IBU SAKIT

Jam kerja kantor belum usai.  Posisi dan hak-hak istimewa memberi privilese  dan aku jadi pengatur waktu.  Kendaraan B 117 OI melintasi gerbang  pabrik setelah ditabik petugas keamanan berseragam. Untuk mempermudah menyapa kenalan di jalan aku rela mengorbankan pengatur suhu udara. Jendela dibuka. Seorang bapa bercelana pendek kusam bertelanjang dada datang menyapa. ” Ibu sakit”. Tangannya segera menggapai dada kiri saya, memberikan pemahaman bahwa ibu sakit dengan separuh badan mati rasa.

Setelah memarkir kendaraan, aku memasuki rumah ibu Ati didampingi suaminya.  Ibu Ati terbaring di lantai berselimutkan beberapa potong kain batik. Mengenaskan. Bertelanjang dada, sebahagian kaki tersingkap tak terjaga. Bersikap sebagai anak  beradab aku menggapai selembar  batik  merapihkan yang tak layak tampil. Ada biskuit dan minuman botol di samping kanan yang masih bisa digerakkan. Dua lembar uang kertas dua puluh ribu dan  uang kertas  merah sepuluh ribu disampingnya. Kami bersalaman. Ibu terjatuh dan mengalami mati rasa bagian kiri separuh badan.  Ibu Ati berusia rata-rata orang Indonesia menanti sapaan kerahiman Ilahi. Semua orang di kantor saya menyebut bapa dan ibu penghuni rumah ini sebagai bapa dan ibu saya. Keduanya tidak memiliki anak. Ibu Ati sempat mempunyai seorang anak dengan suami pertama. Keduanya telah tiada. Ibu Ati dan suami yang sekarang Tuhan hanya memberikan kebutuhan nafkah kecuali anak. Ada sawah, kebun buah, sapi dan masih ada lagi. Menurut bapa masih ada beberapa kilogram emas. Ibu Ati yang sehari-hari hidup bersahaja dan mengarit rumput untuk sapi, pada saat ada hajatan tubuhnya menjadi etalase emas bergerak. Kalung emas besar dengan gantungan pemantas dari emas berukuran ekstra.  Mengenakan beberapa gelang emas cukup berat di kedua pergelangan.  Dan masih ada beberapa lagi  yang tak  kuat termuat di etalase berjalan ini. Ini tanda orang berada.

Saya berusaha menguatkan dengan mengatakan bahwa ibu termasuk yang luarbiasa. Bersyukur ibu bisa bertahan. Semoga ibu cepat sembuh. Ibu hanya bisa bersuara lemah. Menurut bapa beberapa hari dia tidak bisa bicara. Ibu Ati mengalami tekanan darah tinggi selama ini. Semangat kerja tidak ada yang bisa menghalang. Mengarit rumput sapi, menjemur padi dan masih seabrek urusan. Di samping dapur ada kandang sapi. Ibu Ati selalu menyisakan waktu untuk menyapa sapi ternak piaraannya seperti berbicara pada seorang sahabat. Ia sering menepuk pundak hewan piaraannya , mengelus  sayang seperti pada anak. Ketika  memasuki ruang dalam disamping dapur kujumpai  tempat menyan dan sebuah patung wayang usang tempat sang kakek memuja. Timbunan karung padi tersusun menggapai loteng kamar.

Ibu Ati dan suami warga sekitar tempat usaha kami. Mereka adalah orang yang sering saya sapa dan bertandang untuk menjalin silaturahim. Keduanya memiliki lahan  cukup luas menurut ukuran warga sekitarnya. Hasil panen padi dan buah rambutan serta jualan ternak melampaui kecukupan pangan dan sandang. Uang mereka tabung  di bank dan setiap hari raya seorang  pegawai bank datang menyerahkan seluruh keuangan termasuk bunga, membuktikan bahwa uangnya memang ada. Padahal ada udang dibalik celana petugas bank. Bapa merasa bangga mengambil uang secukupnya dan minta disimpan kembali bagian sisa terbanyak dalam kas bank. Sang petugas mendapat imbalan jasa, lumayan buat berhari raya bersama isteri anak. Orang pandai memintari orang bersahaja. Bapa mengungkapkan jumlah uang yang tersimpan dalam tabungan bank. Sangat banyak, yang membuat saya berkali-kali mengusulkan agar segalanya bermanfaat bagi sesama. Semuanya tidak digubris bapa.  Beberapa kilo emas yang dia percayakan pada seorang China pedagang emas. Atas anjuran sang pedagang, teruskan  hidup  sederhana. Jangan pamer harta. Nasehat bijak dari  saudagar pintar. Bapa dan ibu mepertahankan hidup bersahaja. Karena dengan itu tidak ada banyak tuntutan yang akan mengganggu semua modal kerja sama dagang.

Usulan banyak tetangga untuk menjual sebidang tanah dan pergi menunaikan ibadah. Bapa berapi-api berkisah tentang masa anak dan remajanya di Cirebon. Dia pernah dilecehkan saudara, terabaikan. Hanya dengan pakaian di badan meninggalkan kampung halaman. Membawa pilu pergi sambil mengucap janji dalam hati ” saya ingin mempunyai lahan sebanyak-banyaknya.”  Niat dan ikrar hati mendorongnya pergi. Jakarta menjadi tanah terjanji. Setelah bertualang kesana kemari mencari sesuap nasi, seorang janda ibu Ati menarik perhatiannya. Sang bapa menikahi ibu Ati. Tekad hati memperbanyak harta dan lahan tercapai. Tak akan ada usulan yang bisa menggoyakan hati sang bapa. Tak akan pernah ia melupakan dukanya tak diwongkan saudara. Karena semuanya membuat dia memiliki segalanya. Tak pernah terlintas di benaknya menjual atau menggadai harta. Tak boleh ada yang berkurang, yang terus dipikirkan dan diusahakan ada bertambah hartanya.

Hampir setiap hari pasangan tua ini mengarit rumput sapi. Saya membuat nota buat petugas sekuriti pabrik agar mereka bisa mengarit rumput di lahan sisa di dalam komplek pabrik. Nasehat saya untuk menggunakan tenaga tetangga dengan sewa sekedarnya tidak pernah ditanggap. Ibu menjawab dengan lantang: “Ibu harus terus bekerja keras biar ngeresap.”  Kerja sebagai pernyataan eksistensi diri. Karena itu kerja dilakoni dengan gembira. Berkeringat dan berlelah tidak dianggap beban. Karena semua diresapi sebagai kenyamanan hidup. Kini telah sepuluh hari ibu Ati terbaring tak berdaya. Tanah, emas dan segala harta tidak kuat menahan kehendak Yang Kuasa. Saya hanya bisa menghibur dan berkata: Ibu kuat, sehat lagi. Saya mohon pamit karena ada janji”. Hatiku cemas  dan pasrah pada yang kuasa.  Saya meninggalkanya sambil berucap nanti ketengok bu Ati lagi.

 

About Ata Lomba

Nagekeo kabupatenku. Keo Tengah Kecamatanku. Maunori tempat ari-ariku. Mauromba tempatku belajar merenangi laut Sawu dan melewati Sekolah Dasar. Mataloko dan Ledalero almamaterku. Jakarta tempat ku berlabuh.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s