Menonton Ombak Menggerus Darat

Pada akhir tahun 2007 aku dan saudara-saudaraku yang berada di Jakarta semua balik ke kampung. Dan kami tiba-tiba menjadi pelancong di kampung halaman sendiri. Ada kegembiraan kampung kami yang biasa kelam tanpa cahaya, kini bersinar di malam gulita karena sejak ada kecamatan baru Keo Tengah sudah ada penerangan listrik di malam hari. Ada lalu lintas kendaraan beroda empat sehingga lalu lintas manusia dan barang menjadi mudah. Roda ekonomi terasa berputar di sana, hal yang tidak terpikir ketika masa kanak-kanakku.

Tanah-tanah yang dahulu tandus kini menjadi subur ditumbuhi berbagai tanaman ekonomi seperti jambu, cengkeh, vanili, kakao, merica dll. Secara ekonomi ada kemajuan disana. Peredaran uang semakin deras. Sayang  arus uang terbendung disana. Kebudayaan dan adat setempat bagaikan gundukan tanah dan batu yang menghambat laju kendaraan. Besar penghasilan tidak membuat mereka berkelimpahan. Masyarakat juga harus mengeluarkan uang untuk biaya adat selalu  setara dengan mudahnya mereka mendapat penghasilan.  Jumlah pengeluaran adat sejalan dengan sikap dan nilai mereka terhadap uang saat ini.

Ada lagi yang lebih memprihatinkan di sana. Lihat saja garis pantai selatan dari Maunura sampai Maunori. Masyarakat tidak berbuat apapun selain menerima apa adanya. Setiap hari hempasan ombak terus menggerus pantai. Garis pantai berpindah inci demi inci. Tahun 60an  bertebaran bangunan kuwu sie (pondok beratap daun kelapa) untuk masak garam. Masyarakat biasa merebus air laut untuk menghasilkan garam. Suatu usaha yang membutuhkan kerja keras mengumpulkan kayu, menimba air laut, memasak dan menunggu siang dan malam untuk menghasilkan garam putih. Garam sangat putih, halus dan bersih karena berasal dari laut dengan pantai batu yang selalu jernih dan bersih.

Kini pondok-pondok itu tidak ada lagi. Bukan karena tidak ada lagi orang yang memasak garam. Tetapi seluruh daratan yang biasa digunakan untuk membangun kuwu sudah digerus oleh hempasan ombak. Masyarakat tidak berdaya. Mereka juga tidak berbuat apa-apa. Kalau belajar dari Singapore atau Jakarta, maka sebetulnya masih ada cara untuk menghalangi gerus ombak laut merampas garis demi garis tanah pantai.

Menanam kembali pandan pantai, membuat bronjong dengan menanam kayu-kayu berupa balok kelapa pada saat pasang surut dan menimbun kembali dengan batu-batu bisa merupakan solusi. Pada pantai yang sudah sedikit lebih maju ke laut akan disisip tanah dan terus menanam pandan pantai. Masyarakat harus tidak menonton saja ombak menggerus darat. Perlu ada gerakan dari pemerintah.

Note: Tulisan ini telah dimuat dalam salah satu blog saya yang lain.

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s