30 Tahun Hidup Dalam Ikrar Pasangan

Ketika aku terjaga jam 03 dinihari ada tik tik bunyi  tetesan hujan jatuh dari genteng rumah menerpa beberapa benda di samping kamar. Kudapati isteriku masih nyenyak dalam mimpi. Sebuah tidur  nyaman seorang yang habis bekerja keras.  Dia pasti sudah lelah  mengabdi keluarga ini. Kelelapannya menyemangati  dan menguatkan saya, bahwa hidup bersama memberikan rasa aman.  Hari ini genap 30 tahun kami mengikrarkan janji sehidup semati dihadapan  para saksi.  Semati pasti jarang terjadi.  Bersama dalam hidup membutuhkan komitmen dari masing-masing. Seperti semua pasangan lebih banyak perbedaan dari pada persamaan yang harus kita bangun. Kami telah berjanji untuk menerima pasangan dalam suka dan duka hidup berdua.  Ikrar suci itu  dilakukan dalam sebuah upacara pernikahan sesuai iman kami di gereja santo Fransiskus Asisi Tebet, Jakarta pada tanggal 2 September 1979. Pernikahan dengan resepsi sederhana di aula paroki.

Pagi ini saya melakukan serangan fajar. Meminta doa dari teman-teman, yang pernah di Mataloko dan Ledalero..  Sapaan pertama datang dari teman saya Thadeus Mitan Pr. pastor paroki Langa, Bajawa. Seorang sahabat bisnis saya seorang Muslim menutup ucapan dengan kata hanya azal memisahkan ikrar berdua. Teman saya Thadeus menempatkan Tuhan mengawali ucapannya. “Tuhan, orang yang setia berpegang pada sumpah boleh berdiam di kemahMu. 30 tahun sudah teman Vitalis berziarah dalam ikatan cinta kasih hidup perkawinan dan keluarga dengan setia dalam suka dan duka. Cinta mekar dalam keluarganya. semerbak harumnya menyapa setiap orang yang mampir tak terkecuali kami teman-temanya. Syukur padaMuTuhan….”sebuah doa disusul ucapan selamat.  Aku berbunga dalam terima kasih dan syukur. Terima kasih dan Syukur pada Tuhan. Saya dan isteri menaikkan syukur itu dihadapan Tuhan dalam Misa pagi jam 6.00 WIB di gereja St. Aloysius Gonzaga.

Hari ini saya patut bersyukur. Tuhan telah memberi yang terbaik untuk kami. Ketiga orang puteri kami  telah menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.  Semuanya kuliah di Tri Sakti sebuah perguruan yang saya anggap punya nama di nusantara. Mereka mengawali pendidikan TK hingga SME di sekolah Katolik. Pilihan sengaja untuk membangun dasar kehidupan beragama. Tarakanita, Van Lith Muntilan dan Marsudirini adalah SMU Katolik tempat sekolah pilihan anak-anak kami.  Vera  dan Emi  menyelesaikan pendidikan ekonomi akuntansi. Emi sempat melanjutkan pendidikan  akuntasi di Universitas Indonesia. Meta baru wisuda  kesarjanaan bidang hukum tahun 2009. Pernikahan Vera dan Emi masing-masing di gereja St. Ignasius Gonzaga Cijantung memberi arti pada hidup kami sebagai orang tua. Bulan ini adalah bulan terakhir Vera menanti kelahiran anak pertamanya. Kami berharap dan berdoa semuanya berjalan lancar. Karena ini tentu memberi kebahagiaan luarbiasa. Seorang cucu pertama akan hadir melengkapi perjalanan saya dan Christine pasanganku. Syukur dan syukur adalah kata yang paling tepat kami hunjukkan pada Tuhan…..

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s