Nai Sa’o Syukuran Rumah Orang Keo

Begitu sering saya berkomunikasi dengan keluarga di kampung Mauromba. Rata-rata seminggu 3 kali saya menelpon, menanyakan keadaan dan terkadang hanya sekedar berbasa basi melepas kangen kampung halaman. Hujan emas di ibu kota , gerimis dan hujan batu di kampung sendiri, lebih baik di di kampung sendiri.  Saudara saya Anton mengatakan dia sedang di dapur (ena pupu dapu).

Orang  laki Keo tidak biasa berurusan dengan dapur dan masak-mamasak. Kalau mengatakan bahwa dia berada di dapu (ena pu’u dapu) artinya dia sedang sibuk memasak dalam perhelatan adat kampung. Saya segera membayangkan sebuah kuali berukuran ekstra besar ditunjang batu lonjong sebagai tungku penunjang kuali. Tungku itu pasti cukup lebar untuk memudahkan orang menyorongkan kayu bakar kedalam tungku di tempat terbuka. Disekitar tempat masak ada banyak orang laki berdiri, duduk di batu atau berjongkok merokok  sambil bercanda menunggu semuanya tanak. Ibu-ibu sibuk memasak nasi di sebuah panggung khusus. Dan sebahagian lagi menyiapkan begitu banyak piring nasi serta gelas. Maklum di desa kami masih belum populer dengan gelas air mineral.  Untuk pesta besar harus ada orang yang khusus merebus air minum.

Salah satu yang paling khas dalam acara seperti ini adalah sayur khas orang Keo, yaitu muku loto. Muku loto adalah buah pisang mudah yang di kupas kulit hijaunya kemudian dipotong-potong dan dimasak dicampur dengan jeroan hewan kurban. Pada acara hari itu ada seekor kerbau disembelih dan sudah pasti jeroan kerbau dibersihkan dan dipotong direbus dengan buah pisang mudah. Buah pisang muda yang telah lama direbus diulek-ulek  (ghe’u)hingga hancur menyerupai bubur. Rasanya sangat khas setelah bercampur bumbu dan jeroan hewan  begitu mengundang selera orang Keo untuk makan. Ini cita rasa  masakan Keo tradisional. Saya masih sempat mencicipi beberapa kali ketika berkunjung ke kampung. 

Semua kegiatan masak-memasak ini ternyata berkaitan dengan pesta sykuran rumah baru (nai sa’o) om Herman Gale Watu.  Om Herman sudah menyimpan niat bahwa bila rumahnya selesai akan dibuat pesta kecil. Sebuah janji yang harus dipenuhi.  Ketika saya berada di kampung banyak orang bergotong royong mengaduk semen untuk cor  atap teras rumah. Om Herman patut menaikkan syukur karena ini baginya merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa.

Nai Sao pesta syukuran hanya dibuat oleh orang-orang yang mampu. Pada umumnya orang segera mendiami rumah walau belum semuanya rampung. Membangun rumah permanen  pasti memakan biaya besar dan tentu tidak semua orang bisa memikulnya. Saya masih ingat sebuah pesta nai sao (masuk rumah baru ) yang paling besar adalah rumah orang tua teman saya Yoakim Koba di Pauleka. Begitu banyak ine weta, ane ana yang diundang membawa hewan. Begitu banyak hewan ternak berupa kambing, domba kuda  dan kerbau memenuhi kolong rumah panggung yang begitu besar.  Pada acara nai sao tidak saja orang sekampung yang diundang. Tetapi umumnya yang diundang adalah  warga beberapa kampung adat yang berada dalam “udu mere eko dewa” (kampung dalam batasan yang luas). Masyarakat Keo mengenal juga apa yang disebut “udu go’o eko bhoko (kampung dalam batasan sempit), satu kampung saja.  Orang Keo selalu menyebut batas paling atas disebut udu (kepala) dan batas akhir disebut eko (ekor). Penyebutan batas kampung selalu disambung dengan sesatu yang menonjol, apakah itu nama lokasi lahan atau tanaman besar. Orang Mauromba menyebut udu mere eko dewa (batasan luas) dengan udu mbuju eko lomba. Batas atas gunung Mbuju dan batas akhir Romba persis di bibir pantai. Ada cara lain menyebut batas kampung seperti udu pau jawa eko dokamboa (batas atas pohon mangga Jawa dan batas akhir kampung kecil tempat banyak pohon randu (mboa).

Dalam sebuah perhelatan adat termasuk acara nai sa’o (masuk rumah baru) tuan rumah biasanya mengundang kerabat besar, kae ari sa’o tenda dan ine weta ane ana. Yang menarik adalah mereka yang diundang khusus ini akan datang dengan membawa barang berupa hewan berupa kambing, domba atau kuda dan kerbau. Akhir-akhir ini kuda kerbau sudah semakin langkah dibawa, karena harga semakin tak terjangkau. Pada saat ine weta ane ana kembali dari acara ini, mereka dibekali sesuatu sebagai imbalan atas bawaannya. Yang jelas mereka semua akan menerima satu keranjang (mboda) berisi demba wawi (jelai daging babi), beras serta kue cucur.  Semua ine weta pasti diberikan paket khusus ini. Bukan daging, beras yang penting, tetapi ini menunjukkan perhatian  dan kasih.  Bila ada keluarga yang tidak mendapatkan bingkisan khusus ini, maka tuan rumah akan menjadi buah bibir dalam keluarga besar. Keinginan untuk mendapat perhatian juga datang dari para tamu. Sebelum kembali mereka bahkan tidak malu menanyakannya. Ada yang sampai meneteskan air mata bila tidak mendapat bagiannya. Karena itu berarti tidak mendapat penghargaan.  Setiap pesat adat orang Keo, tidak melulu sebuah syukur dan keramaian. Tetapi lebih dari itu adalah saat orang mempererat kembali kekerabatannya. Ada pengakuan dan penerimaan dalam sebuah lingkaran sosial.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s