Siswa SMU Bengga Berulah di Kamar Kos

Orang tua dari dua siswa tahun terakhir SMU Bengga mendapat surat panggilan menghadap. Hati duk dak menyertai sang bunda kedua anak. Tidak seperti biasa uang sekolah menjadi masalah. Kali ini pembicaraan sangat singkat, Kepala Sekolah menjelaskan segala persoalan dan menyerahkan ijazah SMP kedua anak. Tak kuasa menahan perasaan air mata membasahi pipi ibu kedua anak ini. Kedua anaknya dinyatakan tidak diperkenankan mengikuti ujian akhir SMU, yang tinggal sebulan lagi. Tidak ada toleransi dari pihak guru demi nama baik sekolah. Kedua anak ini sering kedapatan bermesrahan sampai berhubungan badan di kamar kos anak pria.

Masyarakat Keo memiliki kontrol sosial yang sangat tinggi. Urusan moral tugas semua orang.  Pihak Sekolah sebagai pusat edukasi tunduk pada kontrol sosial. Kedua anak  berusia muda ini harus menerima nasib. Siswa  putera seorang guru terkemuka dari Udi dan siswi puteri seorang berpengaruh  dari Maunori. Tidak saja berbeda kelamin, mereka juga berbeda keyakinan. Siswi Muslim dan siswa  Katolik.  Berbagai masalah antre panjang di saat nanti. Mereka pasti tak akan bisa diterima di SMU mana saja di wilayah ini. Karena harus mendapat referensi dari tempat sekolah terakhir. Pendidikan dan pemahaman moral guru di Flores menuntut berbicara transparan tanpa dusta. Nasi sudah jadi bubur. Mereka akan menjadi pasangan putus sekolah, yang pasti sulit meningkatkan taraf hidupnya di masa datang.

Kehadiran sebuah lembaga pendidikan di desa seperti Kecamatan Keo Tengah memberi pengaruh positif. Secara ekonomi kios penjualan kebutuhan pokok mendapat pasaran dan terus bertambah jumlahnya. Masyarakat sekitar sekolah menikmati tambahan uang belanja karena ada sewa kamar. Tetapi yang  jadi masalah adalah hubungan siswa dan siswi sering melampui batas wajar. Peristiwa memalukan seperti kedua pasangan pelajar ini menjadi tantangan baru bagi pendidik dan pemilik rumah kos. Dan pasti kecewa dan malu dirasakan orang tua kedua pelajar.

 

Advertisements

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 Responses to Siswa SMU Bengga Berulah di Kamar Kos

  1. Kris bheda says:

    ada dua hal yg dpt sy ptik dr kejadian memalukan di ats:
    Pertama,sprti yng om bilang mmg benar,kontrol sosial msti ditingkatkan.semua elemen mesti trlibat perangi maksiat.ini tnggung jwb sosial.
    Kedua, sbgai pribdi,msing2 shrusnya bsa kontrol diri,tahu diri,sadar posisi,shngga tdk salah melangkah.

  2. tanagekeo says:

    Kontrol sosial masyarakat memang semakin lemah. Yang lebih menonjol adalah sanksi sosial setelah semuanya terjadi.

    Peran dan wibawa guru juga lemah. Modernisasi merobah pola laku anak-anak. Guru hanya berperan di sekolah. Banyak siswa tegas menolak campur tangan guru di luar kelas.

  3. mosadaki says:

    hal ini mungkin biasa bagi para pelaku… dan luar biasa bagi masyarakat. tapi saya coba melihat dari perspektif lain. apakah kita sebagai orang tua menunjukan teladan yg baik? sy jujur berkata tidak. karena peristiwa serupa byk dilakukan oleh org2 tua kita di KEO. pepatah lama mengatakan guru kencing berdiri murid pasti kencing berlari. sy tdk bisa menyalahkan siapa2. tapi lebih menyalahkan kepada tokoh2 kita yang sedikit elitis dan terkesan feodal. karena sy sering terjun dengan ke kampung jd sedikit mengetahuio hal ini. tapi saya bangga kita memiliki kepedulian yang sama.

  4. mosadaki says:

    Tradisi yang tidak memberikan efek jera pada pelaku.
    Pasti kita kenal istilah poke sengga. hal ini dilakukan kepada para pezina mungkin seperti yg dilakukan oleh adik2 SMU Daja-Bengga. poke sengga ternyata tidak memberikan efek jera karena mereka masih tetap melakukan hal yg sama di waktu yg lain dengan para pelaku yg lain juga. apakah kita tidak bisa memberikan sanksi kepada para pelaku zina tersebut dengan tdk melibatakn diri pada setiap hajatan keluarga tersebut. sehingga mereka bisa berpikir 1000 kali sebelum mereka berbuat. dan pasti tindakan amoral bisa kita bendung laju perkembangannya. atau ide emba Om?

  5. tanagekeo says:

    Peristiwa ini sungguh sebuah pelajaran mahal. Saya mengangkat disini sebetulnya menampar wajah sendiri. Menyebar aib kita sendiri. Tetapi ini sebuah realita. Yang paling menentukan adalah bagaimana bersikap dalam menghadapi sebuah realita, yang terkadang pahit tak tertelan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s