Kematian Dalam Budaya Keo

Tulisan ini merupakan tanggapan komentar seorang sahabat blogger tentang arti mata ree dalam bahasa Keo. Kematian itu jelek (ree). Tidak seperti kelahiran, ghako (sambut), karena sang bayi disambut dengan sukacita. Kelahiran  sungguh dinantikan dan terpenuhnya sebuah harapan. Lahir dalam bahasa Keo dhadhi atau ghako ana. Tetapi dhadhi lebih kasar dan umum dikenakan pada hewan ternak. Kelahiran seorang bayi disebut ghako ana (menimang anak). Ghako berarti menyambut dengan mengulurkan kedua tangan terbuka lebar lalu memeluknya. Peristiwa kelahiran merupakan pesta penyambutan. Banyak orang datang menyaksikan, sang ibu disediakan makanan khusus. Orang Keo pasti menyiapkan  uwi lame (bubur khas bercampur ubi tali). Dan sang ibu selalu dibantu oleh anggota keluarga untuk lame ae ana, tau lame ae ana untuk mengolah bubur khusus demi produksi asi bagi sang bayi. Ibu yang baru melahirkan  dijaga dan mandi air hangat dicampur ramuan. Disusul dengan pesta sederhana tau dhodho ana (pesta turun tanah). Ada syukuran, pada saat itu sang ibu sudah dianggap kuat untuk mengurus diri. Kelahiran memang dirindukan dan membuat orang mengangkat puji dan syukur.

Kematian, mati atau mata dalam bahasa Keo. Kematian selalu dikaitkan dengan sesuatu yang tidak diharapkan. Kematian memang membawa duka cita. Kematian harus dijauhkan. Seluruh aktivitas dalam kehidupan manusia sesungguhnya adalah usaha untuk bertahan hidup dan menikmati kehidupan dunia ini. Kematian dianggap sesuatu yang jelek dan dalam bahasa Keo artinya ree. Orang Keo selalu melihat peristiwa kematian sebagai musibah, suatu yang tak diharapkan, sesuatu yang jelek (ree). Karena itu disebut mata ree. 

Kematian disambut dengan penuh duka cita. Duka tidak saja bagi keluarga. Bagi orang Keo kematian adalah duka seluruh warga.  Semua diundang ke rumah duka dengan meriam bambu, yang meledak meletup sayup. Sadar bahwa kematian adalah nasib, orang menganggap sebagai panggilan ilahi. Kematian seperti sebuah kelahiran kembali. Makanya orang Keo menanggapi kematian sebagai tama tuka ine (kembali kerahim bunda).  Dan ini sangat sejalan dengan pemahaman iman orang beragama, kematian adalah kembali kepangkuan yang ilahi. Semuanya harus diterima sebagai sebuah jalan menuju kesatuan abadi dengan Allah yang maha rahim. Tama tuka ine, wado ena Nggae.  Kembali memasuki  rahim sang  Bunda dan balik kepada Pemiliknya sang Pencipta. Sebagai manusia yang selalu ingin menikmati kebersamaan dengan kaum kerabat, kematian tetap sebuah takdir menyakitkan. Ada perpisahan abadi, tidak pernah berjumpa dan berkontak lagi. Dari sisi ini kematian ditanggapi sebagai mata ree. Ree, jelek menyesakkan, menoreh luka dan duka hati kaum kerabat yang mencintainya. Karena begitu menyakitkan danmenyisakan duka yang sangat dalam maka itu yang paling diingat. Sehingga kita selalu mendengar kata mata re’e

 

 

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in ADAT & BUDAYA. Bookmark the permalink.

2 Responses to Kematian Dalam Budaya Keo

  1. yanto says:

    KEMATIAN MEMANG MEMBERIKAN KESAN DUKA CITA YANG MENDALAM BAGI KAUM KERABAT YANG DITINGGALKAN, KEMATIAN MERUPAKAN AWAL DARI JALAN MENUJU KEHIDUPAN YANG ABADI. WALAU JASAD TERMAKAN OLEH TANAH TAPI RUH TETAP HIDUP ABADI DAN AKAN MEMPERTANGGUNGJAWABKAN APA YANG DI BUAT SELAMA DIA HIDUP DI DUNIAN.

  2. tanagekeo says:

    @Yanto: TErima kasih atas tanggapannya. Orang Keo percaya bahwa masih ada hubungan dengan orang yang sudah meninggal. Saya masih mendengar mama saya bilang: Ame, jao leku bapa kau,imu mae tau susa kami. Sira ta mata mudu re’e do’e , ta mera papa ndala mai sipo ri’a sagho modo ana embu ta dhato wawo tana.” Atau jao pernah dengar weta jao ta wadu pernah mengatakan ketika anaknya sakit. Dalam kegelapan malam diterangi pelita lapu tita imu niu ata mata ine ne’e aki imu ta mata mudu, imu wuku embu-embu imu. Dan weta jao merasa nyaman dan terasa ada kehadiran mereka di pintu dan sudut kamar yang remang berpenerangan lapu tita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s