak mengetahui tema acara. Kemudian ada yang menggerakkan supaya ada yang bertanya. Ai mai tau ne”e ade ona sai (mari perlu kita tanyakan tujuan pertemuan ini). Biasanya ada yang melemparkan ide untuk bertanya, tetapi yang bertanya diserahkan pada seorang yang dituakan. Ada beberapa orang yang berpengaruh mulai saling melempar tugas. Yang pada akhirnya semua tahu ada seorang yang sudah biasa menjadi juru bicara (mosadaki). Mosadaki akan mengajukan pertanyaan kepada tuan rumah setalah merokok dan minum kopi. tuan rumah akan menjawab dengan penuh basa basi untuk sampai pada penjelasan tema sesungguhnya. Setelah semua tahu apa tujuan pertemua, tuan rumah baru menyiapkan makan atau menyembelih hewan. Hewan berupa babi, kambing atau mungkin sapi baru bisa disembelih bila warga telah berkumpul dan mendapat penjelasan tujuan acara. Bila semuanya sudah siap akan dilanjutkan dengan nado ka (makan bersama). Pada acara adat besar disebut nado mere.

Dalam kelompok masyarakat Keo ada dua macam kelompok. Kelompok luas udu mere eko dewa dan kelompok kampung kecil udu go’o eko  bhoko. Dalam kelompok ini selalu ada orang yang dituakan untuk bicara disebut mosadaki (mosalaki). Mosadaki adalah setiap orang yang dihormati dan memiliki pengaruh baik dalam masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kearifan dan mempunyai kharisma untuk bicara. Mosadaki harus memiliki kemampuan bicara. Karena mereka ini yang selalu mbabho.  Mbabho artinya memberikan wejangan dan pertimbangan. Kata mbabho selalu dikaitkan dengan kata ngasi (peringatan kalau perlu marah dan memberikan sanksi).

Mbabho ngasi selalu dilakukan setelah acara makan bersama. Pada acara makan bersama kepala babi atau kambing yang sudah dibelah dibagi dan diserahkan pada para mosadaki. Pemberian kepala hewan merupakan tanda kehormatan. Karena itu bila seorang yang suka banyak bicara dan bergaya mosadaki, ada yang menanyakan “wengi, ena emba ata pembe udu ena kau( kapan dan dimana orang pernah menghormatimu dengan menyerahkan kepala).

Dalam setiap acara orang Keo akan menyajikan kopi setalah makan bersama. Dalam acara yang agak istimewa pertama semua diberikan gelas untuk minum tuak. Kemudian disusul dengan minum kopi. Setelah minum kopi acara mbabho ngasi baru dimulai.  Mbabho ngasi selalu diawali dengan basa basi memohon mosadaki untuk memulai acara. Pada acara ini mosadaki akan mulai dengan: Kita sudah berkumpul,  sudah makan dan minum, sudah minum tuak dan kopi, mari kita tanya pada tuan rumah mungkin  ada hal-hal lain yang masih perlu disampaikan (mbeja kita negha liko tiwo, minu ka negha, kesa tua ne’e kopi.. bhide emba taku datu ne’e pata pede ta pesa). Setelah itu ada pembicaraan dari tuan rumah atau yang diwakilkan. Dan yang paling umum tuan rumah tidak pernah bicara sendiri, selalu diwakilkan.  Penyampaian tuan rumah akan ditanggapi lagi dengan cara yang penuh basa basi.. dan saling melempar tugas.

Pada akhir pertemuan, mosadaki mewakili warga kampung (tuka nua toda oda) akan meminta pamit ( mo’o pata ai sai kita). Ada yang perlu dicatat bahwa dalam setiap pertemuan adat selalu ada moderator (mosadaki). Walau sangat demokratis, tidak semua orang bisa angkat bicara. Semua pembicaraan harus lewat juru bicara. Tidak boleh ada orang yang menyela pembicaraan sesuka hati . Berlaku hukum ma’e ndore ndobhe lewo (jangan saling menyela), sebuah peraturan tak tertulis.  Acara mbabho ngasi pasti makan waktu. Karena semua pembicaraan harus mengulangi kembali pembicaraan terdahulu kemudian baru menyampaikan ide baru. Solidaritas, kebersamaan warga, etika bicara dan sopan santun sangat diperhatikan. Kesabaran merupakan modal utama untuk mengikuti pertemuan ini. Melelahkan tetapi bila dicermati banyak kearifan mentradisi disana.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s