Ndu’a Ma’u Diskrimnasi Ala Keo

“Ata ndu’a kau… “, seru Ndoa pada Siga yang tidak bisa mendayung perahu dengan benar. Gaya potongan rambut yang pendek pada bagian bawah lingkar kepala disebut sebagai mode ata ndu’a. Karena orang-orang pesisir biasa memotong rambut dengan membiarkan jambang  pendek terjaga rapih.

Ungkapan diskriminatif ata ndu’a  (orang dari daerah ndu’a) sudah tidak banyak terdengar saat ini. Pada tahun 60an cap ata ndu’a sangat umum di daerah Keo, khusus Keo Tengah. Ndu’a dikaitkan dengan gunung, pedalaman, terpencil bahkan ada kesan bodoh.  Ma’u dikaitkan dengan pantai, pinggir laut, perahu dan akses luas antar pulau dan mengenal kapal barang dan perdagangan. Orang pesisir khusus wilayah Keo sampai Tonggo sudah memiliki perahu, sope, joko (jukung) dan lambo (perahu berlayar ganda).

Ata Ndu’a dan ata Ma’u jelas berbeda. Secara georafis ata ndu’a mendiami wilayah pedalaman dan ata ma’u mendiami pesisir pantai. Orang-orang Ndu’a karena letak perkampungan yang berada jauh dari pantai tidak memiliki akses ke luar daerah. Pada masa itu  tidak ada jalan raya dan alat transportasi. Mobilisasi  orang dan barang dari tempat ke tempat dilakukan dengan jalan kaki atau berkuda.

Ada Ndu’a rade dan Ndu’a rede. Ndu’a rade adalah wilayah sebelah barat Ngadu Poso dan Ndua rede adalah wilayah antara Kota Keo sampai Wajo.Yang memberi cap ata ndu’a adalah orang-orang Ma’u (pesisir). Perbedaan ndu’a dan ma’u tidak saja berdasarkan lokasi. Tetapi juga berbagai komoditi dagang memberi cirri pada keduanya. Orang Ma’u memiliki hasil garam, ikan, kelapa dan tuak, daun lontar untuk mengisap rokok  serta kerajinan anyaman. Penduduk wilayah Ndu’a rade memperoleh kelapa, minyak goreng,  tuak, garam dan bakul-bakul, tikar-tikar besar berbahan daun lontar dari orang Ma’u.

Orang Ma’u membeli semua kebutuhan pokok dari ata Ndu’a berupa, beras, jagung, pisang dan ubi. Sampai tahun 60an perdagangan masih sangat tradisional yaitu barter. Peredaran uang sangat terbatas. Kopra merupakan hasil bumi yang pling banyak menghasilkan uang, Budidaya tanaman kepala yang paling luas adalah wilayah ata Ma’u.   Garam dapur biasa diproduksi oleh orang Ma’u dengan memasak air laut. Sambil menunggu masakan air laut menguap dan menambah lagi air kedalam wadah masak, kaum ibu menganyam tikar atau bakul.

 
 Istilah Ndu’a dan Ma’u memang memberikan cirri yang membedakan. Tetapi tidak dalam pengertian diskriminatif negatif. Orang-orang wilayah sebelah barat Ngadu Poso juga menyebut ata Ma’u atau Yoga Ma’u untuk penduduk wilayah timur Ngadu Poso. Mereka memahami akan kebutuhan pokok yang dipasok oleh yoga Ma’u atau ata Ma’u. Demikian juga orang-orang sebelah utara di sekitar Raja dan Kota Keo menyebut ata ma’u tanpa perasaan diskriminatif. Dalam pengamatan saya justeru orang Ma’u yang sering memberikan cap diskriminatif pada istilah ata ndu’a. Tetapi sejak ada pembangunan jalan raya, semuanya berubah. Istilah ndu’a dan ma’u  yang terkesan diskriminatif tinggal cerita. Wilayah-wilayah ndu’a justeru lebih maju karena mempunyai lebih banyak komoditi yang menghasilkan uang dari pada wilayah ma’u. Kata ndu’a seolah lenyap dan yang tinggal adalah ma’u karena tetap di pesisir, yang dikaitkan  dengan kegersangan, dan kekurangan produk pangan.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

3 Responses to Ndu’a Ma’u Diskrimnasi Ala Keo

  1. jantungkuat says:

    Dahsyat, majuu terus Nagekeo

  2. mosadaki says:

    terkadang orang mau yang senantiasa sombong dengan kemajuan yang tidak up to date akhirnya ternina bobo oleh predikat maju yang mundur itu. mereka tidak menyedikan generasi yg cerdas untuk kehidupan masa depan ank cucu mereka,, mereka hanya reke mbata nuka (hitung ombak), setelah itu cari makan kambing atau babi, habis itu tidur atau berbuat sesuatu yg sangat bkecil manfaatnya, kalao mau dicatat dari catatan pribadi saya, bahwa jumlah kaum terdidik yang ada di Keo Tengah saat ini didominasi oleh mereka yang dulu kita katakan ata Ndua…. semoga kita cepat sadar dan bangun dari mimpi maju yg mundur…

  3. yanto says:

    Memang itulah esensi kehidupan. kita mengetahui sebuah kejadian setelah kejadian itu terjadi, segala kejadian yang telah menjadi iktibar buat kita untuk mengambil sisi baiknya. seuatu yang baik itu bukan dilahat dari sisi kepentingan, tapi kebaikan itu meberikan manfaat kepada orang lain. kita satu saudara marilah kita bangun daerah kita denga rasa persaudaraan yang telah kita bina dari nenek moyang kita yang terdahulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s