Pelayanan Kesehatan di Keo Tengah

Mungkin ini bukan kehendakku. Menyenangkan dan bangga  kalau kita tiba-tiba dipanggil oleh orangterkenal, berpengaruh, penguasa. Kita diberi kesempatan untuk melakukan sesuatu. Menjadi sok suci, saya mau menterjemahkan ini kemauan penguasa itu, Tuhan sendiri. Suatu malam sekitar jam 7 .00 WIB  Benyamin, putera bapa Saleman Mere penuh tata krama datang meminta bantuan saya menghantar seorang sakit. Dengan segera saya menghidupi Avanza menuju  Dokamboa, dua orang menuntun haji Husen masuk kendaraan. Saya menghantarnya ke Poliklinik di Maundai, ibukota Kecamatan Keo Tengah. Begitu  penumpang turun dari kendaraan, ada yang memberitahukan bahwa Yacob Ago juga sakit sedang diperiksa dokter. Dan tidak lama berselang  ada orang menuntun seorang pasien, Yacob Ago memasuki kendaraan saya. Malam itu saya membantu dua orang pasien sekaligus. Setelah menghantar Kakak Yacob Ago ke rumahnya, saya kembali ke rumah sakit menjemput Haji Husen.

Avanza hitam ini selain untuk kebutuhan pribadi saya, kendaraan ini telah bermanfaat bagi sesama, terutama pada pasien. Ketika saya sedang bermalam di Mauwedu ada permintaan kendaraan untuk menghantar teman kelas saya pak Yoseph Segho. Kebetulan Ance, putera dari Anton Mere  sudah membantu saya mengemudikan kendaraan ini. Dan saya memberi izin untuk menghantar pasien ke rumah sakit Ende. Seminggu setelah menghantar Yoseph Segho, Yacob Ago yang  masih sakit minta diantar ke RSU Ende. Suatu ketika saya  berkunjung ke saudari tertua  Mia Go’o di Aeramo, saya diminta menghantar ibu yang akan melahirkan ke puskesmas. Puskesmas Aeramo memberi rekomendasi ke Poliklinik Danga (Mbay). Para perawat di Poliklinik Mbay meminta kami menghantar pasien ke Bajawa. Dan kami akhirnya ke Bajawa didampingi seorang bidan. Sepanjang jalan yang terdengar hanya rintihan kesakitan seorang ibu yang akan melahirkan.  Kami sampai dengan selamat dan setelah menunggu beberapa waktu sang ibu melahirkan seorang bayi.

Selama di Flores saya mengalami masalah, lengan kiri saya sangat sakit tanpa sebab yang jelas. Hasil pemeriksaan dokter di poliklinik Danga menunjukkan tekanan darah saya diatas ambang aman. 200/90 tekanan darahku.  Saya kembali ke Jakarta naik pesawat terbang. Kendaraan Avanza yang saya kemudi seorang diri dari Jakarta sampai Mauromba ditinggalkan di Flores. Selama itu pasien demi pasien menggunakan kendaraan ini termasuk saudara Anton Mere, yang tinggal di Maumbawa minta diantar ke RSU Ende. Terakhir keponakan saya Jimy sangat tertolong dengan adanya mobil Avanza. Jimy sekarang dirawat di rumah sakit Lela.  Menurut dokter di Lela, Jimy perlu diperiksa oleh dokter ahli yang ada di Maumere. Pemeriksaan baru bisa dilakukan n setelah dokter ahli tiba dari Jakarta. Masih menunggu dua hari lagi.

Betapa sulit dan beratnya hidup masyarakat desa saya mendapatkan pelayanan kesehatan. Dokter adalah barang paling mewah di desa. Saya pernah menghantar puteri dari keponakan saya yang sakit. Dokter tidur, setelah menunggu lama akhirnya seorang perawat membantu dan kami diberi obat.  Pada kesempatan lain saya menghantar seorang pasien, mama Lena Sare ke Puskesmas di Maundai, dokter sedang berjalan-jalan pada sore hari. Kami menunggu dokter, yang sedang asyik menonton orang mencari siput di pantai. Dokter muda seorang wanita mungil bertanya-tanya sedikit dalam bahasa gado-gado Indonesia dan daerah.  Setelah pemeriksaan selesai kami membawa resep di ruang sebelah. Tablet lumayan banyak untuk sang pasien. Berapa hari kemudian saya mengalami demam karena infeksi pada luka di kaki saya. Luka dikaki akibat kecoret kerang tajam pada batu (tile dae) ketika berenang.  Saya menghadap dokter dan melewati upacara rutin tanya jawab. Dokter memberikan obat. Sempat saya menelan obat itu. Pada hari kedua saya teringat akan obat yang diterima mama Lena Sare. Saya mendatangi rumah mama Lena, berbasa basi bagaimana sudah menelan obat atau belum. Kemudian saya minta lihat sisa obatnya. Obat untuk kami ternyata sama  dengan penyakit berbeda.  Obat yang ada di puskesmas terbatas dan itu-itu saja. Saya mulai meragukan dan akhirnya berhenti menelan obat. Para perawat dan dokter di puskesmas Keo Tengah tak ada bedanya dengan tukang obat jalanan. Semua penyakit bisa disembuhkan dengan obat serba bisa.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s